
Faiz menunggu di depan ruangan operasi dengan cemas, Aleeya melalui persalinan dengan operasi sesar karena telah pecah air ketuban. Dokter menyarankan untuk diambil tindakan operasi agar jabang bayi dapat segera terselamatkan.
Bi Sumi duduk disamping Faiz sambil menangis, selain bi Sumi Aleeya tidak mempunyai siapa-siapa lagi dari keluarga Wijaya.
“Tuan yang sabar, non Aleeya pasti selamat. Kita hanya harus berdoa kepada Allah, tuan” kata bi Sumi kepada Faiz.
“Iya bi, saya sangat takut mengenai keadaan Aleeya. Dia sedang bertaruh nyawa di dalam sana” jawab Faiz sedih.
Natasya segera ke rumah sakit setelah mendapat telpon dari Faiz bahwa Aleeya tengah berada di ruang operasi untuk persalinan, ia sangat khawatir.
“Faiz” panggil Natasya.
Faiz menatap Natasya yang baru sampai di rumah sakit, raut wajah Natasya terlihat cemas.
“Bagaimana keadaan Aleeya?” tanya Natasya.
Faiz menggeleng. “Dokter belum memberitahu kak, saat ini operasi tengah berlangsung” jawab Faiz sedih, hatinya kelu.
Natasya mengusap bahu Faiz memberikan kekuatan, ia tahu saat ini Faiz sangat terpuruk.
“Kak, tolong awasi Aleeya. Aku mau ke mushola dulu” kata Faiz kemudian berlalu.
Natasya mengangguk tanda mengerti.
Faiz menuju mushola rumah sakit, jalannya gontai ia seperti tidak mempunyai semangat hidup.
Faiz masuk ke kamar mandi mushola, ia mengambil air wudhu. Setelah selesai ia memasuki mushola dan melakukan sholat dua rakaat, ia berdoa kepada Allah agar Aleeya dapat melalui operasinya dengan lancar dan buah hati mereka dapat terselamatkan.
Setelah selesai sholat dan berdoa, Faiz kemudian membaca Al-Quran dari handphone. Ia mencoba menenangkan dirinya dan meminta pertolongan dan petunjuk Allah SWT, ia memasrahkan semuanya kepada sang Maha Kuasa.
Setelah hatinya sudah cukup tenang, Faiz kemudian menuju ruangan operasi Aleeya lagi.
“Faiz sayang” panggil buk Sanjaya.
Buk Sanjaya kemudian memeluk Faiz hangat, tampak dari wajah ibunya raut kesedihan. Dapat Faiz lihat air mata mengalir dari sudut mata wanita paruh baya itu.
Sanjaya merangkul pundak putra satu-satunya itu, ia mencoba menenangkan kecemasan putranya.
“Sabar iz, Aleeya pasti selamat” kata Sanjaya mencoba menghibur Faiz.
Faiz mengangguk. “Aleeya pasti selamat, dia adalah wanita yang kuat” kata Faiz, tanpa sadar air matanya menetes ketika mengatakan kalimat itu.
Sungguh ia ingin Aleeya selamat dan menjalani hari-hari bersama istrinya itu.
“Oekkkk… Oekkk”
__ADS_1
Terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan, semua yang ada disitu berucap syukur, anak pertama Faiz dan Aleeya telah lahir ke dunia.
Tak berapa lama kemudian dokter keluar dari ruangan operasi, Faiz segera beranjak menjumpai dokter.
“Bagaimana keadaan istri saya dok?” tanya Faiz khawatir, ia takut terjadi apa-apa dengan istrinya.
Dokter tersenyum. “Alhamdulillah operasinya berjalan lancar dan keadaan istri anda baik-baik saja. Selamat saya ucapkan, Anda telah menjadi seorang ayah dari anak perempuan yang cantik” kata dokter menjelaskan.
Faiz tersenyum haru, ia sangat bersyukur. “Terima kasih yaa Rabb” batinnya.
Semua orang yang ada disitu mengucap syukur kepada sang Khaliq, tangisan haru menggema di lorong rumah sakit.
“Boleh saya lihat istri dan anak saya dok?” tanya Faiz.
"Silahkan pak, tapi harus satu-satu. Kondisinya belum sepenuhnya membaik.
Faiz mengerti tak lupa ia mengucapkan terima kasih kepada dokter itu.
Faiz memasuki ruangan operasi dengan memakai baju yang telah disediakan, air mata Faiz mengalir perlahan di pipinya. Suster memberikan seorang bayi perempuan yang cantik kepadanya, Faiz pun kemudian segera beriqomah di telinga putri kecilnya itu.
Aleeya yang mendengar suara Faiz merasa haru, air mata juga mengalir deras di pipinya. Kebahagian telah mendatangi keluarga kecil itu, Aleeya sangat bersyukur.
Faiz kemudian memberikan bayi perempuan itu kepada suster untuk dibersihkan terlebih dahulu. Faiz kemudian memandang wajah Aleeya yang tampak pucat.
“Terima kasih sayang” kata Faiz sambil mencium kening Aleeya. “Terima kasih telah melengkapi kebahagiaanku dengan melahirkan anak kita dengan selamat” lanjut Faiz.
“Apakah kakak telah mempersiapkan nama untuknya?” tanya Aleeya.
Faiz tersenyum. “Aku telah mempersiapkan nama untuk bayi perempuan kita” kata Faiz.
“Siapa kak?” tanya Aleeya penasaran.
Faiz terkekeh, Aleeya masih sama seperti dulu, selalu menggemaskan.
“Mau tau atau mau tau banget?” goda Faiz.
“Kakak” kata Aleeya cemberut, tangannya mencubit siku Faiz.
"Iya, iya… " jawab Faiz. “Namanya Syifa Zahra Al-Faiz” lanjutnya.
“Al-Faiz?” tanya Aleeya.
“Iya, Al-Faiz. Itu aku ambil dari nama aku sayang” jelas Faiz. “Bukan keluarga Wijaya, bukan keluarga Sanjaya. Dia keluarga kita, keluarga Al-Faiz” sambungnya.
Aleeya tersenyum tanda mengerti. “Apa artinya kak?” tanya Aleeya.
__ADS_1
“Syifa artinya obat, Zahra artinya bunga atau nama dari Fatimah Az-Zahra putri Rasulullah dan Al-Faiz adalah nama aku, artinya pemenang” jelas Faiz panjang lebar.
“Cantik sekali namanya kak” kata Aleeya kagum. “Aku harap ia akan tumbuh sesuai namanya, ia akan menjadi obat bagi sekitarnya, akhlaknya seperti putri Rasulullah dan dia bisa menjadi pemenang melawan nafsunya” sambung Aleeya.
Faiz tersenyum sambil mengamini. “Aamiinn” jawab Faiz.
“Sebentar pak, kami akan memindahkan buk Aleeya ke ruangan pasien” kata suster kepada Faiz.
Faiz mengangguk. “Silahkan sus” jawab Faiz.
Faiz, bi Sumi, Natasya, Sanjaya dan juga istrinya memasuki kamar Aleeya. Aleeya tengah memberikan ASI untuk putri kecilnya, semua orang tampak terharu sekaligus bahagia.
“Cantik sekali” kata buk Sanjaya, matanya berkaca-kaca.
Dari hati buk Sanjaya yang paling dalam, ia sungguh sangat terharu dan bahagia. Ini adalah momen yang sudah lama ia nanti-nantikan, kehadiran cucu pertamanya sangatlah ia tunggu.
Begitu pula Sanjaya, momen spesial ini sangat membuat hatinya tersentuh. Sudah lama sekali ia merasakan saat seperti ini, tepat 24 tahun yang lalu ketika kelahiran anak terakhirnya, Faiz.
Bi Sumi dan Natasya juga sangat bahagia melihat bayi mungil itu dapat hadir di dunia, menemani hari-hari kedua orang tuanya. Ia ingin sekali cepat memiliki anak, ia ingin memiliki bayi mungil seperti itu. Pasti sungguh bahagia.
Buk Sanjaya teringat akan janjinya dengan pria asal Jerman itu, ketakutan menggerogoti hatinya. Ia tidak tega mengambil kebahagiaan keluarga kecil ini, sisi keibuannya tidak tega.
Buk Sanjaya kemudian izin keluar sebentar karena ada urusan yang harus ia tuntaskan, ia kemudian menarik tangan suaminya.
…
Di luar kamar pasien, buk Sanjaya meremas ujung bajunya. Ia sangat khawatir, segala rasa beradu di dalama benaknya.
Sanjaya dapat mengerti maksud dari istrinya itu, ia juga merasakan ketakutan yang sama.
“Bagaimana ini?” tanya buk Sanjaya.
Sanjaya menaikkan pundaknya tanda tidak tahu, hatinya bimbang.
“Aku tidak tega” kata Sanjaya.
Buk Sanjaya juga mengangguk mengiyakan. “Aku juga, semua tidak sesuai ekspetasi. Aku tidak mampu memisahkan mereka, mereka adalah keluarga yang bahagia” kata buk Sanjaya.
“Akan sangat berdosa jika kita melakukannya” lanjut Sanjaya.
Entah apa yang membuat sepasang suami-istri itu tidak tega hendak memisahkan keluarga kecil yang harmoni itu, sungguh kehadiran bayi mungil itu merubah segalanya.
.
.
__ADS_1
.
MENGGAPAIMU