
Viktor terlihat tengah sibuk membolak-balik laporan bisnisnya yang belum tersentuh sama sekali, seharian ini fokusnya teralih pada kondisi Aleeya.
"Tuan, apakah anda membutuhkan sesuatu?" tanya Arthur.
"Tidak, pergilah. Aku sedang sibuk" jawab Viktor.
"Baik tuan" jawab Arthur kemudian meninggalkan ruang kerja Viktor.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, tapi pekerjaan Viktor belum kunjung selesai.
"Ah capek sekali" keluh Viktor, ia membuang napas kasar. Dibukanya kacamata yang sedari tadi menemani dirinya, wajah tampan itu terlihat sangat lelah.
Tok... Tok... Tok...
"Tuan, ini saya Alice" kata seorang wanita dari balik pintu.
"Masuklah! " perintah Viktor.
Alice kemudian masuk ke dalam ruangan.
"Ini teh yang tadi tuan minta" kata Alice sembari meletakkan secangkir gelas di atas meja.
Setelah meletakkan teh, Alice masih berdiri dihadapan tuannya.
"Ada apa?" tanya Viktor. "Ada yang ingin kau sampaikan Alice?" lanjutnya.
Alice masih diam, raut gelisah terlihat dari wajahnya.
Melihat itu Viktor mengerutkan dahinya. "Katakanlah!" perintahnya.
"Tuan, bagaimana kondisi nona Aleeya?" tanya Alice akhirnya.
"Hem, dia masih belum sadar" jawab Viktor dingin.
"Apakah saya bisa melihatnya?" tanya Alice lagi.
Viktor melihat Alice sambil mengangkat sebelah alisnya. "Apa kau khawatir?" tanyanya.
Alice yang ditanya begitu, langsung terdiam.
"Baiklah, ikut denganku besok ke rumah sakit" kata Viktor.
"Baik tuan" balas Alice kemudian beranjak keluar ruangan.
Ada sedikit kelegaan di hati Alice karena Viktor mengizinkannya untuk menjenguk Aleeya.
Setelah kepergian Alice, Viktor kembali sibuk dengan beberapa laporan yang belum terselesaikan. Ia berencana untuk menyelesaikan laporan itu secepatnya.
...
Pagi mulai menyapa bumi, sinar matahari masuk dari sela-sela jendela. Seorang pria tampan sedang tidur dengan damai dengan wajah bertumpu di atas meja kerja, sepertinya ia sangat kelelahan.
"Tok... Tok... Tok..."
Suara ketukan pintu terdengar, tapi tidak sampai ke telinga pria itu.
"Tok.... Tok... Tok... "
Suara ketukan pintu kembali terdengar.
"Tuan, ini saya Arthur" kata seorang pria paruh baya dari balik pintu tersebut.
Masih tidak ada jawaban.
"Tok... Tok... Tok"
Suara ketukan ketiga terdengar lebih keras.
"Ah, siapa yang mengganggu tidurku?!" racau Viktor, pria tampan itu sepertinya marah karena tidur nyenyaknya harus berakhir di sini.
__ADS_1
"Tuan, ada kabar tentang nona Aleeya" kata Arthur dengan suara sedikit keras.
Viktor yang mendengar itu langsung berdiri. "Apa?! Masuklah Arthur!" perintahnya.
Arthur kemudian masuk ke ruang kerja Viktor, dilihatnya meja kerja yang sangat berantakan. Tuannya benar-benar bergadang tadi malam.
"Ada apa?" tanya Viktor serius.
"Nona Aleeya sudah sadar" jawab Arthur.
Mendengar kabar itu Viktor segera bersiap untuk pergi, ia berlalu melewati Arthur hendak keluar ruangan.
"Tuan tunggu" kata Arthur.
"Ada apa?" tanya Viktor, ia terlihat sedang terburu-buru.
"Tuan, alangkah baiknya anda berganti baju dahulu" jawab Arthur, ia benar-benar heran bagaimana mungkin tuannya dapat pergi dengan wajah dan baju kusut seperti itu.
Viktor yang mendengar itu melihat sekilas dirinya, benar-benar kacau.
"Baiklah, tunggu aku di lantai bawah" kata Viktor kemudian berlalu.
Arthur tersenyum dengan mengangkat sedikit ujung bibirnya, mendengar kabar nona Aleeya ternyata dapat membuat tuannya sampai seperti ini. Padahal Viktor yang dia tahu adalah pria tampan yang selalu memperhatikan penampilannya, maka tidak heran jika banyak wanita yang ingin mendapatkannya.
"Tuan, aku harap anda dapat menemukan kebahagiaan" kata Arthur dalam hati kemudian beranjak pergi.
Setiba di rumah sakit, Viktor, Arthur dan juga Alice segera memasuki ruangan Aleeya. Terlihat Aleeya sedang duduk di tempat tidur sambil mendengar ucapan dokter yang menanganinya. Melihat wajah Aleeya yang sudah siuman membuat amarah yang kemarin ia tahan karena Aleeya mencoba kabur darinya muncul kembali.
"Apa kau tidak waras?! Kenapa kau..." belum sempat Viktor menyelesaikan kata-katanya, Aleeya berkata menimpali.
"Siapa kau? Kenapa kau memarahiku?" potong Aleeya sambil menatap tajam Viktor.
Viktor yang mendengar perkataan Aleeya terlihat terkejut. "Apa? Apa yang barusan kau katakan?!" teriaknya marah.
Aleeya masih menatap tajam pria didepannya ini.
Mendengar itu Viktor segera keluar, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Katakan! Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Viktor tidak sabar.
"Nona Aleeya mengalami kerusakan sistem limbik di bagian otaknya karena benturan yang sangat keras, beliau mengalami Amnesia Retrograde" jelas dokter.
"Apa maksudnya itu?" tanya Viktor.
"Maksudnya adalah nona Aleeya saat ini sedang kehilangan sebagian besar ingatannya, amnesia ini mengakibatkan penderitanya tidak dapat mengingat kejadian yang terjadi beberapa tahun terakhir. Beberapa kasus juga menyebabkan kehilangan ingatan masa lalunya" jelas dokter.
Viktor mengangguk mengerti, itulah sebabnya kenapa Aleeya tidak mengenali dirinya.
"Untuk saat ini biarkan nona Aleeya untuk beristirahat, jangan memaksanya untuk mengingat sesuatu dulu" kata dokter tersebut.
"Baiklah" balas Viktor cepat.
Dokter kemudian masuk kembali ke ruangan Aleeya untuk memberinya obat dan memeriksa kondisinya lebih lanjut, sementara Viktor masih berdiri di luar ruangan.
Viktor tampak sedang berpikir, apa yang harus ia lakukan kepada Aleeya sekarang?
"Tuan" panggil Arthur yang sejak tadi berdiri di samping Viktor, ia seperti tahu apa yang sedang mengganggu pikiran tuannya saat ini.
"Maaf jika saya lancang, tapi apakah saya boleh memberi saran?" tanya Arthur.
"Saran apa?" tanya Viktor. "Katakanlah!" lanjutnya.
"Mengenai kondisi nona Aleeya, apakah tuan masih berencana membalas dendam?" tanya Arthur lagi.
"Tentu saja!" jawab Viktor dingin.
"Bagaimana kalau tuan memanfaatkan kondisi nona Aleeya saat ini, bukankah nona tidak mengingat apapun yang terjadi beberapa tahun terakhir?" tanya Arthur.
Dahi Viktor berkerut. "Katakanlah yang jelas Arthur!" perintahnya.
__ADS_1
"Jadilah suami yang baik untuknya tuan" jawab Arthur.
"Apa kau sudah gila?!" bentak Viktor marah. "Saran macam apa ini!" lanjutnya.
Arthur menghela napas kasar, tuannya ini benar-benar pemarah.
"Maksud saya, tuan cobalah untuk menjadi suami yang baik untuk nona. Buatlah dia jatuh cinta kepada tuan, setelah itu hancurkan hatinya. Apalagi yang lebih mengerikan dari itu untuk seorang wanita, tuan?" jelas Arthur.
Viktor tampak berpikir keras, saran Arthur boleh juga.
"Panggil Alice ke sini!" perintah Viktor.
"Baik tuan" jawab Arthur kemudian membawa Alice ke hadapan tuannya.
"Ada apa tuan memanggil saya?" tanya Alice.
Viktor kemudian menjelaskan keadaan Aleeya.
"Apa? Nona Aleeya mengalami amnesia?" tanya Alice kaget.
"Iya" jawab Viktor. "Tapi bukan itu intinya, yang mau kukatakan adalah kau harus bersikap baik padanya mulai sekarang" lanjutnya.
Alice masih diam tanda tak mengerti. Melihat raut wajah bingung Alice, Viktor pun menjelaskan rencananya dengan Arthur tadi.
"Oh begitu, baik tuan" kata Alice mengerti.
"Baiklah, karena semua sudah mengerti, kita mulai rencana ini sekarang" kata Viktor menyeringai, ada sebuah senyuman di wajahnya yang sulit untuk diartikan.
"Baik tuan" jawab Arthur dan Alice bersamaan.
Setelah itu Viktor masuk kembali ke ruangan Aleeya dan diikuti oleh Alice, sedangkan Arthur masih diam di tempat.
"Tuan, semoga sebelum kau sempat membalaskan dendam, hatimu sudah menemukan kebahagiaannya" batin Arthur kemudian memasuki ruangan.
"Kenapa kau masuk lagi?" tanya Aleeya ketika melihat Viktor, ia bertanya-tanya di dalam hati siapa pria kasar ini.
"Maafkan aku sayang, aku sangat khawatir dengan kondisimu" kata Viktor sedikit lembut, tapi kesan dingin masih ada.
Sayang?! Aleeya terlihat kaget mendengarnya.
"Sayang? Apa maksudmu?" tanya Aleeya penasaran.
"Apakah kau melupakanku istriku? Aku adalah suamimu" jawab Viktor.
"Ha?! Suamiku?" tanya Aleeya masih tak percaya.
"Arthur, perlihatkan foto pernikahan kami!" perintah Viktor.
Arthur kemudian memberikan kepada Aleeya foto-foto pernikahannya dengan Viktor melalui handphone. Aleeya mengamati foto itu satu persatu, benar saja itu adalah wajahnya.
"Jadi kita sudah menikah?" tanya Aleeya.
"Tentu saja sayang, kita kan saling mencintai" jawab Viktor. "Aku sangat mengkhawatirkanmu" lanjutnya sambil memeluk pelan Aleeya.
Aleeya masih bingung, kenapa ia tidak mengingat apa pun. Saling mencintai? Tapi mengapa ia tidak merasakan apa pun kepada pria ini.
"Jangan banyak berpikir dulu sayang, kau harus istirahat" kata Viktor sambil tersenyum, ekspresinya terlihat datar.
"Tuan, bisakah lebih natural?" batin Arthur. Tuannya ini memang pria dingin.
"Baru kali ini aku melihat Viktor seperti ini" batin Alice, terlihat sebuah senyuman terbit di wajahnya.
.
.
.
MENGGAPAIMU
__ADS_1