
"Apa kau buta? Cepat bereskan ini!" teriak Viktor kepada Aleeya.
Aleeya tak sengaja memecahkan gelas yang sedang dibawanya untuk Viktor, fokusnya sekejab teralih dan berakhir dengan ia harus mendengarkan teriakan marah pria itu.
"Cepat bereskan!" teriak Viktor lagi.
Aleeya bergegas berjongkok untuk memunguti pecahan gelas, hingga tanpa ia sadari sebuah kaki besar menginjak punggung telapak tangannya.
"Aww" ringis Aleeya.
"Haha... Sakit?" tanya Viktor sambil tertawa.
"Iy... Iya tuan" jawab Aleeya lirih.
Melihat raut kesakitan dari wajah Aleeya membuat Viktor senang, ia semakin memperkuat pijakannya.
"Tuan tolong angkat kaki anda" pinta Aleeya sambil meringis kesakitan, darah segar mengucur dari telapak tangannya. Rasanya perih.
Viktor menatap benci Aleeya. "Ini tidak seberapa dari apa yang telah ayahmu lakukan kepadaku!" tukasnya kemudian berjalan melewati Aleeya.
Aleeya hanya diam sambil menahan rasa sakit di tangannya, apa yang telah dilakukan Viktor sudah melukai fisik dan hatinya.
Sambil menahan sakit, Aleeya berjalan menuju dapur untuk mencari kotak P3K. Setidaknya saat ini ia harus menyayangi dirinya sendiri.
"Alice, apakah ada kotak P3K?" tanya Aleeya kepada Alice yang sedang sibuk memasak.
Alice sekilas tampak terkejut dengan darah yang masih mengalir di tangan Aleeya, tapi segera ia pasang kembali raut wajah datar.
"Ini" kata Alice sambil memberikan kotak P3K. "Segera obati lukamu" lanjutnya kemudian kembali memasak.
Aleeya mengambil kotak P3K yang diberikan Alice, lalu perlahan mengobati luka di tangannya. Tanpa sadar bulir hangat sudah memenuhi matanya, ia meratapi nasib yang menyedihkan ini.
"Sampai kapan aku bisa bertahan?" tanya Aleeya dalam hati. "Aku ingin pergi dari sini" lanjutnya.
Hari demi hari perlakuan Viktor kepada Aleeya semakin menjadi-jadi, ia seperti tidak memiliki belas kasihan. Kesalahan sekecil apa pun yang dilakukan Aleeya bisa menjadi murka bagi Viktor. Rasanya sangat sesak jika terus berada di sekitar pria itu.
"Aleeya" panggil Alice. "Greta sudah datang, dia sudah menunggumu di bawah" lanjutnya.
"Baik Alice" balas Aleeya.
Aleeya segera turun ke bawah, sama seperti hari-hari biasanya ia akan belajar bahasa Jerman. Baginya bertemu dengan Greta menjadi hiburan tersendiri dari dinginnya orang-orang di rumah ini, mungkin karena Greta memberikan kenyamanan dan kasih sayang layaknya seorang ibu kepada anaknya.
"Aleeya, bagaimana kabarmu?" tanya Greta sambil tersenyum.
"Aku baik" jawab Aleeya tersenyum simpul.
Greta memperhatikan balutan di telapak tangan Aleeya, kemudian memeriksanya.
"Kenapa tanganmu?" tanya Greta panik.
"Ini hanya luka kecil Greta" jawab Aleeya santai. "Tidak perlu khawatir" lanjutnya.
Greta mengerutkan dahinya. "Jangan bohong, katakan apa yang sebenarnya terjadi" pintanya serius.
Aleeya mencoba tertawa kecil. "Haha, jangan terlalu serius Greta. Ini benar hanya luka kecil" katanya meyakinkan.
Greta menghela napas pasrah, ia tahu pasti telah terjadi sesuatu.
"Baiklah ayo kita lanjut belajar hari ini" kata Greta akhirnya.
Aleeya santai menikmati pembelajaran, setidaknya saat ini ia bisa lepas dari kejamnya Viktor.
"Greta, bagaimana pengucapan ini? Ini sangat sulit" keluh Aleeya.
__ADS_1
"Kau ini, belum dicoba sudah bilang sulit" kata Greta sambil mengetuk pelan dahi Aleeya.
Mereka tertawa bersama. Hubungan Aleeya memang terjalin baik dengan Greta, ia mungkin menjadi orang satu-satunya yang Aleeya percaya.
"Aleeya, apakah kau bahagia di sini?" tanya Greta di tengah-tengah pembicaraan mereka.
Aleeya yang ditanya begitu seketika terdiam, ia kemudian mencoba tersenyum senatural mungkin.
"Tentu saja!" jawab Aleeya berpura-pura bahagia.
"Kau berbohong lagi" balas Greta.
"Kau yang paling tahu keadaanku saat ini Greta" kata Aleeya.
"Haha baiklah,kita tidak usah melanjutkan pembahasan menyedihkan ini." kata Greta. "Bagaimana kalau besok aku mengajakmu keluar?" lanjutnya.
"Apa? Apa boleh kita keluar?" tanya Aleeya penasaran.
"Hem sepertinya sulit" jawab Greta. "Tapi aku punya ide" lanjutnya.
"Ide apa?" tanya Aleeya, kali ini ia terlihat serius.
"Tenang saja, aku akan bicara dengan Viktor. Pokoknya besok kita akan keluar" jawab Greta bersemangat.
Aleeya juga tampak bersemangat, akhirnya untuk sesaat ia bisa keluar dari rumah ini.
"Baiklah, pelajaran kita cukup sampai di sini" kata Greta. "Sampai jumpa besok Aleeya" lanjutnya sambil tersenyum.
"Sampai jumpa besok Greta" balas Aleeya dengan senyum merekah di wajahnya.
Setiba di rumah, Greta segera menelepon Viktor mengenai rencana untuk membawa Aleeya keluar besok.
"Viktor, apakah aku bisa membawa Aleeya keluar rumah besok?" tanya Greta.
"Ada festival tidak jauh dari rumahmu, aku akan melatih kemampuan bahasa Jermannya" jawab Greta.
Di sebrang sana, Viktor mengerutkan dahinya. "Tidak perlu, dia bisa berlatih bahasa Jerman dengan Alice" balas Viktor.
Benar sekali, Viktor sangat tidak bisa dibujuk.
"Apa kau tidak percaya kepadaku?" tanya Greta sedikit lirih.
Greta merupakan teman dekat ayah Viktor sejak lama. Meskipun Viktor tidak mempercayai siapa pun lagi di hidupnya, tapi kali ini ia akan membiarkannya.
"Baiklah, tapi pastikan kau membawanya kembali ke rumah" kata Viktor dengan penekanan.
"Tentu saja" kata Greta senang. "Terima kasih" lanjutnya.
"Tit.. Tit"
Sambungan diputus sepihak oleh Viktor.
Greta terlihat senang, tidak menyangka akan semudah ini.
...
Aleeya tengah berdiri menunggu kedatangan Greta dengan tidak sabar, sejak pagi ia sudah menantikan ini. Keinginannya untuk bebas sejenak dari Viktor sebentar lagi akan terwujud.
"Aleeya" panggil Greta yang baru tiba. "Apakah kau sudah siap?" tanyanya.
"Tentu saja" jawab Aleeya semangat.
"Baiklah ayo kita pergi" ajak Greta.
__ADS_1
"Ayo" balas Aleeya.
"Tunggu" suara bariton terdengar.
Langkah kaki Greta dan Aleeya terhenti, mereka menoleh ke sumber suara yang tidak lain adalah Viktor.
"Aku akan menyuruh pengawalku untuk mengawasimu, jangan pernah berpikir untuk kabur" kata Viktor kepada Aleeya.
"Haha tenang saja, dia tidak akan kabur" balas Greta. "Kami permisi dulu" lanjutnya.
Greta dan Aleeya bergegas pergi meninggalkan kediaman Viktor.
"Kalian, pastikan awasi dia dengan benar!" perintah Viktor kepada pengawalnya.
"Baik tuan"
Setelah sampai di lokasi festival, Greta dan Aleeya berkeliling menikmati sekitar. Mereka membeli beberapa makanan dan juga berbicara dengan orang-orang yang hadir. Tidak ada hal aneh yang akan membuat Viktor marah.
"Aleeya, lihatlah di sini juga ada konser musik. Apakah kau ingin melihatnya?" tanya Greta.
"Tentu saja" jawab Aleeya semangat, ia sangat menikmati festival ini.
Di tengah ramainya sorak-sorak penonton, sebuah senyuman terbit di wajah Greta.
"Aleeya, pergilah dari sini. Temuilah keluargamu" kata Greta tiba-tiba.
Aleeya yang mengira bahwa ia salah mendengar perkataan Greta, kemudian bertanya lagi. "Apa? Apa yang barusan kau katakan?" tanyanya serius.
"Aku tahu kau sangat menderita bersama Viktor, dan kau juga sangat merindukan keluargamu. Oleh karena itu pergi lah dari sini" jawab Greta.
Aleeya melotot tak percaya.
"Apa? Bagaimana mungkin? Pengawal Viktor ada di sekeliling kita" kata Aleeya.
"Kita tidak punya kesempatan lagi, ini satu-satunya cara agar kau bisa kembali" balas Greta.
Aleeya diam, ia bingung harus melakukan apa.
"Pergilah ke arah sana" tunjuk Greta. "Di sana ada orangku yang akan membawamu ke bandara" lanjutnya.
"Tapi... " kata Aleeya.
"Aleeya, pikirkanlah keluargamu. Mereka pasti sedang mencarimu ke mana-mana. Aku akan mengalihkan pandangan para pengawal itu" kata Greta meyakinkan.
Aleeya pun memutuskan untuk pergi dari sini, ia tidak ingin kembali ke rumah itu.
"Jaga dirimu" kata Aleeya kepada Greta.
"Tentu saja" balas Greta. "Pergilah" lanjutnya.
Aleeya kemudian mengendap-endap keluar dari kerumunan, kemudian berlari cepat ke arah yang ditunjuk Greta sebelumnya.
Sementara di tengah kerumunan, Greta tengah menelepon seseorang. "Begitu wanita itu melewati persimpangan, tabrak dia dengan sangat keras!" perintahnya.
"Pergilah Aleeya, pergilah dari dunia ini" kata Greta di dalam hati, terbit seutas senyuman yang tidak bisa diartikan.
.
.
.
MENGGAPAIMU
__ADS_1