MENGGAPAIMU

MENGGAPAIMU
POSESIF ALEEYA


__ADS_3

Belum genap 24 jam dari kedatangan Aleeya di kediaman Viktor, sebuah pertengkaran antara suami istri sudah terjadi. Jam menunjukkan pukul 8 pagi, Viktor memasuki rumah dengan langkah santai.


"Dari mana saja?" tanya Aleeya dingin, ia sedang duduk di sofa ruang tamu, tatapannya tajam mengarah ke Viktor.


Viktor yang ditatap tajam Aleeya kelihatan bingung. "Dari mana? Oh aku baru pulang dari kantor sayang" jawabnya santai tanpa beban.


Aleeya segera berdiri dan berjalan ke arah Viktor, ia mengelilingi suaminya itu.


"Ada apa?" tanya Viktor bingung dengan kelakuan Aleeya.


Aleeya tidak menjawab, ia kemudian mencium-cium kemeja Viktor.


Viktor yang kaget dengan perlakuan Aleeya segera melangkah mundur. "Ada apa?" tanyanya lagi.


"Dari mana saja?" tanya Aleeya menatap wajah Viktor.


Deg.


"Tatapannya mengapa begitu?" batin Viktor.


"Tentu saja dari kantor, aku kan sudah memberi tahu Alice" jawab Viktor.


"Kenapa tidak memberitahuku?" tanya Aleeya kesal.


Viktor mengerhitkan dahinya, ia kemudian berpikir sejenak mencari alasan.


"Kenapa diam saja?" tanya Aleeya semakin kesal, ia kemudian mendekatkan dirinya di hadapan Viktor.


"Hemm, kupikir istriku ini sedang istirahat, jadi aku tidak ingin mengganggu" jawab Viktor beralasan.


"Alasan!" balas Aleeya. "Kenapa kemejamu bau alkohol?" tanyanya sambil mencium kembali kemeja Viktor.


Viktor melangkah mundur, ia tidak mau Aleeya kembali mencium kemejanya.


"Sial! Bagaimana bisa dia sensitif begini!" batin Viktor.


Semalam setelah mengantar Aleeya pulang ke rumah, Viktor segera kembali ke kantor untuk mengerjakan beberapa laporan bisnis yang menumpuk. Pekerjaannya selesai hampir tengah malam, jadi ia memutuskan untuk tidak pulang dan mengabari Alice untuk memberitahu Aleeya. Kemudian ia memutuskan pergi ke bar untuk menghilangkan penat, tapi kebiasaannya bermain dengan wanita belum hilang, jadi berakhirlah ia pulang pagi dan membuat pertengkaran dengan istrinya itu.


"Bau apa ini?" tanya Aleeya masih mencium-cium kemeja Viktor. "Ini bau parfum wanita" katanya kesal.


"Sayang tenanglah" kata Viktor menenangkan Aleeya, ia berpikir keras mencari alasan.


"Bagaimana aku bisa tenang!" balas Aleeya. "Kenapa ada bau parfum wanita di kemejamu?" tanyanya serius.


"Ii... Itu" jawab Viktor terbata. "Semalam aku ada rapat di kantor, setelahnya kami minum bersama. Mungkin tidak sengaja bersentuhan dengan pegawai wanita" lanjutnya dengan nada meyakinkan.


Aleeya menghela napas, ia tidak habis pikir dengan suaminya itu. "Baiklah kali ini aku percaya, tapi jangan berbuat seperti ini lagi!" katanya dengan nada memperingatkan. "Kabari aku langsung kalau ada apa-apa" lanjutnya.


Viktor terlihat lega, tapi masih ada rasa was-was di hatinya.


"Baiklah" balas Viktor sambil tersenyum. "Jangan marah begitu, nanti kecantikan istriku bisa luntur" lanjutnya sambil mengelus halus pipi Aleeya.


Deg.


Mendapat perlakuan dari Viktor, Aleeya tersipu malu, wajahnya memerah.


"Kenapa sih aku?" batin Aleeya.


Melihat wajah Aleeya memerah, Viktor juga merasa ada yang aneh pada dirinya. Tanpa sadar ia tiba-tiba tersenyum.


"Ada apa denganku?" tanya Viktor dalam hati.


"Hemm, aku akan mandi dulu" kata Viktor spontan. "Mau mandi denganku?" tanyanya sedikit menggoda, ia menatap wajah Aleeya yang dirasa sangat menggemaskan.


Saat ini wajah Aleeya semakin memerah. "Ti... Tidak! Mandilah sekarang!" katanya sedikit panik, ia tidak ingin Viktor melihat wajahnya yang seperti kepiting rebus ini.


"Haha baiklah" balas Viktor tertawa. "Bagaimana kalau malam ini kita..." belum sempat Viktor melanjutkan perkataannya, Aleeya segera menimpali.


"Sudah, sudah. Pergilah mandi!" potong Aleeya cepat, ia sangat malu sekarang.


Melihat sikap Aleeya yang kelihatan lucu ini, Viktor kembali ingin menjailinya. Ia kemudian mendekatkan wajahnya di telinga Aleeya.


"Aku mandi dulu, kalau merindukanku segera masuk saja ke kamar mandi" kata Viktor menggoda.


Aleeya yang mendengar itu makin tersipu, ia bahkan tidak bisa menjawab perkataan Viktor.

__ADS_1


"Aku mandi dulu" kata Viktor sambil tersenyum kemudian segera berlalu dari hadapan Aleeya.


"Mengapa aku begini sih?!" batin Aleeya tidak karuan. "Tapi dia memang sangat tampan" lanjutnya.


"Nona, wajah anda memerah" kata Alice tiba-tiba. "Apa anda sakit?" tanyanya.


Aleeya yang terkejut segera menoleh ke arah Alice. "Tidak, aku baik-baik saja Alice" jawabnya meyakinkan.


Alice masih diam.


"Oh ya Alice, bisa tolong sajikan makanan di meja? Aku tiba-tiba marasa lapar, Viktor juga pasti belum makan" kata Aleeya beralasan, ia tidak ingin Alice tahu juga dengan perasaannya yang tidak karuan.


"Bisa nona, aku akan menyiapkannya" balas Alice.


Aleeya kemudian buru-buru pergi meninggalkan Alice dan menuju ke kamarnya.


"Ada apa dengan nona?" tanya Alice bingung, tanpa berpikir lagi ia kemudian ke dapur untuk menyiapkan makanan.


"Ada apa dengan wajahku?" tanya Aleeya setiba di kamar. "Apa aku terbawa suasana?" tanyanya lagi. "Aahhh tapi dia memang tampan, kenapa wajahnya bisa seperti itu?" racaunya histeris.


"Ceklek"


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Viktor keluar dengan memakai handuk yang melingkar di pinggangnya, dada bidangnya terekspos sempurna, rambutnya yang basah makin membuatnya terlihat tampan.


Aleeya yang melihat itu tidak dapat mengedipkan pandangannya. "Ya ampun, kenapa bisa sesempurna ini" katanya dalam hati.


Melihat Aleeya diam tak berkutik membuat rasa jail Viktor kembali muncul. "Dasar wanita!" umpatnya dalam hati.


"Kenapa melihatku begitu?" tanya Viktor. "Apa kamu ingin memegangnya?" lanjutnya jail.


"Apa? Memegang apa?" tanya Aleeya panik, ia terkejut ketika mendapati Viktor sudah berada di depannya.


"Apa saja" jawab Viktor menggoda. "Bagaimana dengan roti sobekku ini?" tanyanya sambil tersenyum.


Aleeya yang ditanya begitu tidak dapat berkata-kata.


Mendapati Aleeya diam, Viktor kemudian meraih tangan Aleeya dan meletakkannya di dada bidangnya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Viktor jail.


"Hemm, tidak ada rasa apa pun" jawab Aleeya cepat.


"Dasar pembohong! Jelas-jelas tubuhmu tidak berkata begitu" batin Viktor.


"Bagaimana kalau sekarang?" tanya Viktor sambil meletakkan kembali telapak tangan Aleeya di dadanya.


Aleeya sungguh merasa gila. "Apa ini?" batinnya. "Mengapa bisa berbentuk seperti ini?" lanjutnya.


Melihat Aleeya tersipu malu tentu saja membuat Viktor merasa besar hati, rasa bangga pada dirinya semakin besar.


"Aku Viktor Waldermar, tidak ada seorang wanita pun yang bisa menolak ketika berhadapan denganku!" batin Viktor sombong.


"Pakai bajumu!" perintah Aleeya, ia sudah tidak tahan dengan penampakan Viktor dihadapannya.


"Haha baiklah" jawab Viktor kemudian menuju lemari baju.


Aleeya sedang menenangkan diri dan hatinya, perlakuan Viktor ini benar-benar!


Setelah Viktor memakai lengkap pakaiannya, ia kemudian duduk di tempat tidur bersama Aleeya.


"Aku sudah selesai" kata Viktor.


"Iya, aku sudah melihatnya" balas Aleeya cepat, ia kemudian memalingkan wajahnya malu.


"Haha apa istriku baru mengacuhkanku?" tanya Viktor, ia kemudian menarik tubuh Aleeya sehingga mata mereka saling bertemu.


"Ada apa?" tanya Aleeya.


Viktor tidak menjawab, ia kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Aleeya hingga menyisakan beberapa senti saja.


Aleeya yang melihat itu segera menutup matanya. "Apa dia mau menciumku?" tanyanya dalam hati.


Viktor memperhatikan wajah Aleeya, pipi yang halus, hidung mancung dan bibir kecil yang ranum ini terlihat sangat menggoda.


"Dia benar-benar cantik" batin Viktor.

__ADS_1


Viktor kemudian mengelus lembut leher sampai wajah Aleeya dengan telapak tangannya. Belum sempat ia menghilangkan jarak antara wajahnya dengan wajah Aleeya, ia kemudian tersadar.


"Balaskan dendam ayah!"


Suara itu lagi.


Viktor segera tersadar, ia kemudian segera berdiri.


Aleeya yang mengira bahwa Viktor akan menciumnya sudah terbawa suasana, tapi sikap Viktor yang tiba-tiba berhenti dan berdiri membuatnya terkejut. "Ada apa?" tanyanya.


Viktor menatap wajah Aleeya. "Tidak, aku sepertinya baru mengingat sesuatu. Ternyata ada rapat penting siang ini, aku harus segera ke kantor" jawabnya bohong.


Aleeya yang mendengar itu terlihat kecewa. "Sampai kapan rapatnya?" tanya Aleeya.


"Hemm, mungkin sampai sore" jawab Viktor asal.


"Baiklah, kalau begitu kamu harus sudah pulang sebelum matahari terbenam" kata Aleeya tegas.


"Wanita ini benar-benar ingin mengaturku!" batin Viktor.


"Bagaimana?" tanya Aleeya.


"Baiklah sayang" jawab Viktor sambil tersenyum.


"Jangan dekat-dekat dengan pegawai wanita lagi!" kata Aleeya memperingati.


"Apa?! Yang benar saja!" batin Viktor kesal, tapi ia menyembunyikan kekesalannya di dalam hati.


"Baiklah sayangku" balas Viktor kemudian mencium pelan pipi Aleeya.


Mendapat ciuman dari Viktor, Aleeya kembali tersipu.


"Jangan menyogokku!" kata Aleeya.


"Menyogok gimana?" tanya Viktor jail.


"Sudah, sudah. Cepat bersiap!" kata Aleeya cepat.


"Haha baiklah" balas Viktor.


"Oiya kamu belum makan kan?" tanya Aleeya memastikan.


"Belum" jawab Viktor.


"Bagaimana kalau kita makan dulu? Rapatnya siang kan? Masih ada waktu" kata Aleeya membujuk.


Viktor tampak berpikir. "Baiklah" balasnya akhirnya.


"Ayo kita turun ke bawah" kata Aleeya kemudian menarik tangan Viktor.


"Dia sangat tidak sabaran!" batin Viktor.


Viktor akhirnya membiarkan Aleeya menariknya menuju meja makan, mereka kemudian memulai makan bersama.


Sementara di sekitar Aleeya dan Viktor, berdiri Arthur dan Alice yang sedang menatap sepasang suami istri itu.


"Akhirnya setelah belasan tahun lamanya, tuan kembali makan di meja makan" kata Alice.


"Benar. Setelah kematian tuan besar, tuan muda tidak pernah makan bersama" balas Arthur.


Mata Alice terlihat berkaca-kaca.


"Ada apa?" tanya Arthur.


"Tidak, aku hanya terharu" jawab Alice singkat.


Mereka kembali memperhatikan sepasang suami istri itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


.


.


.


MENGGAPAIMU

__ADS_1


__ADS_2