
Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor, Viktor kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi Aleeya. Sebenarnya ia masih ragu untuk melanjutkan rencana ini, bagaimana kalau ingatan Aleeya tiba-tiba kembali?
"Ah, tapi aku harus mencobanya" desah Viktor. "Kalau ingatannya kembali, bukankah aku hanya perlu menyiksanya seperti sebelumnya?" lanjutnya asal.
Sebelum memasuki ruangan Aleeya, Viktor melatih senyumannya. Kemarin Arthur bilang kalau senyumannya sangat tidak natural dan terkesan dibuat-buat, siapa pun pasti tahu kalau itu tidak tulus.
"Ah lagi-lagi kenapa aku mendengar perkataan pria tua itu?!" gerutu Viktor, tanpa latihan lagi ia segera membuka pintu ruangan.
"Ceklek"
Terlihat Aleeya tengah menatapnya tajam, Viktor yang melihat itu langsung memasang wajah tersenyum. "Senyumlah yang alami" batinnya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Viktor dengan senyuman yang masih kaku.
"Baik-baik saja" jawab Aleeya acuh kemudian membalikkan wajah.
"Apa?! Bisa-bisanya dia bersikap acuh kepadaku?" batin Viktor kesal, ia kemudian menarik napas dalam-dalam dan membuangnya.
"Ini, terimalah" kata Viktor sembari meletakkan sepaket bunga di atas tempat tidur Aleeya.
"Apa ini?" tanya Aleeya masih dengan acuhnya.
"Tentu saja bunga" jawab Viktor, sebenarnya ia kesal sekali dengan sikap Aleeya. "Kau, lihat saja nanti" batinnya.
"Iya aku tahu, tapi untuk apa?" tanya Aleeya.
"Tentu saja untuk istriku yang cantik seperti bunga ini" jawab Viktor dengan senyum terpaksa.
Masih tidak ada jawaban dari Aleeya.
Viktor kemudian duduk di samping tempat tidur, dilihatnya dari dekat ternyata Aleeya sangat kurus. "Apa dia kekurangan gizi?"
"Kau sudah makan?" tanya Viktor.
"Sudah" jawab Aleeya singkat.
"Benar-benar mengesalkan!" gerutu Viktor lagi, sudah berapa kali dia mengumpat dalam hati.
Melihat sikap Aleeya yang acuh, Viktor memilih diam untuk menenangkan dirinya, takut kalau sampai dirinya kelewat emosi dan membuat aktingnya yang susah payah ini terungkap.
Sejak sadar kemarin, pikiran Aleeya berputar ke mana-mana. Bagaimana bisa pria dingin ini adalah suaminya?
"Apa aku tanya saja padanya?" batin Aleeya.
"Ekhm, ekhm" kata Aleeya.
"Apa tenggorokanmu sakit?" tanya Viktor.
"Ah iya, sedikit. Ekhm" jawab Aleeya pura-pura batuk sambil menatap Viktor.
"Akan kupanggil dokter" balas Viktor.
"Ehhh, tidak perlu" kata Aleeya panik, ia spontan memegang telapak tangan Viktor.
Mendapat sentuhan spontan dari Aleeya, Viktor tampak terkejut.
"Ke... Kenapa?" tanya Viktor sedikit terbata.
"Kenapa aku terbata?" batin Viktor. "Sial!" keluhnya.
"Tidak, tidak. Aku baik-baik saja" jawab Aleeya cepat. "Duduklah" lanjutnya.
Viktor kemudian duduk kembali di samping tempat tidur, keduanya masih terdiam.
Canggung.
__ADS_1
"Aku ingin bertanya" kata Aleeya membuka pembicaraan.
"Katakan" balas Viktor.
"Kau bilang kita sudah menikah, tapi kenapa aku tidak merasakan apa pun?" tanya Aleeya hati-hati, ia menatap wajah Viktor untuk mencari kebenaran.
Viktor tidak langsung menjawab, ia tampak sedikit berpikir.
"Kenapa kau diam?" tanya Aleeya penasaran.
Viktor membuang napas dalam-dalam, ia memasang raut wajah sedih. Tentu saja ini hanya pura-pura.
"Sebenarnya hanya aku yang mencintaimu" jawab Viktor pelan, tapi masih dapat didengar oleh Aleeya.
"Apa?" tanya Aleeya terkejut. "Jadi kenapa kita bisa menikah?" lanjutnya.
Viktor memasang wajah sedih kembali. "Sebelum orang tuamu pergi dari dunia ini, mereka memintaku untuk menikahimu, menjagamu" jawab Viktor meyakinkan.
Kali ini Aleeya terkejut lagi. "Apa? Orang tuaku sudah tidak ada?" tanyanya serius.
"Iya" jawab Viktor. "Dua tahun lalu mereka mengalami kecelakaan dan tidak tertolong" lanjutnya.
Aleeya yang mendengar itu sangat syok, seketika tangisnya pecah. "Bagaimana mungkin?" teriaknya histeris.
Viktor yang melihat Aleeya menangis histeris segera memeluknya erat.
"Menangislah, tidak apa" kata Viktor sambil menepuk bahu Aleeya, terbit sebuah senyuman licik diwajahnya.
Aleeya menangis tak henti-henti di pelukan Viktor, dunianya seketika runtuh mendengar berita ini.
Viktor masih memeluk Aleeya, ia berpura-pura bersimpati atas kesedihan istrinya itu.
"Aleeya dengarlah" kata Viktor, ia kemudian melepaskan pelukannya dan menatap mata Aleeya lekat. "Aku akan menjagamu, aku akan membuatmu bahagia. Oleh karena itu kau harus di sisiku, ini yang orang tuamu inginkan di saat terakhir mereka" lanjutnya.
"Hiks... Hiks... Maafkan aku" kata Aleeya lirih. "Kau pasti mengalami kesulitan dalam pernikahan ini karena aku tidak mencintaimu" lanjutnya.
"Tidak apa" balas Viktor, ia memasang wajah lembut.
Aleeya yang melihat itu semakin tidak enak. "Tidak, tidak boleh begitu. Kau sudah menderita selama ini, mulai sekarang aku akan mencoba mencintaimu" kata Aleeya dengan mata berkaca-kaca, ia menatap lurus mata Viktor.
Viktor yang mendengar perkataan Aleeya terlihat senang, bukan karena cinta sepihaknya yang akan terbalas. Yang benar saja, itu hanya kisah yang dikarang olehnya. Ia senang karena akhirnya Aleeya mulai masuk ke perangkapnya.
"Makasih sayang" balas Viktor, ia kemudian memeluk kembali Aleeya.
Aleeya membalas pelukan dari Viktor dengan sangat erat, dalam hatinya ia sangat kasihan dengan pria ini. Ia telah bertekad untuk berbuat baik kepada suaminya dan mencoba mencintainya.
...
Setelah hampir seminggu berada di rumah sakit, Aleeya akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Viktor kepada Aleeya.
"Tentu saja aku senang" jawab Aleeya semangat. "Aku sudah bosan di rumah sakit ini" lanjutnya.
"Baiklah, hari ini kita akan pulang ke rumah" kata Viktor.
"Aku sudah tidak sabar" balas Aleeya sambil tersenyum. "Bagaimana rumah kita ya?" lanjutnya.
"Apakah kamu tidak mengingatnya?" tanya Viktor dengan raut wajah sedih.
Aleeya yang melihat itu malah tertawa.
"Kenapa tertawa?" tanya Viktor heran. Apanya yang lucu?" batinnya.
"Suamiku sangat menggemaskan ketika sedih" jawab Aleeya masih sambil tertawa.
__ADS_1
"Apa? Menggemaskan?" tanya Viktor dalam hati.
"Ketika sampai rumah nanti, kita akan membuka lembaran baru" kata Aleeya. "Jadi jangan ingat apa pun yang dapat menyakitimu" lanjutnya sambil memegang wajah Viktor.
Sebenarnya dari awal pertemuan Aleeya dengan Viktor di rumah sakit ini, ia sudah terpesona dengan wajah pria ini. Matanya yang tajam, alis mata yang hitam lebat dan juga rahang yang tegas sudah membuat hati Aleeya meleleh, apalagi postur tubuh tingginya. Ya walaupun kesan dingin masih terasa jelas.
"Ayo kita pulang sayang" kata Viktor kemudian membantu Aleeya turun dari tempat tidur.
Aleeya mengangguk sambil tersenyum, ia menyambut uluran tangan Viktor yang hendak membantunya. Pikirannya berbunga-bunga, dalam hati ia bertanya-tanya. Apakah kebahagiaan sudah menghampirinya?
...
"Selamat datang nona" kata para pelayan sambil berjejer.
Aleeya baru memasuki rumah besar ini, dan ia langsung dikejutkan oleh pelayan rumah yang sangat banyak. Ya, seluruh pelayan yang pernah dipecat oleh Viktor sebelumnya telah kembali. Jika sebelumnya Viktor memecat mereka untuk menyiksa Aleeya agar menyelesaikan pekerjaan rumah sendirian, kali ini ia mempekerjakan mereka untuk melayani nyonya baru rumah ini. Bukankah rencananya harus sesempurna mungkin?
"Bagaimana kabar anda nona?" tanya seorang wanita paruh baya dengan senyuman yang sedikit kaku.
Aleeya mencoba mengingat-ingat. "Kamu bukannya yang pernah menjengukku di rumah sakit?" tanyanya memastikan.
"Iya benar nona" jawab wanita paruh baya yang tidak lain adalah Alice. "Perkenalkan saya Alice, kepala pelayan rumah ini" lanjutnya.
"Oh Alice ya" kata Aleeya.
"Jika ada yang diperlukan jangan sungkan untuk memanggil saya, nona" balas Alice.
"Baiklah Alice, mohon bantuannya ya" kata Aleeya sambil tersenyum.
"Baik nona" balas Alice.
"Baiklah sampai di sini dulu pembicaraannya" potong Viktor. "Ingat kata dokter sayang, kamu harus banyak istirahat" lanjutnya sambil merangkul lengan Aleeya.
"Yahh, padahal aku mau keliling rumah ini dulu" keluh Aleeya.
"Bagaimana kalau besok? Kamu masih butuh banyak istirahat" kata Viktor membujuk.
"Aku mau sekarang, aku sudah sehat. Lihatlah ini" jawab Aleeya sambil menggerak-gerakkan tubuhnya.
Viktor membuang napas kasar, ia baru tahu kalau wanita dihadapannya ini sangat manja dan keras kepala. Padahal sebelumnya dialah yang harus dituruti semua orang, termasuk Aleeya, siapa pun yang membantah pasti akan mendapat konsekuensinya.
"Sial, dia sangat keras kepala!" umpat Viktor dalam hati.
"Baiklah, sebentar saja" kata Viktor akhirnya.
"Makasih sayang" balas Aleeya sambil tersenyum, ia kemudian melangkahkan kakinya untuk berkeliling.
"Alice!" panggil Viktor.
"Iya tuan" jawab Alice.
"Temani wanita itu keliling rumah ini, kemudian antarkan dia ke kamar. Aku akan pergi ke luar dulu" jelas Viktor.
"Baik tuan" jawab Alice kemudian mengikuti Aleeya.
"Bersenang-senanglah istriku" kata Viktor sambil tersenyum sinis.
Viktor kemudian melangkah menuju pintu dan segera diikuti oleh Arthur, tak berapa lama setelahnya terdengar suara mobil melaju.
.
.
.
MENGGAPAIMU
__ADS_1