
“Sepertinya tuan mulai menyukai wanita itu” kata Arthur kepada tuan mudanya.
“Tidak! Aku hanya berencana menyiksanya, kau jangan terlalu banyak berasumsi!” kata Viktor mengeraskan suaranya.
Viktor kemudian berdiri dari singgasananya, ia tampak sedang memikirkan sesuatu. Ia menggulung lengan kemejanya yang tampak lusuh, hingga sebuah senyuman yang sulit diartikan terbit dari wajah tampannya.
“Aku akan menikahinya, urus semuanya sekarang!” kata Viktor akhirnya.
"Tapi tuan… "
“Jangan membantahku! Aku telah memikirkan sebuah rencana yang sempurna” kata Viktor kemudian beranjak keluar dari ruang kerjanya.
“Aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya, tapi aku tahu dia mulai mencintai wanita itu” kata si tua Arthur pada dirinya sendiri.
*********************************************
“Aleeya!” panggil Alice dari luar dapur.
Aleeya yang mendengar namanya dipanggil segera mendatangi Alice.
"Setiap hari selalu ada teriakan, membuatku parno saja" kata Aleeya dalam hati.
“Ada apa Alice?” tanya Aleeya.
“Tuan Viktor memanggilmu ke ruangannya” kata Alice cepat.
“Aku sedang memasak, bisakah kau melanjutkannya?” tanya Aleeya sebelum beranjak pergi.
Alice mengangguk cepat. “Cepat kesana, sebelum tuan Viktor marah besar karena menunggumu terlalu lama” kata Alice kemudian pergi ke dapur.
Aleeya mempercepat langkahnya menuju ruang kerja Viktor, ia tidak ingin mendapat bentakan dan kemurkaan tuan pemarah itu.
“Tok… tok… tok”
Aleeya mulai mengetuk pintu ruangan kerja Viktor.
“Masuk!”
Aleeya membuka perlahan pintu ruangan itu, hawa dingin sudah menerpa kulitnya. Masuk ke ruangan ini membuat semua memori kekejaman Viktor beterbangan di kepalanya.
“Ada apa tuan memanggilku?” tanya Aleeya sambil menunduk.
“Prakkk”
Viktor melempar sebuah berkas dokumen di atas meja.
“Baca ini!” perintah Viktor.
Aleeya mengambil berkas dokumen tersebut, ia kemudian membacanya dengan teliti. Bola matanya tak bisa berhenti membulat, ekspresi terkejut tampak jelas di wajahnya.
“Aku tidak mau!” kata Aleeya akhirnya. “Tidak mungkin, aku sudah menikah tuan Viktor!” lanjutnya.
__ADS_1
Aleeya benar-benar geram dengan pria yang ada di hadapannya, selalu melakukan hal-hal yang tidak masuk akal.
“Baiklah” kata Viktor sambil tertawa. “Sepertinya kau ingin keluargamu lenyap hari ini juga”
Deg.
Deg.
“Apa? jadi pria ini memanfaatkan keluargaku!”
“Jangan manfaatkan keluargaku!” teriak Aleeya.
“Wahh, wahh. Sepertinya ada yang ingin menguji kekuasaaku” kata Viktor sambil menatap Aleeya tajam, ia kemudian menyilangkan keduanya tangannya.
“Arthur, sepertinya kau harus melakukan tugasmu sekarang!” perintah Viktor.
Arthur mengangguk cepat, ia kemudian mengambil telpon dan mulai mengetik sebuah nomor.
“Lenyapkan keluarga Sanjaya sekarang! Pastikan semua berjalan lancar” kata Arthur kepada seseorang di seberang sana.
Air mata Aleeya mulai mengalir deras. “Jangan sakiti keluargaku!” teriaknya lagi.
Arthur menatap Aleeya lekat. “Turuti perintah tuan Viktor, nona” jawab Arthur.
Aleeya masih tidak habis pikir, pria yang ada di depannya ini sangat membenci dirinya. Membalas dendam dengan sebuah pernikahan? Ini benar-benar gila!
“Kenapa kau ingin menikah denganku?” tanya Aleeya serius, matanya berkaca-kaca.
Viktor kembali tertawa. “Tentu saja untuk membalaskan dendamku, membuat keluargamu hancur berantakan” kata Viktor.
“Salah?” kata Viktor berpura-pura berpikir. “Hahaha, salahnya adalah kau merupakan putri Wijaya! Pria yang telah merebut ibuku dariku dan ayahku!” lanjut Viktor murka, bola matanya menatap Aleeya penuh kebencian.
“Pria yang telah merebut ibuku, membuat keluargaku hancur berantakan!” kata Viktor lagi.
“Tidak mungkin!” kata Aleeya cepat. “Ayahku hanya mencintai ibuku, dia tidak mungkin berhubungan dengan wanita lain” jelas Aleeya, ia tidak ingin ayahnya disebut sebagai perebut istri orang lain.
“Tapi begitulah kenyataannya!” kata Viktor, telapak tangannya mulai mengepal. “Kau adalah keturunan Wijaya, aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup bahagia!”
Aleeya tidak percaya dengan perkataan Viktor, ayahnya bukanlah pria seperti itu. Ayahnya hanya mencintai ibunya dan sampai kapanpun akan begitu.
“Kau bohong!” teriak Aleeya lagi. “Ayahku tidak seperti itu!”
Arthur kemudian mendekati Aleeya. “Lihat foto ini nona! Foto ini asli dan bukan editan, kami menemukannya di kamar ibu tuan Viktor” kata Arthur sambil menyerahkan selembar foto.
Aleeya mengamati foto itu dengan seksama, tampak wajah ayahnya yang tengah memeluk seorang wanita.
“Wanita ini… Dia adalah wanita yang ada di foto keluarga Viktor!”
Air mata Aleeya kembali menetes, ia tidak percaya dengan kenyataan ini. Pertama, buk Aditama juga pernah berkata kalau ia mempunyai hubungan dengan Ayahnya, Wijaya. Kedua, di dalam foto ini ayahnya tampak tersenyum bahagia dengan seorang wanita yang tentu saja bukan ibunya.
“Cepat tanda tangani surat perjanjian itu!” perintah Viktor, ia sudah tidak sabar.
__ADS_1
Aleeya menatap mata tuan mudanya lekat, ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
“Cepat tanda tangan!” perintah Viktor lagi.
Kali ini suara Viktor membuat Aleeya bergidik ngeri, ia kemudian mengambil pulpen yang ada di atas meja.
“Cepat! Atau kau ingin aku melenyapkan keluargamu sekarang juga? Pria dan bayi mungil itu?” ancam Viktor.
“Setelah aku menandatangani surat perjanjian ini, jangan pernah sakiti keluargaku” kata Aleeya memperingati.
“Tergantung. Kalau kau melawanku, aku tidak akan segan-segan melenyapkan mereka!” ancam Viktor lagi.
Aleeya sudah tidak punya harapan lagi, harapan untuk kembali ke keluarganya sudah hancur dengan sebuah kenyataan yang kejam.
Aleeya menandatangani surat perjanjian itu, tangannya bergetar hebat.
“Sudah” kata Aleeya pasrah.
Viktor mengambil paksa surat perjanjian itu. “Bagus, bersiaplah! Pernikahan akan dilaksanakan besok, pastikan kau tidak akan mengacaukannya” kata Viktor kemudian berlalu.
Aleeya terduduk lemas di atas lantai, kakinya tidak sanggup menopang tubuhnya. Seakan-akan beban berat tengah bertumpuk di pundak kecilnya.
“Ya Allah, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?”
Hati Aleeya benar-benar hancur, ia telah mengkhianati janji pernikahan dengan Faiz, suaminya. Berjanji untuk selalu setia, ia juga telah mengkhianati anaknya, Syifa.
“Aku bukan istri yang baik, aku bukan ibu yangbaik!”
Tangis Aleeya pecah, ia tidak dapat membayangkan kehidupannya selanjutnya. Menikah dengan pria yang sama sekali tidak ia cintai, menikah ketika statusnya masih sah sebagai istri orang lain.
“Aleeya” panggil Alice.
Aleeya membalikkan tubuhnya, tampak Alice sedang berdiri dihadapannya.
“Tangisanmu tidak akan mengubah keputusannya, aku harap kau dapat mempersiapkan diri” kata Alice datar.
“Tapi aku tidak mencintainya, Alice” kata Aleeya jujur. “Aku juga masih sah istri suamiku” lanjutnya.
“Aku tahu, tapi cobalah untuk menerima kenyataan. Kau tidak akan pernah keluar dari rumah ini” jawab Alice.
“Aku mohon bantu aku Alice, aku ingin pulang” pinta Aleeya, ia memegang kaki Alice.
Alice melepaskan tangan Aleeya yang memegang kakinya, sebenarnya nuraninya sangat prihatin kepada Aleeya. Tapi tuan Viktor bukanlah orang yang akan melepaskan mangsanya, ia juga tidak tahu harus berbuat apa.
“Persiapkan dirimu untuk besok” kata Alice akhirnya, ia kemudian beranjak meninggalkan Aleeya sendirian.
Aleeya menundukkan kepalanya, hatinya hancur sudah. Tidak ada lagi harapan untuknya, ia berharap waktu berhenti detik ini juga. Ia tidak ingin hari esok, ia tidak ingin menikah dengan Viktor Waldermar!
.
.
__ADS_1
.
MENGGAPAIMU