MENGGAPAIMU

MENGGAPAIMU
MIMPI BURUK ALEEYA


__ADS_3

Aleeya terbangun dari tidurnya ketika matahari sore mulai masuk dari sela-sela jendela kamar, kamar yang memiliki nuansa kebaratan.


“Aw…” kata Aleeya sambil memegangi kepalanya, bola matanya yang indah memandangi seluruh penjuru kamar.


“Ini dimana?” tanya Aleeya pada dirinya sendiri. “Aku dimana?” lanjutnya.


Aleeya kemudian menuju jendela yang ada di kamar itu, betapa terkejutnya ia ketika didapati pemandangan disekelilingnya sangat berbeda. Ini bukan di Indonesia!


Aleeya kemudian berlari menuju pintu, ia terus-menerus memegang gagang pintu, menekan-nekannya agar bisa terbuka. Namun hasilnya nihil, kamar itu benar-benar dikunci!


Aleeya mencoba berteriak agar seseorang yang berada diluar kamar dapat mengetahui bahwa ada seseorang yang sedang terkunci.


“Wer ist drinnen? (Siapa yang ada di dalam?)” tanya seorang pelayan kepada temannya.


"Als Frau aus Indonesien hörte ich, wie Herr Viktor sie hierher brachte. (Seorang wanita asal indonesia, aku dengar tuan Viktor yang membawanya kemari) " jawab pelayan yang lain.


Aleeya mendengar suara beberapa orang diluar kamar, tapi sedikit pun ia tidak mengerti bahasa mereka.


“Help me, please!” kata Aleeya dengan sedikit berteriak.


Namun tak ada seorang pun yang menjawab perkataannya, Aleeya terus menerus berteriak sampai suaranya serak.


“Bagaimana ini Ya Allah” batin Aleeya, ia benar-benar takut sekarang.


“Pria itu, pasti pria asal Jerman itu yang membawaku kesini” kata Aleeya mengingat-ngingat. “Aku tak sadarkan diri setelah seseorang membekap mulutku dengan sapu tangan” lanjutnya.


Tak berapa lama kemudian terdengar suara gesekan sepatu dengan lantai, ada beberapa orang yang sedang menuju kamar Aleeya.


“Cekklekk”


Pintu kamar terbuka dan tampaklah seorang pria tinggi dengan mata elangnya sedang menatap Aleeya tajam.


“Pria asal Jerman” cicit Aleeya.


Pria itu hanya diam tanpa ekspresi, benar-benar menakutkan!


“Dimana aku sekarang, kenapa kau membawaku kesini?” tanya Aleeya memberanikan diri.


Pria asal Jerman itu mulai mendekati Aleeya yang berdiri mematung. “Pertanyaanmu sungguh tidak sopan, panggil aku tuan Viktor Waldermar!” bentak pria itu sambil menari dagu Aleeya.


Tatapan pria itu sangat tajam sampai membuat seluruh bulu kuduk Aleeya merinding, Aleeya menundukkan tatapannya. Ia tidak berani menatap.


“Look at Me!” bentak pria itu lagi.


Tubuh Aleeya bergetar, ingatannya kembali ketika dahulu Faiz juga pernah membentaknya. Aleeya merindukan keluarganya.


Viktor kemudian menguatkan genggamannya di dagu Aleeya, membuat pemiliknya mengeluarkan rintihan.


“Aw” kata Aleeya.


“Tatap aku!” perintah Viktor.


Aleeya yang takut kemudian menatap manik mata milik Viktor, pria asal Jerman itu.

__ADS_1


“Kau akan tetap disini dan tidak akan kemana-mana” bisik Viktor di telinga Aleeya, deru nafasnya dapat Aleeya rasakan.


Aleeya kemudian menarik tubuhnya menjauh dari Viktor, ia kemudian memegangi dagunya yang sudah merah akibat tindakan pria asal Jerman itu.


“Itu baru permulaan Aleeya, kau akan merasakan penderitaan selanjutnya” kata Viktor kemudian berlalu.


Aleeya hanya dapat menahan tangis yang sebentar lagi akan membanjiri pipinya, dadanya sesak.


Hiks.


Hiks.


“Kak Faiz” panggil Aleeya.


...


Udara malam yang dingin di Kota Berlin, kota yang sangat indah bagi siapa pun yang tinggal disitu. Kecuali Aleeya, ia tak merasakan kebahagian dan kenyamanan layaknya turis yang sedang berlibur. Ia sangat tersiksa, kerinduannya pada suami dan anaknya membuncah.


“Kak Faiz, hiks…hiks… tolong Aleeya” kata Aleeya dengan deraian air mata.


Aleeya tengah duduk di atas tempat tidur sambil memeluk kakinya dengan erat, meluapkan segala kesedihannya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, tampaklah seorang pelayan tengah berjalan mendekati Aleeya sambil membawa tampan yang berisi makanan.


"Iss, Miss. (Makanlah Nona) " kata pelayan itu sambil meletakkan tampan di atas meja.


Aleeya hanya tersenyum getir. “Thank you” jawab Aleeya.


Aleeya hanya tertunduk pasrah, pasti Viktor Waldermar lah yang melakukan semuanya.


“Krukk… krukk”


Terdengar suara dari perut Aleeya, sejujurnya ia sangat lapar. Sudah berapa jam dari perpisahannya dengan kedua mertuanya, ia belum makan sedikitpun.


Aleeya kemudian turun dari tempat tidur dan menuju meja yang terdapat makanan dari pelayan tadi.


Aleeya melihat makanan itu perlahan. ‘Sangat aneh’ batin Aleeya.


Tapi karena rasa laparnya sudah mendominasi dirinya, ia pun memakan makanan itu dengan lahap. Setelah makan Aleeya pun memanggil menggedor pintu kamar itu lagi, ia teringat bahwa dari tadi ia belum menunaikan sholat fardhu.


“Anyone outside, please open the door! (Siapa pun yang ada diluar, tolong bukakan pintu!)” pinta Aleeya.


Aleeya pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa mayoritas penduduk Negara Jerman khususnya yang tinggal di Berlin mampu berbicara dalam bahasa Inggris.


Tak beberapa lama kemudian pintu pun terbuka, tampaklah seorang pelayan wanita.


“Can you give me clothes? I didn’t bring anything here. (Bisakah kau memberiku pakaian? Aku tidak membawa apapun kesini)” pinta Aleeya.


Pakaian yang dikenakannya saat ini sudah tidak nyaman, ia ingin segera membersihkan diri dan kemudian menunaikan sholat.


Pelayan itu kemudian berlalu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, Aleeya hanya pasrah menunggu di dalam kamar.


Tak beberapa lama kemudian pintu kamar kembali terbuka, pelayan wanita tadi tengah memegang beberapa pakaian wanita yang tertutup.

__ADS_1


"Das ist deine Kleidung vermissen. (Ini pakaian Anda, Nona) " kata pelayan itu sambil menyodorkan pakaian yang ada di tangannya kepada Aleeya.


Aleeya menatap pakaian yang diberikan pelayan itu.


‘Pakaian ini sangat pas dan juga menutup aurat’ batin Aleeya.


"Herr Viktor gab es ihm. (Tuan Viktor yang memberikannya) " kata pelayan itu ketika melihat raut kebingungan di wajah Aleeya.


Aleeya mendengar kata “Viktor” kemudian bertanya. “Mr.Viktor?”


Pelayan wanita itu kemudian mengangguk, kemudian pelayan itu keluar dan tak lupa mengunci pintu.


Aleeya hanya memandangi kepergian pelayan itu, kini banyak tanda tanya di dalam hatinya mengenai pria asal Jerman itu, Viktor Waldermar. Apa tujuan Viktor membawanya ke Jerman dan memisahkan dirinya dengan keluarganya dan bagaimana seorang Viktor Waldermar bisa mengenal dirinya?


Aleeya terus-menerus menebak di dalam pikirannya hingga kemudian ia memutuskan untuk membersihkan diri dan menunaikan ibadah, memohon kepada Tuhan agar diberi kekuatan dan petunjuk dalam menghadapi cobaan yang silih berganti.


Setelah menyelesaikan semua kegiatannya, Aleeya pun mulai beranjak ke tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang sangat lelah. Tak beberapa lama kemudian matanya mulai terpejam dan membawanya ke alam mimpi yang indah, mimpi ketika berkumpul dengan keluarga kecilnya yang sangat bahagia. Aleeya, Faiz dan tentu saja putri kecil mereka Syifa Zahra Al-Faiz.


“Aku sayang kamu Aleeya”


“Aku juga sayang sama kamu kak”


“Udah Al, jangan gelitiki aku lagi”


“Kan kakak yang luan gelitikin Aku”


“Jangan cemberut gitu dong, nanti hilang cantiknya”


“Kak Faiz!”


“Kita akan terus bersama, besok dan seterusnya. Akan selalu seperti ini”


“Terima kasih telah menjadi ibu bagi anak-anakku”


“Terima kasih juga kak, telah menjadi ayah bagi anak-anakku”


“I love more than you know”


“Me too, I love you too”


Air mata Aleeya mengalir membasahi pipinya, ia menangis dalam tidurnya. Sangat menyiksa, sungguh sangat menyiksa. Kebahagiaannya selama ini berubah menjadi sebuah mimpi buruk baginya, ia ingin kembali ke Indonesia, ia ingin pulang dan memeluk keluarga kecilnya.


Hiks.


Hiks.


.


.


.


MENGGAPAIMU

__ADS_1


__ADS_2