
Aleeya tengah membersihkan rumah, pekerjaan baru yang telah ditetapkan Viktor untuknya. Ia tidak dapat membantah dan melawan, karena tuan Viktor yang kejam pasti akan murka dan melakukan tindakan-tindakan kasar kepadanya.
“Alice!” panggil Viktor dari ruang tengah.
Alice kemudian bergegas menuju ruang tengah, tempat dimana Viktor tengah duduk sambil bersantai.
“Iya tuan” jawab Alice sambil berdiri tegak.
“Sebentar lagi seorang pengajar bahasa akan datang kesini untuk mengajari Aleeya berbahasa Jerman” jelas Viktor. “Pastikan wanita itu belajar dengan baik” lanjutnya.
“Baik tuan” jawab Alice kemudian berlalu meninggalkan Viktor.
“Wanita itu akan lama berada disini, sangat merepotkan jika ia tidak bisa berbahasa Jerman” kata Viktor dalam hati, Entah apa rencana yang akan dirinya lakukan untuk wanita itu.
…
Aleeya memindahkan piring kotor ke wastafel, tidak lama kemudian Alice masuk dan berjalan menuju dirinya.
“Tuan Viktor memberitahu bahwa sebentar lagi seorang guru akan datang dan mengajarimu bahasa Jerman” jelas Alice masih dengan wajah datarnya.
Dahi Aleeya berkerut.
“Bahasa Jerman?” tanya Aleeya.
“Iya bahasa Jerman, kau tinggal disini dan harus mengerti bahasa kami” jawab Alice.
Aleeya kemudian menggangguk tanda mengerti, ia dan Alice kemudian melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Sedangkan Viktor sepertinya telah pergi bekerja, maklum saja Viktor adalah seorang pengusaha sukses yang memiliki banyak pekerjaan.
“Kring… kring”
Suara bel rumah berbunyi, Alice segera menuju pintu dan mempersilahkan tamu itu untuk duduk.
Aleeya yang mendengar suara pintu terbuka bergegas menuju ruang tamu.
"Hallo guten Morgen, bist du Aleeya? (Hai selamat pagi, apakah kamu Aleeya?) " tanya seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah guru bahasa Aleeya.
Aleeya hanya mengangguk ketika namanya disebut.
"Lassen Sie mich Ihnen Greta vorstellen, Ihre Deutschlehrerin. (Perkenalkan aku Greta, guru bahasa Jermanmu) " kata wanita itu sambil menjabat tangan Aleeya.
Aleeya pun membalas jabatan tangan wanita itu.
"Du kannst mich frau Greta nennen. (Kau bisa memanggilku frau Greta) " jelasnya.
“Frau Greta?” tanya Aleeya.
Greta tersenyum. “Ya, frau adalah sebutan untuk guru perempuan dalam bahasa Jerman” jawabnya.
Dahi Aleeya berkerut. “Dia bisa bahasa Indonesia?” batinnya.
“Maaf frau Greta, kau bisa berbahasa Indonesia?” tanya Aleeya.
“Tentu saja, suamiku adalah orang Indonesia” jawab wanita itu.
Mendengar bahwa Greta mengerti bahasa Indonesia, membuat Aleeya tersenyum bahagia. Entah mengapa, namun baginya dapat berkomunikasi dengan bahasa ibu merupakan kebahagiaan tersendiri.
“Baiklah senang berkenalan denganmu” kata Aleeya.
Wanita paruh baya itupun tersenyum. “Baiklah kita akan mulai belajar” kata Greta.
Alice meninggalkan Greta dan Aleeya di ruang tamu untuk belajar, ia kemudian bergegas ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya lagi.
***********
Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan bagi Aleeya, selain berkerja ia juga memiliki kegiatan rutin yang lain yaitu belajar bahasa Jerman. Awalnya terasa sulit sekali, namun karena pengajarnya adalah Greta maka proses belajarnya berlangsung cukup mudah.
Jam sudah menunjukkan pukul 1.00 dini hari, Aleeya tiba-tiba merasa haus dalam tidurnya. Ia pun segera keluar dari kamar kemudian menuju dapur, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.
“Krekkkk”
Terdengar suara hentakan sepatu.
“Tuk… Tuk”
"Schatz, du bist sehr hübsch. (Sayang, kau sangat tampan) " kata seorang wanita sambil membopong tubuh Viktor, pria itu sedang mabuk.
Aleeya menatap wanita cantik dan sexy di depannya, wanita dengan kulit putih dan mata biru khas Jerman. Wanita itu pun menatap mata Aleeya tajam.
“Kau Aleeya?” tanya wanita itu sinis.
Aleeya hanya terdiam. “Banyak sekali orang disekelilingku bisa berbahasa Indonesia” batinnya.
“Hei, jangan diam. Jawab aku!” bentak wanita itu.
Aleeya kemudian mengangguk.
“Ternyata hanya wanita biasa” ledeknya.
Aleeya hanya diam.
“Jangan pernah dekati Viktor, dia tidak mungkin akan suka padamu wanita jelek!” ledek wanita itu lagi, kali ini dengan nada mengancam.
“Siapa juga yang mau dekat dengan pria itu” gerutu Aleeya dalam hati.
Tiba-tiba terdengar suara Viktor yang sedang tak sadarkan diri. "Beeil dich und geh! (Cepat jalan!) " perintahnya.
Wanita itu kemudian tersenyum sinis ke arah Aleeya, ia kemudian membawa Viktor ke kamarnya.
__ADS_1
“Bagaimana mungkin mereka tidur bersama” cicit Aleeya. “Tapi biarlah, apa peduliku” lanjutnya.
Aleeya kemudian bergegas ke dapur, ia hampir lupa tujuan utamanya keluar dari kamar.
Setelah menghilangkan dahaga Aleeya bergegas menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti ketika ada seorang pria tinggi menarik tangannya.
“Viktor!” kata Aleeya terkejut.
Viktor yang setengah sadar itu tiba-tiba mendorong tubuh Aleeya ke dinding, ia kemudian mengukung tubuh Aleeya hingga hampir tidak memiliki jarak.
“Kau begitu cantik sayang” kata Viktor sambil memegang kedua bahu Aleeya, ia kemudian tersenyum menyeringai.
“Tuan Viktor sadarlah!” teriak Aleeya lagi, ia sangat takut sekarang.
Viktor kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Aleeya, membuat Aleeya memalingkan wajahnya ke arah samping.
“Lihat aku!” perintah Viktor masih dalam keadaan mabuk.
Aleeya terus menerus memukul dada bidang Viktor, ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi.
“Lepaskan Aku! Minggirlah tuan Viktor!” kata Aleeya ketakutan.
Bukannya melepaskan Viktor malah mengencangkan pegangannya pada bahu Aleeya, Aleeya pun meringis kesakitan.
“Lepaskan aku” kata Aleeya parau, kali ini air matanya tidak lagi terbendung.
“Tenanglah, ini tidak akan lama” bisik Viktor di telinga Aleeya, tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan.
Belum sempat Viktor melancarkan aksinya, terdengar suara teriakkan.
“Viktor!” teriak seseorang yang tidak lain adalah Karleen, wanita yang membawa Viktor kembali ke rumah.
Karleen menarik lengan Viktor, ia kemudian melihat Viktor yang masih dalam keadaan mabuk.
“Kau!” bentak Karleen sambil menunjuk wajah Aleeya. “Viktor adalah kekasihku, jangan pernah menggodanya! Wanita jelek seperti dirimu tidak mungkin disukainya” lanjut Karleen dengan nada menghina.
Karleen kemudian membopong tubuh pria mabuk itu, sebelum pergi ia menatap Aleeya tajam, tampak raut kebencian diwajahnya.
Aleeya melihat kepergian dua insan itu dengan perasaan sedih. “Siapa yang mau menggodanya? Pria itu sendiri yang menarikku” katanya dalam hati.
Ada perasaan lega juga pada diri Aleeya, ia telah selamat dari tindakan Viktor yang kejam itu. Membayangkan perlakukan pria itu tadi membuat Aleeya bergidik ngeri.
“Jangan sampai dia melakukan itu lagi kepadaku, aku harus menjaga jarak” kata Aleeya dalam hati. “Bertemu dengannya saja sudah membuatku ketakutan, apalagi menerima perlakuannya yang semena-mena” lanjutnya.
Aleeya kemudian bergegas kembali ke kamarnya yang tidak layak pakai itu, tapi ia harus tetap bersyukur. Tanpa kamar itu ia tidak tahu lagi harus tidur dimana, pria dengan kekayaan yang berlimpah namun sangat kejam menyuruhnya tidur di tempat yang dapat disebut sebagai gudang.
Aleeya mulai merebahkan tubuhnya di atas ambal yang ia temukan di gudang, karena kamar ini sebelumnya adalah gudang maka Aleeya tidak mempunyai tempat tidur.
“Sungguh menyiksa” gerutu Aleeya.
Tatapannya kini mengarah ke langit-langit kamar, ia mulai membayangkan keadaan suami dan putri kecilnya. Ingin sekali rasanya ia berteriak sambil menangis, namun apapun yang ia lakukan tidak akan mengubah keadaannya sekarang.
Air mata Aleeya kembali mengalir, setiap hari ia terus menangisi keadaanya yang menyedihkan. Ia ingin segera pulang dan berkumpul dengan keluarganya.
...
“Alice!” panggil Viktor dari ruang kerja. “Alice!” lanjutnya.
Alice segera menuju ruang kerja tuan Viktor.
“Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanya Alice.
“Lama sekali! Buatkan aku kopi seperti biasa” jawab Viktor, tampak raut kekesalan di wajah tampannya itu.
“Baik tuan” jawab Alice sopan.
Alice sangat tahu sifat tuan mudanya itu, pemarah dan keras kepala. Tapi rasa sayang kepada tuan mudanya tak pernah hilang, semakin hari semakin besar layaknya sayang seorang ibu kepada anaknya.
Setelah selesai membuat kopi sesuai perintah Viktor, Alice kemudian memanggil Aleeya.
“Aleeya!” panggil Alice.
Aleeya yang sedang membersihkan piring kotor bekas makan malam tadi langsung menghampiri Alice.
“Iya ada apa Alice?” jawab Aleeya.
“Berikan kopi ini kepada tuan Viktor” perintah Alice.
“Baiklah” jawab Aleeya seraya mengambil secangkir kopi dari tangan Alice.
“Jangan membuat kesalahan” kata Alice memperingati.
Aleeya hanya mengangguk tanda mengerti, setelah itu ia berjalan menuju ruang kerja Viktor.
“Tok… tok… tok”
Aleeya mengetuk pintu perlahan, namun tidak ada suara jawaban dari dalam.
“Tok… tok… tok” ketuk Aleeya lagi.
Hening.
“Maaf tuan, saya Aleeya ingin memberikan kopi” kata Aleeya dengan suara sedikit diperbesar.
Tidak ada jawaban.
“Sepertinya tuan Viktor ketiduran” kata Aleeya dalam hati, ia kemudian membuka pintu dan masuk perlahan.
__ADS_1
Ini adalah pertama kalinya Aleeya memasuki ruang kerja Viktor, untuk urusan bersih-bersih kamar dan ruang kerja yang dianggap sebagai privasi hanya Alice lah yang boleh memasukinya.
Pertama kali memasuki ruang kerja ini Aleeya dihadapkan dengan beberapa rak buku yang sangat tinggi, puluhan bahkan ratusan buku terdapat disini.
“Tuan Viktor ternyata hobi membaca” kata Aleeya dalam hati.
Aleeya terus mencari meja kerja Viktor, hingga mata indahnya bertemu dengan sebuah foto keluarga berukuran besar yang sudah berdebu. Ada seorang anak laki-laki kecil yang tampan sedang menggenggam kedua tangan orang tuanya, tampak raut kebahagian di wajah ketiganya.
“Pasti ini tuan Viktor, dia tampan sekali” kata Aleeya dalam hati.
Dibawah foto keluarga yang berukuran besar itu, terdapat sebuah meja kecil dengan sebuah foto berukuran kecil di atasnya. Aleeya kemudian menuju meja kecil itu, ia melihat foto Viktor ketika masih remaja dengan seorang pria tua yang diyakini Aleeya sebagai ayahnya.
“Dimana ibu tuan Viktor? Kenapa di foto ini tidak ada?” tanya Aleeya dalam hati, ia bertanya-tanya di dalam hatinya sambil terus memperhatikan foto berukuran besar dan kecil itu bergantian.
Tanpa Aleeya sadari seorang pria tinggi dan dingin baru saja hendak keluar ruangan dan mendapati dirinya tengah berdiri menatap dua foto keluarga.
“Apa yang kau lakukan!” bentak Viktor tiba-tiba.
Bentakan Viktor membuat Aleeya terkejut, tanpa sadar secangkir kopi yang ia pegang jatuh ke lantai.
“Prakkkkkk”
Terdengar suara nyaring cangkir pecah.
Viktor menatap Aleeya kesal. “Dasar ceroboh!” bentaknya lagi.
Aleeya menahan rasa sakit di kulit, tumpahan kopi panas itu membasahi kedua kakinya. Belum lagi bentakan Viktor yang menyakitkan.
“Apa kau tidak bisa memegang cangkir dengan baik?!” kata Viktor lagi, mata tajam itu masih menatap Aleeya lekat.
Aleeya menunduk tidak berani menatap mata tuannya, rasa sakit masih menyelimuti kaki putihnya.
Viktor kemudian berjalan mendekati Aleeya, ia menarik dagu wanita itu. Tampak cairan hangat telah membasahi wajah cantiknya.
“Maafkan saya tuan” kata Aleeya pelan, bulir-bulir hangat itu masih saja terus mengalir.
“Jangan pernah lakukan kesalahan lagi!” kata Viktor menatap mata Aleeya.
“Baik tuan” jawab Aleeya pelan, ia kemudian menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa perih di kakinya.
Viktor melihat raut kesakitan dari wajah Aleeya, ia kemudian melepaskan cengkramannya dari wajah wanita itu.
Aleeya kemudian berjongkok untuk membersihkan pecahan kaca dan melihat kakinya yang sudah memerah.
Viktor mengikuti tatapan mata Aleeya, tampak kaki yang semula putih menjadi kemerahan. Tanpa berpikir panjang ia kemudian menggendong wanita itu.
“Turunkan saya tuan Viktor” pinta Aleeya yang kaget karena tiba-tiba tuan Viktor menggendongnya.
“Diam!” bentak Viktor, Aleeya kemudian menutup rapat mulutnya.
Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Alice.
“Aleeya kenapa tuan?” tanya Alice, setelah mendengar suara pecahan barang ia kemudian menuju ruang kerja tuan Viktor.
Viktor tidak menjawab. “Bersihkan pecahan kaca di ruang kerjaku!” perintahnya kemudian berjalan melewati Alice.
Alice melihat kepergian tuannya dengan seulas senyuman. “Sepertinya hati tuan Viktor perlahan melunak” katanya dalam hati, ia kemudian bergegas ke ruang kerja itu.
Aleeya yang masih dalam gendongan Viktor hanya bisa diam, ia tidak berani membuka suara. Viktor membawanya ke sebuah kamar yang lumayan besar, Aleeya pernah dengar dari Alice bahwa kamar ini adalah kamar khusus tamu.
Viktor kemudian membaringkan Aleeya di atas tempat tidur.
“Jangan ceroboh!” kata Viktor. “Aku akan memanggilkan Alice untuk mengobatimu” lanjutnya kemudian berlalu.
Aleeya melihat kepergian tuan Viktor dengan raut kebingungan.
“Tidak biasanya tuan Viktor berbuat seperti ini, apa? Apa tadi dia menggendongku?” tanya Aleeya tak percaya, tak berapa lama kemudian seukir senyuman terbit dari wajah cantiknya.
“Tuan Viktor sepertinya adalah pria yang baik, hanya saja sifat dingin dan kejamnya lebih mendominasi” kata Aleeya lagi.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki seseorang, Alice memasuki kamar itu sambil membawa kain dan air dingin. Ia kemudian mengompres kedua kaki Aleeya dengan air dingin itu, Aleeya hanya diam sambil sesekali menatap wajah Alice.
“Wanita yang dingin, tapi aku tahu Alice sebenarnya adalah sosok yang baik” kata Aleeya dalam hati.
Banyak hal yang membuat Aleeya penasaran, ia dikelilingi oleh orang-orang yang bersikap dingin. Alice, Viktor dan si tua Arthur. Tiga serangkai yang sangat aneh dan dingin, melihat wajahnya saja seseorang mungkin akan memilih untuk menghindar daripada bertemu ataupun ber pas-pasan.
“Makanya kau jangan ceroboh” kata Alice sambil terus mengompres kaki Aleeya. “Untung hanya cangkir yang kau jatuhkan, jika yang jatuh adalah salah satu foto keluarga tuan Viktor, aku yakin dia pasti akan membunuhmu!” lanjutnya.
Bulu kuduk Aleeya berdiri, bukan tidak mungkin jika seorang Viktor melakukan hal sekejam itu. Pria kejam, dingin dan tentu kaya pasti akan menyembunyikan segala perbuatannya kejinya. Membayangkannya saja Aleeya sudah gemetar ketakutan, ia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan bertindak ceroboh lagi.
Alice terlihat tersenyum di balik wajah dinginnya, perkataan yang dibuat-buat olehnya ternyata dapat membuat Aleeya ketakutan. Lihat saja ekspresi ketakutan dan kecemasan yang menyelimuti wajah cantiknya.
“Aku berjanji tidak akan ceroboh lagi” kata Aleeya lesu.
Alice hanya diam tak merepon. Setelah selesai mengompres kaki Aleeya, ia kemudian beranjak keluar dari kamar itu.
“Terima kasih Alice” kata Aleeya tulus.
Alice kembali berbalik menghadap Aleeya, ujung bibirnya terangkat sedikit bahkan sangat sedikit. Setelah itu ia melangkah pergi meninggalkan kamar itu.
“Benar-benar sangat dingin” gerutu Aleeya dalam hati.
.
.
.
__ADS_1
MENGGAPAIMU