MENGGAPAIMU

MENGGAPAIMU
HANAFI & NATASYA #2


__ADS_3

Sudah hampir seminggu Natasya pulang ke rumah orang tuanya, ia bahkan tidak membalas dan mengangkat telpon dari suaminya. Ia ingin membuat suaminya itu tegas, tidak plin plan.


“Maafkan aku Hanafi, aku ingin kamu tegas dalam memilih, aku tidak ingin di madu” batin Natasya.


Seperti memiliki kontak batin yang kuat dengan Hanafi, tak berapa lama kemudian terdengar panggilan dari Hanafi.


Natasya mulai berpikir. “Angkat tidak ya? Angkat? Tidak! Angkat? Tidak! Angkat!” tanya Natasya dalam hati. “Oke fiks aku angkat” lanjutnya.


“Assalamu’alaikum” sapa Hanafi.


“Wa’alaikumussalam” jawab Natasya datar.


“Bagaimana kabar kamu?” tanya Hanafi.


“Alhamdulillah aku baik” jawab Natasya lagi.


Obrolan antara keduanya sangat datar.


“Gimana kabar Aleeya? Aku dengar ia telah melahirkan” tanya Hanafi.


“Alhamdulillah kabarnya baik” jawab Natasya.


Hening.


“Aku ke rumah kamu ya” kata Hanafi.


“Untuk apa?” tanya Natasya, tentu saja ia tahu untuk apa suaminya datang. Ia hanya ingin mendengar langsung jawaban dari Hanafi.


“Tentu saja aku ingin menjemput kamu” jawab Hanafi.


“Aku tidak mau pulang sebelum kamu tegas milih diantara aku atau Tania” kata Natasya tegas, nadanya penuh penekanan.


“Aku milih kamu sayang” kata Hanafi. “Sejak kejadian kemarin Tania tidak pernah datang lagi, aku selalu kepikiran kamu” lanjutnya jujur.


“Kemana dia? Apa karena dia tidak datang, kamu jadi memilih aku?” tanya Natasya.


Hanafi menghembus nafas pasrah. “Aku tidak pernah memilihnya sayang” jawab Hanafi.


“Bohong! Kamu pernah membawanya ke rumah kita, itu berarti kamu telah memilihnya” kata Natasya sedikit emosi.


“Sudah aku bilang, aku khilaf sayang” kata Hanafi sungguh-sungguh.


“Aku tidak percaya! Kamu pasti akan mempermainkanku lagi” jawab Natasya.


Hanafi hanya terdiam, istrinya sungguh tidak mempercayai dirinya.


“Kamu kenapa selalu membesarkan masalah? Aku telah menjelaskan semuanya, tapi kamu tetap tidak percaya” jawab Hanafi dengan nada mulai meninggi.


Natasya yang mendengar perkataan Hanafi meneteskan air mata.


“Apa kamu bilang? Aku selalu membesarkan masalah? Kamu gak pernah ngertiin perasaan aku!” jawab Natasya emosi, air mata mengalir deras di pipinya yang putih itu.


Hanafi yang mendengar jawaban istrinya tampak bersalah, tak seharusnya ia berkata begitu.


“Maafin aku sayang” kata Hanafi lagi, kali ini ia benar-benar menyesal.


“Aku gak percaya sama kamu!” jawab Natasya kemudian menutup telpon.


Hiks


Hiks

__ADS_1


“Kamu sadar gak sih? Ini kesalahan kamu, kenapa malah nyalahin aku? Kamu memang gak pernah mencintai aku dengan tulus” batin Natasya.


Di lain tempat, Hanafi tengah menjambak rambutnya frustasi. Bukannya berbaikan malah menambah keadaan semakin memburuk.


....


Natasya sedang membuat sarapan pagi, perdebatannya dengan Hanafi membuat hari-harinya berantakan. Ia selalu memikirkan suaminya itu, akan dibawa kemana bahtera rumah tangga ini?


Drrrttt… Drrrttt… Drrrrtttt…


Handphone Natasya bergetar, suaminya menelpon.


Raut wajah Natasya berubah kesal, tapi ia merindukan suaminya itu.


“…”


“Wa’alaikumussalam, ada apa?” tanya Natasya.


“Aku gak tau kamu peduli apa enggak, tapi Zeva sedang sakit sekarang. Dia manggil nama kamu terus” jawab Hanafi, terdengar nada kekhawatiran dari suaranya.


Apa? Zeva sakit?


Walaupun Natasya bukan ibu kandung Zeva, tapi ia sangat menyayangi anak itu. Dari awal ia telah jatuh hati pada Zeva.


“Kalian dimana sekarang?” tanya Natasya khawatir.


“Kami di rumah sakit Kasih Ibu” jawab Hanafi.


“Baiklah aku akan segera kesana” kata Natasya.


Sambungan telpon pun terputus.


Di Rumah Sakit


“Bagaimana keadaan Zeva?” tanya Natasya.


Hanafi kemudian menatap wajah istrinya sedih. “Aku tidak tahu, dokter sedang memeriksa keadaannya” jawab Hanafi.


Keheningan tercipta di antara mereka hingga dokter keluar dari ruangan.


“Bagaimana keadaan anak kami dok?” tanya Hanafi dan Natasya berbarengan.


Dokter kemudian menatap pasangan suami istri yang diliputi oleh kecemasan itu.


“Anak bapak ibu terkena typus, tapi sekarang telah ditangani. Ibu bapak tidak perlu cemas, Zeva akan segera sembuh” jawab Dokter.


“Alhamdulillah” jawab Hanafi dan Natasya.


“Apakah kami boleh melihatnya dok?” tanya Natasya.


“Boleh, silahkan masuk pak buk” jawab dokter kemudian berlalu.


Natasya dan Hanafi kemudian memasuki ruangan Zeva, tampak gadis kecil itu tengah tertidur dengan damai.


“Papa, mama Natasya. Zeva kangen” racau Zeva ketika tidur, matanya masih terpejam.


Hanafi dan Natasya yang mendengar suara Zeva lantas menggenggam jari putri kecilnya itu.


“Sayang, mama disini” kata Natasya sendu.


“Papa juga disini sayang” kata Hanafi.

__ADS_1


Perlahan kelopak mata gadis itu terbuka, ia memandangi wajah dua orang yang menatapnya sedih.


“Mama Natasya” panggil Zeva.


“Iya sayang, mama disini” jawab Natasya seraya mendekatkan wajahnya ke Zeva.


“Papa” panggil Zeva.


“Iya sayang, papa juga disini” jawab Hanafi sambil membelai rambut putri kecilnya.


Zeva kemudian menatap Natasya kembali. “Maafin Zeva ya ma, Zeva janji gak akan pergi kemana-mana tanpa izin mama” kata Zeva.


“Iya sayang, mama udah maafin Zeva” jawab Natasya, matanya sudah memerah dipenuhi cairan hangat.


Zeva kemudian menatap Hanafi. “Pa, papa jangan berantem lagi ya sama mama Natasya. Zeva pengen tinggal sama mama Natasya terus” pinta Zeva.


Hanafi kemudian menatap Natasya. “Iya sayang, papa janji gak akan berantem lagi sama mama Natasya” jawab Hanafi.


Zeva mengeratkan genggaman tangan Natasya. “Mama Natasya masih mau kan jadi mama Zeva?” tanya Zeva serius, mata indahnya menatap Natasya penuh harap.


“Iya sayang, mama masih mau sekali jadi mama Zeva” jawab Natasya.


Hanafi kemudian menatap Natasya lekat, diraihnya telapak tangan Natasya. “Terima kasih telah hadir di kehidupan kami” kata Hanafi sambil menggenggam erat jari-jari Natasya.


“Aku juga berterima kasih sama kamu dan Zeva karena telah menerima aku di keluarga kalian” jawab Natasya.


Hanafi dan Natasya kemudian memeluk Zeva erat, keluarga kecil ini kembali bersama.



Setelah Zeva terlelap dalam tidurnya, Hanafi melihat Natasya tidur sambil menggenggam tangan Zeva.


“Sayang, bangun” kata Hanafi sambil menepuk pelan bahu Natasya. “Kamu tidur di sofa aja, nanti badan kamu jadi sakit kalau tidur sambil duduk” lanjutnya.


Natasya membuka matanya perlahan, ia menatap Hanafi yang hendak berlalu. Natasya memegang tangan Hanafi dari belakang.


“Aku mau bicara sama kamu” kata Natasya, Hanafi pun mengangguk.


Natasya dan Hanafi bicara di luar ruangan, takut jika Zeva terbangun nantinya.


“Maafin aku udah egois selama ini” kata Natasya membuka pembicaraan.


“Bukan kamu yang egois, tapi aku” jawab Hanafi. “Aku seharusnya bersyukur karena kamu udah mau menerima keluarga kecilku, menerima Zeva dengan baik” lanjutnya.


Hanafi kemudian menarik kedua tangan Natasya.


“Kamu mau kan maafin aku?” tanya Hanafi serius, tidak ada tanda-tanda kebohongan di matanya.


“Aku udah maafin kamu dari kemarin, maafin aku juga Han” jawab Natasya.


“Aku juga udah maafin kamu sayang” kata Hanafi kemudian memeluk istrinya erat.


Natasya kemudian membalas pelukan Hanafi dengan sama eratnya. “I love you” kata Natasya masih di dalam dekapan Hanafi.


“I love you too, sayang” jawab Hanafi. “Jangan pernah tinggalin aku sama Zeva lagi, kami butuh kamu” lanjutnya.


“Aku gak akan ninggalin kalian, terima kasih telah menjadikanku orang yang sangat istimewa” jawaban Natasya.


.


.

__ADS_1


.


MENGGAPAIMU


__ADS_2