
Setelah kepergian Viktor, Aleeya kembali mengelilingi rumah ini. Setiap sudut ia kunjungi, tapi semua terasa asing baginya.
"Apa kecelakaanku separah itu?" tanya Aleeya dalam hati. "Mengapa aku tidak memiliki ingatan apa pun tentang rumah ini?" lanjutnya sambil terus berpikir.
"Nona, apakah ada yang perlu saya bantu?" tanya Alice yang sedari tadi memperhatikan Aleeya berkeliling.
Aleeya menoleh ke arah Alice. "Tidak, tidak ada Alice. Aku hanya sedikit bingung" jawabnya.
"Apa yang nona bingungkan?" tanya Alice sambil menatap Aleeya.
Aleeya tampak berpikir sejenak. "Hemm mengenai dirimu, sudah berapa lama menjadi pelayan rumah ini?" tanyanya memastikan.
"Aku sudah mengabdi di rumah ini sejak tuan masih sangat kecil" jawab Alice.
"Lalu di mana orang tua Viktor?" tanya Aleeya penasaran.
Alice tidak langsung menjawab, ia tampak sedang berpikir.
"Ada apa Alice? Kenapa diam?" tanya Aleeya bingung.
"Nona, ikutlah denganku" pinta Alice kemudian berjalan menuju sebuah ruangan.
Aleeya yang mendengar itu segera mengikuti Alice, tibalah mereka di sebuah ruangan yang penuh akan buku-buku dan tampak seperti ruang kerja.
"Ini adalah ruang kerja tuan Viktor" kata Alice.
Aleeya memperhatikan seluruh ruang kerja Viktor dengan seksama.
"Benar-benar penuh dengan buku dan laporan pekerjaan" batin Aleeya. "Viktor pasti sangat bekerja keras" lanjutnya.
Aleeya masih sibuk memperhatikan sekitar, hingga pandangannya terhenti pada sebuah foto keluarga berukuran besar yang terpampang di dinding ruangan ini.
Foto ini memperlihatkan sebuah keluarga yang terdiri dari seorang wanita, seorang pria dan juga anak laki-laki mereka yang tampan. Ketiganya tersenyum sangat lebar, benar-benar keluarga yang harmonis!
"Anak laki-laki ini pasti Viktor" batin Aleeya. "Ternyata dia sudah tampan sejak kecil" lanjutnya.
"Seperti yang nona lihat, anak laki-laki ini adalah tuan Viktor" kata Alice membuka pembicaraan kembali. "Sedangkan wanita dan pria pada foto ini adalah ayah dan ibu dari tuan Viktor" lanjutnya.
Aleeya mengangguk mengerti. "Lalu di mana mereka sekarang?" tanyanya ingin tahu.
"Mereka sudah tidak ada nona" jawab Alice, wajahnya terlihat sedih.
"Tidak ada bagaimana Alice?" tanya Aleeya penasaran.
"Tuan Viktor sudah menjadi yatim piatu sejak kecil" jawab Alice singkat.
Aleeya yang mendengar itu terlihat simpati. "Viktor pasti sangat kesepian" katanya lirih.
Alice memandangi Aleeya dengan tatapan yang sulit diartikan, ia kemudian memegang kedua tangan Aleeya.
Mendapatkan perlakuan tiba-tiba dari Alice membuat Aleeya terkejut. "Ada apa Alice?" tanyanya.
"Nona, saya melihat tuan tumbuh dalam kesepian sejak kecil. Senyumnya yang dulu lebar kini sudah hilang, hatinya yang hangat menjadi dingin karena tidak mendapat kasih sayang" kata Alice sambil menatap mata Aleeya lekat. "Nona, saya mohon tetaplah di samping tuan" pintanya sangat.
"Pantas saja dia menjadi pria yang dingin" kata Aleeya dalam hati.
"Tentu saja Alice, aku adalah istrinya. Aku akan selalu ada di sampingnya tanpa perlu kamu pinta seperti ini" balas Aleeya sambil tersenyum.
"Terima kasih nona" kata Alice sambil tersenyum kaku.
"Sama-sama. Oiya Alice, sebenarnya masih ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku" kata Aleeya.
"Apa itu nona?" tanya Alice.
"Terkait orang tua Viktor, apa mereka mengalami kecelakaan?" tanya Aleeya penasaran.
Alice berpikir sejenak. "Apa boleh aku beri tahu?" tanyanya dalam hati.
"Hemm, soal itu. Bagaimana kalau nona bertanya langsung kepada tuan?" tanya Alice balik.
"Baiklah, jika waktunya tepat aku akan bertanya langsung kepadanya" jawab Aleeya.
Alice tersenyum simpul.
"Nona, silahkan anda istirahat dulu. Anda masih belum sepenuhnya pulih" kata Alice mengingatkan.
"Baiklah, aku akan istirahat. Terima kasih sudah menemaniku berkeliling Alice" balas Aleeya.
"Tidak apa nona, itu adalah tugas saya" jawab Alice.
__ADS_1
Aleeya kemudian berlalu meninggalkan Alice dan menuju kamarnya untuk beristirahat.
"Sebenarnya masih banyak yang ingin kuketahui tentang Viktor, tapi sepertinya Alice sangat berhati-hati" batin Aleeya. "Ah aku istirahat dulu, kepalaku tiba-tiba terasa pusing" lanjutnya kemudian merebahkan tubuh.
Tak berapa lama kemudian tampak Aleeya sudah tertidur dengan damai.
Jam menunjukkan pukul 4 sore, terlihat Aleeya sedang sibuk membersihkan diri. Ia kemudian memakai baju yang cantik dan merias diri, pagi tadi Viktor berjanji akan pulang sebelum matahari terbenam.
Aleeya menunggu di sofa ruang tamu untuk menyambut kepulangan suaminya, tak berapa lama kemudian terdengar suara langkah kaki masuk melewati pintu.
"Sayang!" panggil Aleeya kemudian berjalan ke arah Viktor. "Bagaimana harimu?" tanyanya sambil tersenyum.
Viktor memasuki rumah dengan wajah lelah, hari ini ada beberapa proyek perkapalan yang menguras pikiran dan tenaganya. Sebenarnya ia masih harus menyelesaikan beberapa laporan lagi, tapi karena Arthur terus-menerus mengatakan bahwa Aleeya sudah menunggunya di rumah, maka berakhirlah ia pulang tepat waktu.
Viktor mengerhitkan dahinya. "Apa ini? Apa dia berdandan?" tanyanya dalam hati.
"Sayang, kenapa diam saja?" tanya Aleeya lagi.
"Ah, kamu tanya apa tadi?" kata Viktor malah balik bertanya.
"Huh! Kamu tidak mendengarku" jawab Aleeya kesal.
"Jangan marah begitu" kata Viktor sambil menatap Aleeya. "Hari ini banyak pekerjaan di kantor, aku lelah makanya tidak fokus" lanjutnya membujuk.
"Baiklah" balas Aleeya, senyumnya perlahan terbit kembali. "Ayo sini buka jasmu" lanjutnya sambil membuka perlahan jas Viktor.
Viktor yang kaget segera mundur, belum pernah ada seorang pun yang menyambutnya seperti ini. "Tidak, biar aku saja yang membukanya" katanya kaku.
"Tidak perlu sungkan" balas Aleeya. "Aku kan istrimu, aku akan seperti ini setiap hari" lanjutnya sambil membuka jas Viktor.
"Apa?! Setiap hari?!" tanya Viktor dalam hati.
Viktor hanya pasrah dengan tindakan Aleeya.
"Baiklah ayo segera mandi" kata Aleeya sambil memegang lengan Viktor.
"Ah iya, apa perlu seperti ini?" tanya Viktor kaku.
"Seperti ini apa?" tanya Aleeya bingung.
"Ya aku akan mandi, tapi kenapa kamu memegang lenganku?" tanya Viktor.
"Ya, boleh-boleh saja" jawab Viktor kaku.
Tidak mendapat penolakan dari Viktor, Aleeya kemudian membawa suaminya itu ke kamar.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Viktor kaget ketika Aleeya mencoba melepaskan dasinya.
"Tentu saja membukakan dasimu" jawab Aleeya santai.
"Aku bisa membukanya sendiri" balas Viktor sambil menurunkan pelan tangan Aleeya di dasinya.
"Aku hanya ingin melayanimu" kata Aleeya sedih.
Viktor mengerhitkan kedua alisnya tanda berpikir. "Melayaniku? Kalau ingin melayaniku bukan begini caranya" balasnya.
"Lalu bagaimana?" tanya Aleeya asal.
Dalam hatinya, Aleeya hanya ingin membuat hubungannya dengan Viktor menjadi hangat, bukankah dia telah berjanji untuk mencintai suaminya itu? Apalagi cerita Alice tentang Viktor tadi pagi sangat mengusik hatinya, cerita tentang masa kecil yang sangat jauh dari kata menyenangkan.
"Hem bagaimana kalau malam ini kita...."
Viktor belum menyelesaikan kalimatnya.
"Tidak bisa malam ini!" potong Aleeya cepat.
"Kenapa?" tanya Viktor serius.
"Aku sedang menstruasi" jawab Aleeya dengan senyum menjengkelkan. "Jadi tidak bisa" lanjutnya
"Ada apa dengan senyuman itu?" tanya Viktor kesal.
"Kenapa dengan senyumanku?" tanya Aleeya sambil tertawa.
"Sudah, lupakan!" jawab Viktor kesal, ia kemudian segera masuk ke kamar mandi.
"Sayang ada apa?!" tanya Aleeya panik, ia menggedor-gedor pintu kamar mandi yang telah ditutup oleh Viktor.
Tidak ada jawaban.
__ADS_1
"Sayang, buka pintunya" teriak Aleeya dari luar.
Masih tidak ada jawaban.
"Bagaimana ini? Apa dia kesal?" batin Aleeya.
Aleeya masih menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Ceklek"
"Ada apa?" tanya Viktor sambil memakai handuk di pinggangnya.
"Apa kamu marah?" tanya Aleeya.
"Menurutmu?" tanya Viktor lagi.
"Yahh, kamu marah ya. Maaf... Maaf" kata Aleeya lembut.
"Kalau begitu bantu aku" balas Viktor.
"Bantu apa?" tanya Aleeya bingung.
"Sudah masuk saja" jawab Viktor sambil menarik pelan Aleeya masuk ke kamar mandi.
Viktor menutup pintu kamar mandi dan mendorong pelan tubuh Aleeya ke dinding, ia kemudian mendekatkan dirinya ke hadapan istrinya itu.
Deg.
Jantung Aleeya berdetak kencang.
"Bantu aku mandi, keramasi rambutku" kata Viktor di telinga Aleeya.
Mendengar itu wajah Aleeya memerah.
"Sekarang" kata Viktor lagi.
Viktor kemudian menghidupkan shower dan membasahi rambutnya.
"Sayang, pakaikan aku shampoo" kata Viktor.
Aleeya kemudian mengambil shampoo dan mengoleskannya di rambut Viktor.
"Menundukklah, aku tidak sampai" kata Aleeya sambil berjinjit.
"Haha baiklah, istriku ternyata pendek" balas Viktor sambil tertawa.
"Apa? Pendek? Kamu yang terlalu tinggi" kata Aleeya tak terima.
Aleeya kemudian mengucek-ngucek rambut Viktor yang sudah diberi shampoo. "Rasakan ini" katanya kesal.
"Duh, hentikan! Mataku perih" balas Viktor sambil mengucek-ngucek matanya.
"Makanya jangan membuatku kesal" kata Aleeya sambil mengucek-ngucek kembali rambut Viktor.
Karena pergerakan yang tidak terkendali, Aleeya terpeleset dan tubuhnya jatuh ke arah Viktor. Viktor yang sedang mengucek-ngucek matanya tidak dapat menahan tubuh Aleeya, dan berakhirlah mereka berdua jatuh ke lantai di bawah guyuran shower.
Deg.
Viktor menatap wajah Aleeya yang basah, mata indah dengan bulu mata lentik itu terlihat sangat cantik. Tanpa sadar tangannya memegang wajah istrinya itu, ia kemudian menghilang jarak antar dirinya dengan Aleeya.
Cup.
Viktor mencium Aleeya lembut, Aleeya yang mendapat perlakuan tiba-tiba dari Viktor tampak kaget.
Deg.
Jantung Aleeya berdetak kencang, suaminya terlihat sangat tampan dari jarak yang dekat ini.
Melihat tidak ada penolakan dari Aleeya, Viktor pun memperdalam ciumannya.
"Sial! Aku tidak bisa berhenti!" umpatnya dalam hati.
Sementara Aleeya mulai membalas ciuman suaminya itu, ia sudah terbawa suasana. Aleeya kemudian menggantungkan kedua tangannya di leher Viktor, kali ini ia yakin kalau hatinya sudah mulai terisi dengan nama pria yang ada di hadapannya itu.
.
.
.
__ADS_1
MENGGAPAIMU