
"Arthur!" teriak Viktor dari dalam ruangan.
Teriakan Viktor membuka pagi yang menegangkan ini.
"Ya tuan" jawab Arthur sigap.
"Apakah semua sudah siap?" tanya Viktor.
"Sudah tuan" jawabnya. "Pernikahan akan dimulai pukul 8 pagi" lanjutnya.
"Bagus!" balas Viktor.
"Dimana wanita itu? tanya Viktor lagi.
"Alice sedang menyiapkannya tuan" jawab Arthur.
Viktor tersenyum sinis, rasanya hari ini ia akan memulai semua balas dendamnya.
"Tuan" kata Arthur. "Maaf jika saya lancang, tapi apakah dengan adanya pernikahan ini bisa membuat Anda puas?" lanjutnya.
Viktor menaikkan sedikit ujung bibirnya. "Puas katamu? Mana mungkin! Pernikahan ini baru permulaannya saja" jawabnya. "Aku akan membuat dia tersiksa sampai rasanya ingin mati!" lanjutnya.
Sementara di sebuah kamar, Aleeya sedang menangis meratapi nasibnya yang tragis. Melihat pantulan dirinya di cermin membuatnya sangat frustasi, apalagi sambil memakai gaun pernikahan ini. Bayangan wajah suaminya Faiz dan anaknya Syifa membuat hatinya semakin sakit, ia ingin kembali.
"Tidak ada gunanya kau menangis" kata Alice. "Ayo segera turun ke bawah" lanjutnya.
Aleeya memegang tangan Alice sambil menatapnya lekat. "Aku tidak ingin menikah, tolong bantu aku pergi dari sini Alice. Bantu aku sekali ini saja" pintanya.
"Apa kau sudah gila?" tanya Alice murka. "Jangan bicara omong kosong, segera turun" lanjutnya.
Membantu Aleeya pergi dari sini? Tidak mungkin! Alice memang kasihan kepadanya, tapi rasa sayang Alice kepada Viktor jauh lebih besar. Melihat Viktor sudah menderita sejak kecil, ditambah lagi kematian ayahnya membuat Alice berjanji akan selalu berada di samping Viktor. Dia sudah menganggapnya seperti anak sendiri, di keluarga ini hanya Alice dan Arthur yang Viktor miliki.
"Aku tidak mau menikah, aku tidak mau!" kata Aleeya dengan nada sedikit meninggi.
Tanpa menjawab, Alice terpaksa menarik keras tangan Aleeya. Sementara Aleeya meronta-ronta ingin dilepaskan. "Lepaskan aku Alice, lepas" pintanya sambil menangis. Tapi Alice seakan tuli, ia terus membawa Aleeya turun ke lantai bawah.
"Kenapa lama sekali? Panggilkan wanita itu!" perintah Viktor tidak sabar, bagaimana mungkin dia yang menunggu.
"Dia sudah di sini tuan" kata Alice.
Viktor menatap Aleeya tajam, matanya seakan ingin menghancurkannya hingga tak bersisa.
"Cepat ke sini!" perintah Viktor kepada Aleeya.
Tapi Aleeya tak berkutik, ia masih diam di tempat. Kakinya seolah enggan untuk melangkah.
"Apa kau tuli?" tanya Viktor murka.
Masih tak ada jawaban.
__ADS_1
"Pengawal, seret dia ke hadapanku!" perintah Viktor.
Pengawal bergegas menyeret Aleeya dan menjatuhkannya di hadapan Viktor, ia kemudian menarik keras dagu Aleeya.
"Jangan membantahku, atau kau akan tahu akibatnya!" ancam Viktor.
Aleeya diam sambil menatap wajah Viktor, tanpa terasa bulir hangat mulai membasahi wajahnya.
"Arthur, cepat mulai pernikahannya ini!" perintah Viktor kemudian melepaskan cengkeramannya di dagu Aleeya.
"Bagaimana saksi?"
"SAH!"
Sebuah kata yang sangat Aleeya takuti terucap sudah, ia merasa telah mengkhianati cintanya dengan suaminya, Faiz. Ia menyentuh dadanya yang terasa sesak, perasannya sangat perih.
Viktor sangat senang melihat penderitaan yang dialami Aleeya, ia kemudian mendekatkan kepalanya ke telinga wanita yang baru saja dinikahinya itu. "Selamat datang di kehidupan penuh siksa, istriku" bisiknya.
Aleeya yang mendengar itu bergidik ngeri, perlakuan Viktor beberapa hari ini sudah sangat menyakiti fisik dan hatinya. Ia sangat takut apa lagi yang akan dihadapi nanti.
"Arthur, bawakan hadiah pernikahanku!" perintah Viktor.
"Baik tuan" jawab Arthur.
Viktor kemudian memberikan sebuah kotak berlapis pita besar kepada Aleeya. "Ini hadiah dariku" katanya.
Aleeya memegang kotak yang diberikan Viktor kepadanya. Sejujurnya ia sangat takut untuk membukanya, tapi ia juga penasaran dengan apa yang ada di dalam kotak ini.
Di dalam kotak itu terdapat selembar foto yang memperlihatkan orang yang sangat Aleeya rindukan, Faiz. Aleeya merasa perih dan marah saat melihat kedua tangan Faiz di borgol oleh pihak berwajib.
"Tentu saja hadiah" kata Viktor tersenyum puas.
"Apa yang kau lakukan kepada suamiku?" teriak Aleeya.
Mendengar teriakan Aleeya, Viktor menjadi sangat marah.
"Berani sekali kau meninggikan suaramu!" bentak Viktor seraya meremas kuat kedua lengan Aleeya.
Aleeya menahan seluruh rasa perih di lengannya, hatinya jauh lebih perih dan sakit daripada itu.
Viktor terlihat murka, ia menarik kedua lengan Aleeya hingga tubuhnya menabrak dada bidang Viktor.
"Jangan beraninya melawanku, atau aku hancurkan sekalian seluruh keluargamu!" ancam Viktor lagi. "Aku adalah suamimu! Ingat itu baik-baik. Kau adalah milikku nyonya Waldermar!" lanjutnya.
Viktor kemudian mencium paksa bibir Aleeya, ia ingin menunjukkan siapa pemiliknya saat ini. Sedangkan Aleeya tidak dapat menolak apa yang dilakukan Viktor kepadanya, ia hanya diam sambil terus menahan tangis yang keluar dari dua mata indahnya.
Viktor kemudian melepas cengkeramannya dari Aleeya, melihat tangisan di wajah wanita cantik itu membuatnya sangat senang.
"Arthur, segera hancurkan keluarga Sanjaya!" perintah Viktor kemudian berlalu meninggalkan Aleeya yang masih terkejut dengan apa yang barusan didengarnya.
__ADS_1
"Tuan Viktor, tunggu" kata Aleeya parau.
Viktor menghentikan langkahnya, tapi tidak membalikkan wajahnya.
Sesaat Aleeya mencoba mengatur deru napasnya, kemudian berjalan ke arah Viktor dan berjongkok di belakangnya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya, keputusannya sudah bulat.
"Aku akan menurutimu tuan Viktor" kata Aleeya tercekat, ia terus mengumpulkan keberanian dalam setiap perkataannya. "Tapi sebagai gantinya, jangan libatkan keluargaku" lanjutnya.
Hening, tidak ada jawaban dari Viktor.
Aleeya mengepal kuat kedua telapak tangannya, bulir-bulir hangat memenuhi kelopak matanya. "Aku akan melakukan apa pun, kumohon!" pinta Aleeya sangat.
Viktor tersenyum penuh kemenangan. Welcome baby!
"Buktikan setiap perkatanmu, aku tidak suka dipermainkan!" balas Viktor akhirnya, kemudian beranjak pergi.
Aleeya diam mematung melihat kepergian Viktor, hatinya perih. Tapi ini adalah keputusan yang harus diambilnya, ia tak ingin terjadi apa-apa kepada keluarga kecilnya. "Kak Faiz, maafkan aku" batinnya.
...
Di tempat lain, Viktor sedang tertawa puas. Ia senang dengan raut wajah sedih yang terpancar dari wajah Aleeya. Tapi yang membuatnya lebih senang adalah karena Aleeya akan menurutinya, dengan sedikit ancaman ternyata dapat melunakkan keras kepalanya wanita itu.
Arthur melihat Viktor dengan datar, ia tidak sadar sejak kapan tuan kecilnya ini berubah menjadi pria yang sangat kejam. Ada harapan di batin Arthur bahwa Aleeya bisa mengisi kekosongan di hati Viktor, melepaskannya dari setiap derita yang dialaminya selama ini.
"Arthur" panggil Viktor. "Lanjutkan rencana selanjutnya!" perintahnya.
"Baik tuan" jawabnya.
"Hancurkan seluruh keluarga Sanjaya, terutama pria yang bernama Faiz itu" kata Viktor dingin.
Seperti ada kekesalan yang tidak tergambarkan dalam diri Viktor kepada Faiz, apa karena Aleeya menyebutnya sebagai suaminya tadi? Cemburu? Hanya Viktor yang tahu jawabannya.
"Akan saya laksanakan" balas Arthur.
Viktor menatap sebuah foto keluarga yang terpampang di hadapannya, tampak seorang pria dewasa sedang merangkul seorang wanita dan anak laki-laki. Terlihat seperti keluarga yang sempurna.
"Ayah, akan kubalas setiap pengkhianatan yang kita alami!" tekad Viktor.
"Dan kau" kata Viktor sambil menatap seorang wanita yang ada di foto itu. "Semua yang kulakukan adalah salahmu, membusuklah di neraka!" lanjutnya.
Viktor sangat membenci wanita itu, tapi puncak kebenciannya adalah ketika melihat ayahnya meregang nyawa dengan meminum racun. Ayahnya sangat frustasi setelah kepergian wanita yang sangat dicintainya, Viktor melihat ketidakberdayaan ayahnya setiap hari.
"Ini semua karena ayahmu Aleeya, bersiaplah untuk hari-hari penuh penderitaan! kata Viktor. "Akan kubuat kau memikirkan bahwa mati jauh lebih baik daripada berada di sini!" lanjutnya menyeringai.
.
.
.
__ADS_1
MENGGAPAIMU