
Aleeya bergegas keluar dari kerumunan, ia mengambil langkah dengan hati-hati, takut kalau sampai para pengawal Viktor menyadari kepergiannya.
"Duh, jantungku berdetak kencang saking takutnya" kata Aleeya sambil melihat-lihat sekitar.
Aleeya kemudian melihat ada seseorang di sebrang jalan yang ditunjuk Greta tadi.
"Itu pasti orangnya Greta, aku harus cepat" kata Aleeya dalam hati. "Dalam hitungan ketiga aku harus segera lari, satu... dua... tiga" lanjutnya kemudian berlari sekencang mungkin.
Fokus Aleeya hanya harus sampai ke sebrang jalan sesegera mungkin, tanpa ia sadari ada sebuah mobil yang sedang melaju kencang tepat ke arahnya.
"Stirb du! (Mati kau!)" kata pengendara mobil itu, ia kemudian semakin mempercepat laju kendaraannya.
"Bruuuukkkk"
"Aaaaahhhh"
Suara tabrakan mobil bercampur dengan teriakan lirih Aleeya.
Tubuh Aleeya terpental jauh beberapa meter, rasa sakit yang amat sangat mulai menjalari kepalanya. Seketika pandangan Aleeya gelap, ia mulai tak sadarkan diri.
Setelah menabrak keras Aleeya, pengemudi mobil itu meninggalkan lokasi kejadian sesegera mungkin.
"Oh mein Gott, hier wurde jemand getroffen! (Oh Tuhan, seseorang tertabrak di sini!)" jerit seorang warga lokal yang menyaksikan tabrakan itu.
Mendengar jeritan itu, banyak orang di sekitar lokasi yang datang berkumpul. Tak terkecuali para pengawal yang diperintahkan Viktor untuk mengawasi Aleeya
"Bringen sie die frau sofort ins krankenhaus! (Segera bawa nona ke rumah sakit!)" kata salah seorang pengawal kepada pengawal yang lain.
Para pengawal segera membawa Aleeya pergi dari kerumunan, tabrakan keras membuat kondisinya sangat mengenaskan.
"Apa?!" teriak Viktor marah. "Dimana dia sekarang?"
"Nona sedang dalam perjalanan ke rumah sakit tuan" jawab Arthur.
"Putar balik, segera ke rumah sakit!" perintah Viktor.
"Baik tuan" jawab Arthur.
"Batalkan semua kegiatanku hari ini!" perintah Viktor lagi.
"Baik tuan" jawab Arthur.
Arthur memperhatikan wajah Viktor dari kaca mobil, rahangnya mengeras tanda marah, tapi terlihat juga raut wajah khawatir. Viktor terlihat tidak sabaran untuk melihat kondisi Aleeya, sepanjang jalan ia terus menyuruh supir untuk mempercepat laju mobilnya.
"Kita sudah sampai tuan" kata Arthur.
Viktor segera masuk ke dalam rumah sakit dan diikuti oleh Arthur beserta beberapa pengawal.
"Di mana dia?" tanya Viktor.
"Sebelah sini tuan" jawab Arthur.
Viktor tiba di ruang ICU, dilihatnya Aleeya terluka parah dengan kondisi mengenaskan.
"Tuan, dokter mengatakan untuk diambil tindakan operasi secepatnya" jelas Arthur.
"Cepat lakukan!" teriak Viktor. "Lakukan apa saja, asalkan dia selamat!" lanjutnya.
Para dokter dan perawat segera membawa Aleeya menuju ruang operasi, sedangkan Viktor, Arthur dan beberapa pengawal menunggu di depan ruangan.
__ADS_1
"Tuan, mengenai tabrakan nona Aleeya sepertinya disengaja" kata Arthur. "Para pengawal sedang mencari pengemudi mobil yang menabrak nona" lanjutnya.
Rahang Viktor kembali mengeras. "Cepat tangkap orang itu, jangan biarkan dia kabur!" perintahnya.
"Baik tuan" jawab Arthur.
Operasi memakan waktu beberapa jam, kecelakaan yang dialami Aleeya cukup parah. Nyawanya bisa saja tidak tertolong.
Beberapa waktu kemudian terlihat seorang wanita paruh baya berjalan terburu-buru ke arah Viktor, terpasang raut khawatir di wajahnya.
"Viktor, bagaimana kondisi Aleeya?" tanya wanita paruh baya itu panik.
Viktor mengepalkan kedua telapak tangannya, ia benar-benar marah.
"Apa yang sudah kau lakukan padanya Greta?!" teriak Viktor.
Greta yang diteriaki Viktor merasa kaget sekaligus takut. "Apakah dia sekhawatir itu pada Aleeya? Bukankah dia membencinya?" batinnya.
"Aku... Aku minta maaf Viktor" kata Greta sambil menangis, dia memasang raut wajah menyesal.
Rahang Viktor masih mengeras.
"Aku... Aku tidak tahu kalau dia kabur, semuanya terjadi begitu cepat" kata Greta masih sambil menangis. "Aku menyesal Viktor, maafkan aku" lanjutnya.
"Kau harus memaafkan bibimu ini" batin Greta, ia sangat yakin bahwa Viktor pasti akan memafkannya. Bukankah hubungan mereka sudah terjalin lama? Lagi pula Viktor juga sangat membenci wanita itu.
"Jangan pernah menemuinya lagi! Dan kau juga tidak diizinkan untuk menginjakkan kaki di rumahku!" kata Viktor penuh penekanan.
Greta melotot tidak percaya mendengar perkataan Viktor, apa ia tidak salah dengar?
"Tidak, tidak Viktor. Maafkan aku!" Aku ini bibimu kan? Jangan bersikap begitu padaku" katanya sambil menangis tersedu-sedu.
Viktor membuang napas kasar. "Pengawal, cepat bawa wanita ini pergi dari sini!" perintahnya keras.
Para pengawal segera menarik paksa Greta dan membawanya pergi dari hadapan Viktor. "Aleeya! Sampai mati pun kau tetap pembawa sial!" gerutu Greta dalam hati.
Setelah kepergian Greta, Viktor terlihat kembali duduk menunggu selesainya operasi Aleeya.
"Kau tidak boleh mati secepat ini!" tukas Viktor dalam hati, ia mengepal kuat telapak tangannya. "Kau masih harus menerima penderitaan dariku!" lanjutnya.
Tak berapa lama kemudian dokter keluar dari ruang operasi, terlihat beberapa perawat membawa Aleeya menuju ke ruangan lain. Melihat itu Viktor segera menemui dokter.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Viktor tidak sabaran.
"Operasi berjalan dengan lancar, tapi kami harus menunggu pasien sadar terlebih dahulu untuk memastikan keadaannya" jawab dokter tersebut.
Viktor mengangguk mengerti. "Apakah aku bisa melihatnya?" tanyanya.
"Bisa, tapi mohon untuk jaga kekondusifan ruangan" jawab dokter kemudian pamit dan berlalu.
Viktor segera ke ruangan Aleeya, ia melihat wanita itu sedang tertidur damai. Masih terlihat jelas beberapa bekas luka akibat kecelakaan tersebut, kondisi Aleeya sangat mengkhawatirkan terutama di bagian kepala.
"Kau pasti merasa kesakitan" kata Viktor kemudian duduk di pinggir tempat tidur.
"Apa kau sangat inginnya kabur dariku? Sampai tidak melihat ada mobil kencang yang melaju ke arahmu?" tanya Viktor.
Tentu saja tidak ada jawaban.
"Tuan" panggil Arthur.
__ADS_1
"Ada apa Arthur?" tanya Viktor tanpa menoleh, ia masih memperhatikan Aleeya yang sedang terbaring tak berdaya.
"Kami sudah menangkap pelaku yang menabrak nona" jawab Arthur.
Mendengar itu Viktor segera berdiri. "Kita bicarakan di luar" katanya kemudian berlalu.
"Baik tuan" balas Arthur.
Di luar ruangan berdiri berjaga beberapa pengawal Viktor, ia memerintahkan mereka untuk tidak menerima siapa pun yang ingin masuk ke ruangan itu selain dokter dan perawat.
"Di mana pelaku itu?" tanya Viktor.
"Sudah di bawa ke ruang bawah tanah tuan" jawab Arthur.
"Cepat paksa dia untuk mengatakan siapa dalang di balik kejadian ini!" perintah Viktor.
Arthur mengangguk, ia kemudian berbicara kepada bawahannya melalui sambungan telepon.
"Baik. Cepat bereskan penabrak itu! Jangan sampai ada bekas!" perintah Arthur dari balik telepon.
Arthur kemudian menjumpai Viktor. "Tuan, dalang di balik kejadian ini adalah Nyonya Greta" jelasnya.
"Apa?!" kata Viktor. "Sudah kuduga! Pelakunya pasti tidak jauh"
"Apa yang harus saya lakukan tuan?" tanya Arthur.
Viktor diam tanda berpikir.
"Jangan lakukan apa pun, ini terakhir kalinya aku membiarkannya" jawab Viktor, wajahnya terlihat memerah tanda marah.
Kalau tidak karena hubungan baik Greta dengan ayah Viktor, tentu saja ia sudah melenyapkannya saat ini.
"Tapi, jika dia berbuat sesukanya lagi. Lenyapkan dia dari dunia ini!" perintah Viktor dingin.
"Baik tuan" jawab Arthur.
....
Sementara di tempat lain seorang wanita muda sedang mendesak informasi dari ibunya.
"Mom, apakah dia sudah mati?" tanya wanita muda itu.
"Mom tidak tahu, di rumah sakit tadi mom bahkan tidak bisa melihat kondisinya" Jawab ibunya.
"Yahhh. Bagaimana kalau dia masih hidup mom?" tanya wanita muda itu lagi.
"Diamlah! Cepat bantu mom membereskan barang-barang ini! Mom takut Viktor akan datang ke sini dan melukai kita" jawab ibunya.
"Mom, aku tidak mau pergi. Dia bahkan belum mati, bagaimana aku bisa tenang? Bagaimana kalau nanti dia merebut Viktor dariku?" tanya wanita muda itu panik.
"Tenang saja! Nanti kita buat rencana lagi, bereskan cepat barang-barangmu!" perintah sang ibu.
Wanita muda itu menghela napas pasrah, malam ini ia akan ikut pergi bersama ibunya sampai kondisi lebih tenang.
"Lihat saja, aku pasti kembali Aleeya! Jangan pernah berpikir untuk merebut Viktor dariku!" kata wanita muda itu menyeringai.
.
.
__ADS_1
.
MENGGAPAIMU