MENGGAPAIMU

MENGGAPAIMU
DIJEBAK


__ADS_3

Setelah hampir seminggu dari hilangnya Aleeya, Faiz terlihat sangat frustasi. Ia mencari ke sana ke mari mengenai keberadaan istrinya itu, namun tidak ada petunjuk apa pun. Hilangnya Aleeya seperti tidak nyata bagi Faiz, kebahagiaan yang baru datang ke keluarga kecilnya sudah dirampas kembali.


"Arrrggghhh... Aleeya di mana kamu sayang?" kata Faiz frustasi, matanya berkaca-kaca.


Perawakan Faiz sangat tidak terurus, berat badannya pun menurun. Seluruh energi dan pikirannya telah ia kerahkan untuk mencari Aleeya, laporan orang hilang juga sudah disampaikan ke pihak berwajib. Nastasya dan Hanafi bahkan sampai menyebarkan poster Aleeya di internet dan jalanan umum, namun belum membuahkan hasil atau pun petunjuk.


"Tok... Tok... Tok"


Suara ketukan pintu terdengar dari luar, tampak wajah Natasya yang sangat khawatir dengan keadaan adik bungsunya itu.


"Iz, kakak masuk ya" kata Natasya dari luar kamar.


Faiz tak bergeming. Natasya mencoba menekan engsel pintu kamar Faiz yang ternyata tidak terkunci, betapa terkejutnya ia ketika melihat kondisi kamar sang adik yang berantakan seperti kapal pecah.


"Iz" panggil Nastaya sambil memegang bahu adiknya itu. "Kamu harus kuat iz, setidaknya kuatlah untuk Syifa" lanjutnya.


Mata Faiz berkaca-kaca. Selain dirinya, Syifa juga sangat merasakan kehilangan ibunya. Bayi mungil yang berusia belum genap 3 minggu itu sudah harus merasakan penderitaan sebesar ini. Sejak Aleeya dinyatakan hilang, Natasya dan Hanafi serta Zeva tinggal sementara di rumah Faiz. Mereka sangat mengkhawatirkan kondisi Syifa yang masih sangat kecil dan rapuh, beruntungnya Zeva juga merasa nyaman dapat melihat bayi mungil itu.


"Kak, apa ini balasan atas perlakuanku dulu ke Aleeya?" tanya Faiz emosional. "Aku pernah menyakitinya kak, karena itu dia pergi dariku" lanjut Faiz, kali ini bulir hangat berhasil membasahi pipinya.


Perasaan Natasya sangat sakit melihat kondisi adiknya yang sangat memprihatinkan, tidak pernah sekali pun ia melihat Faiz sekacau ini. Natasya mencoba bersikap kuat di depan Faiz, ia menyeka matanya yang dipenuhi oleh genangan air.


"Iz, ingat bahwa Allah tidak akan menguji hambanya diluar kemampuannya. Kamu pasti bisa melalui ini semua" nasihat Natasya, dalam hati sebenarnya ia juga tidak berdaya dengan keadaan memilukan ini.


Faiz mencoba meyakinkan dirinya. "Iya kakak benar, Allah pasti akan membantuku" katanya tegar. "Aku akan mencoba terus sampai bisa menemukan istriku" lanjutnya.


Natasya tersenyum pahit mendengar ketegaran adiknya, ia juga harus tegar agar dapat membantu Faiz.


"Kamu jaga kesehatan ya iz, kamu harus sehat untuk dapat melalui ini semua" kata Natasya sambil memeluk Faiz.


"Iya kak" balas Faiz sambil membalas pelukan kakaknya itu.


Di tengah pelukan kakak beradik itu, terdengar suara bi Sumi dari depan pintu kamar. Bi Sumi tampak sedang mengatur napasnya yang terengah-engah.


"Ada apa bi?" tanya Natasya.


"Itu... Itu non" kata bi Sumi masih terbata.


"Bi tenang, atur napas dulu" kata Faiz yang melihat bi Sumi terengah-engah seperti habis berlari.


Setelah bi Sumi tenang, ia kemudian menceritakan apa yang sedang terjadi.


"Begitu den, sekarang polisi sedang ada di lantai bawah" kata bi Sumi akhirnya.


"Ada apa ini Iz?" tanya Natasya panik.


"Gatau kak, ayo kita turun dulu" kata Faiz bergegas turun ke lantai bawah.


"Selamat malam pak, apa benar anda Faiz Anugrah Sanjaya?" tanya polisi.


"Iya benar" jawab Faiz.


"Kami dari pihak kepolisian mendapat perintah untuk menahan anda, ini surat perintahnya" jelas polisi sambil menunjukkan selembar surat.


"Apa? Korupsi?!" tanya Faiz serius. "Saya tidak pernah melakukan itu!" lanjutnya.

__ADS_1


"Untuk penjelasannya dapat disampaikan di kantor polisi, mohon kerja samanya pak" kata polisi.


"Tidak!" teriak Natasya. "Adik saya tidak mungkin melakukan itu, ini pasti salah paham" lanjutnya.


"Maaf bu, untuk kejelasannya silahkan datang ke kantor polisi" kata polisi hendak membawa Faiz pergi.


"Tidak! Tidak!" teriak Natasya. "Adik saya tidak bersalah!" lanjutnya, ia menarik-narik tangan Faiz.


"Mohon untuk bersikap kooperatif bu" kata Polisi memperingati, ia kemudian membawa Faiz pergi.


Natasya terus berteriak, ia bahkan mengejar Faiz sampai keluar pagar. Bi Sumi dan pak Jojo yang ada di situ juga mencoba menenangkan Natasya.


"Ada apa ini bi?" tanya Hanafi yang baru sampai di depan rumah.


Bi Sumi kemudian menjelaskan apa yang terjadi hingga membuat Natasya sampai terguncang hebat seperti ini. Ia yang baru pulang dari urusan mendadak dengan pak Dimas mendapati istrinya tengah berlari mengejar mobil polisi yang sedang melaju. Dari pembahasannya dengan pak Dimas, memang pelaku korupsi yang selama ini sedang mereka cari sudah hampir menemukan titik terangnya, tapi kenapa jadi Faiz?


"Pak Dimas, sepertinya Faiz dijebak tentang kasus korupsi yang melibatkan Wijaya Company. Mari kita bertemu di kantor polisi" kata Hanafi kemudian menutup panggilan teleponnya.


"Sayang, aku akan ke kantor polisi untuk mengurus kasus ini" kata Hanafi sambil memeluk Natasya. "Tenangkan dirimu, kau harus kuat untuk Faiz" lanjutnya.


Natasya mengangguk kecil. "Tolong bantu adikku" pintanya.


"Tentu, dia adalah adik iparku. Aku pasti akan membantunya" balas Hanafi.


"Bi, titip Natasya dan anak-anak di rumah ya bi. Kalau ada apa-apa segera telepon saya" kata Hanafi kepada bi Sumi.


"Baik den" balas bi Sumi.


Natasya dan bi Sumi kemudian masuk ke dalam rumah.


"Baik den" jawab pak Jojo


Hanafi kemudian menyalakan mobilnya dan melaju dengan cepat ke kantor polisi. Pikirannya sangat kacau, sebenarnya apa yang sedang terjadi. Aleeya menghilang dan sekarang Faiz terlibat kasus korupsi. Ia yakin ada sesuatu yang janggal tentang semua ini, tapi apa?


Hanafi memfokuskan pikirannya ke jalanan, ia tidak boleh lengah. Pikirkan semuanya setiba di kantor polisi nanti.


"Saya tidak pernah melakukan itu pak" kata Faiz ketika diinterogasi.


"Tapi bukti menunjukkan bahwa anda adalah dalang di balik kasus korupsi yang melibatkan Wijaya Company" jelas petugas. "Kami barusan menggeledah kantor anda dan menemukan bukti transaksi keuangan perusahaan anda dengan para investor Wijaya Company" lanjutnya.


"Apa?!" tanya Faiz tidak percaya. "Saya tidak pernah melakukan itu pak, saya pasti dijebak" lanjutnya frustasi.


Hanafi tiba di kantor polisi bertepatan dengan datangnya pak Dimas, penasihat kepercayaan Wijaya Company.


"Ini pasti ada yang salah Han" kata pak Dimas membuka pembicaraan.


"Iya pak, padahal dari hasil penyelidikan yang selama ini kita lakukan hanya mengarah kepada pak dan buk Sanjaya" balas Hanafi.


"Ada yang tidak beres, ayo kita temui Faiz dulu" kata pak Dimas.


"Baik pak" balas Hanafi.


"Iz, kami akan mengurus kasus ini. Kami tahu kamu tidak bersalah" kata Hanafi ketika bertemu dengan Faiz.


"Makasih kak Han, aku minta tolong untuk jagain Syifa juga ya. Kasian dia" pinta Faiz.

__ADS_1


"Tentu saja Iz, jangan khawatirkan soal Syifa. Kami akan merawatnya dengan baik" kata Hanafi menenangkan Faiz. "Fokus pada kesehatan dirimu, kita harus segera menyelesaikan kasus ini" lanjutnya.


Faiz mengangguk mengerti. Hanafi kemudian mengurus seluruh adminstrasi yang diperlukan mengenai kasus ini, ia sebagai kuasa hukum Faiz akan melakukan yang terbaik.


...


"Apa?!" kata buk Sanjaya ketika mendengar berita penangkapan Faiz.


Setelah menyerahkan Aleeya kepada pria asal Jerman itu, mereka melarikan diri ke Amerika. Memikirkan betapa menderitanya putra mereka ketika tahu bahwa istrinya menghilang membuat mereka merasa bersalah. Tapi nasi sudah jadi bubur, mereka tidak mampu memberitahu Faiz yang sebenarnya terjadi. Ketakutan akan kebencian dan kekecewaan putra mereka ketika tahu bahwa orang tuanya sendiri yang menukarkan istrinya dengan uang, membuat mereka menghilang dari kehidupan sang putra.


"Ada apa ma?" tanya pak Sanjaya penasaran.


"Pa... Pa... Bagaimana ini?" kata buk Sanjaya sambil menangis.


Pak Sanjaya yang tidak mengerti dengan perkataan istrinya, mendesak ingin tahu.


"Ma, katakan yang jelas" kata pak Sanjaya.


"Faiz pa" kata buk Sanjaya tercekat.


Pak Sanjaya menunggu kelanjutan perkataan istrinya. "Faiz kenapa?" tanyanya serius.


"Faiz ditahan di kantor polisi pa" jawab buk Sanjaya, dari wajahnya terpancar penyesalan. "Faiz dituduh korupsi dengan dana besar yang melibatkan Wijaya Company" sambungnya.


"Apa!" kata pak Sanjaya terkejut, matanya melotot.


"Ini salah kita pa, ini salah kita!" teriak buk Sanjaya. "Kita yang korupsi, tapi Faiz yang menerima hukumannya!" lanjutnya histeris.


Pak Sanjaya tak bisa berkata-kata, kesalahannya dan istrinya membuat putra kesayangan mereka menderita.


"Apa yang harus kita lakukan pa?" tanya Buk Sanjaya, air mata terus mengalir dari pipinya.


"Tenang dulu ma, tenang" kata Pak Sanjaya.


"Gimana mau tenang pa, itu Faiz lagi ditahan!" kata Buk Sanjaya makin histeris. "Ayo kita pulang, mama ga bisa cuma diam di sini" lanjutnya.


Tampak pak Sanjaya sedang berpikir keras. "Apa yang harus kulakukan?" batinnya.


...


Sementara di belahan negara lain, seorang pria tampan namun kejam sedang tertawa puas.


"Bagus, bagus Arthur!" kata pria itu. "Kerjamu sangat bagus" lanjutnya.


Arthur hanya memandangi tuannya dengan datar, seperti biasa ia berdiri tanpa ekspresi.


"Kalian akan tahu jika sudah berurusan denganku!" kata pria itu kemudian tertawa lepas.


.


.


.


MENGGAPAIMU

__ADS_1


__ADS_2