MENGGAPAIMU

MENGGAPAIMU
OBERBAUMBRüCKE


__ADS_3

Situasi di ruang kerja Viktor sangat kacau, Aleeya masih diam dan Viktor terlihat panik.


"Tuan" panggil Arthur.


"Ada apa?" tanya Viktor. "Kalau urusan pekerjaan nanti saja kita bahas" lanjutnya sambil menenangkan Aleeya.


"Bukan itu tuan" jawab Arthur.


"Jadi apa?" tanya Viktor kesal.


Arthur berjalan mendekati Viktor, ia meminta tuannya untuk sedikit memberi jarak dengan Aleeya.


"Sayang, tenanglah" kata Viktor. "Akan aku jelaskan jika kamu sudah tenang" lanjutnya kemudian memberikan waktu sejenak untuk Aleeya menenangkan diri.


"Ada apa? Cepat katakan!" perintah Viktor.


"Sepertinya suasana hati nona sedang tidak baik, bagaimana jika tuan mengajak nona keluar jalan-jalan?" tanya Arthur.


Viktor tampak berpikir sejenak. "Baiklah, siapkan mobil! Kita akan pergi ke tempat biasa" perintahnya.


"Baik tuan" jawab Arthur.


"Sayang, ayo ikut denganku" kata Viktor sambil memegang kedua tangan Aleeya.


Aleeya menatap Viktor sedih. "Kita mau ke mana?" tanyanya.


"Sudah ikut saja dulu, nanti akan aku beri tahu" jawab Viktor.


Viktor kemudian menarik pelan tangan Aleeya dan menuntunnya masuk ke dalam mobil.


Kurang lebih 20 menit mobil Viktor sampai di tempat yang dituju.


"Silahkan tuan dan nona" kata Arthur sambil membukakan pintu mobil.


Viktor kemudian memegang tangan Aleeya lagi, kali ini Aleeya hanya pasrah mengikuti ke mana suaminya itu akan membawanya.


Setelah berjalan beberapa waktu sampailah mereka berdua di sebuah jembatan dengan sungai luas membentang di bawahnya.


"Arthur" panggil Viktor.


"Ya tuan" jawab Arthur.


"Belikan makanan dan minuman kesukaanku, lalu bawa ke sini" perintah Viktor.


Arthur mengangguk mengerti kemudian segera berlalu dari hadapan Viktor.


"Di mana kita?" tanya Aleeya penasaran, matanya sudah terpukau dengan pemandangan tempat itu.


"Ini adalah jembatan Oberbaumbrücke" jawab Viktor sambil menatap lurus ke hamparan sungai. "Di bawah kita mengalir sungai Spree" lanjutnya.


"Indah sekali" kata Aleeya, ia juga mengikuti arah pandang Viktor.


"Bagaimana kalau kita berjalan menyisiri jembatan ini?" tanya Viktor sambil mengulurkan telapak tangan kanannya ke hadapan Aleeya.


"Baiklah" jawab Aleeya sambil menyambut uluran tangan Viktor.


Viktor tersenyum, ia kemudian menggengam telapak tangan Aleeya dan berjalan menyisiri jembatan.


"Apakah kamu sering ke sini?" tanya Aleeya.


"Iya, aku ke sini untuk melepas penat dan menata kembali hatiku" jawab Viktor lembut.


Mendengar jawaban Viktor membuat hati Aleeya menghangat, emosi yang semula menguasai dirinya perlahan menghilang.


"Apakah ini tempat yang spesial?" tanya Aleeya penasaran.


Langkah Viktor terhenti, ia kemudian menatap mata Aleeya.


"Sangat spesial" jawab Viktor. "Dulu aku, ibuku dan ayahku sering ke sini" lanjutnya.

__ADS_1


Mendengar Viktor menyebut tentang kedua orang tuanya, rasa penasaran dalam diri Aleeya kembali muncul, ia ingin menanyakan segala hal yang mengusik pikirannya.


"Hem, maaf jika perkataanku lancang" kata Aleeya. "Aku mendengar dari Alice bahwa kedua orang tuamu sudah tiada" lanjutnya.


Viktor yang mendengar itu sedikit kaget, tapi ia berusaha untuk menutupinya.


"Apa saja yang dikatakan Alice?" tanya Viktor.


"Hanya sampai kedua orang tuamu tiada" jawab Aleeya. "Tapi aku penasaran, apakah orang tuamu mengalami kecelakaan?" tanyanya penasaran.


Viktor mengerhitkan dahinya, tak berapa lama ia kemudian melepas genggaman tangannya dengan Aleeya.


"Ibuku pergi meninggalkan aku dan ayahku, waktu itu umurku masih 8 tahun" jawab Viktor, ia tampak sedang mengepal kedua telapak tangannya.


Melihat itu Aleeya segera memegang kedua kepalan tangan Viktor. "Bagaimana mungkin ibumu bisa seperti itu?" tanyanya sambil menatap mata Viktor.


"Dia pergi ke pelukan selingkuhannya" jawab Viktor dengan wajah memerah, rahangnya tampak mengeras.


Aleeya tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya, Viktor pasti menahan rasa sakit dan kecewa sejak kecil.


Aleeya segera memeluk Viktor, ia mencoba menenangkan api kemarahan yang ada di dalam diri suaminya itu.


Mendapat pelukan Aleeya tidak membuat rasa marah Viktor mereda.


"Itu karena ayahmu!" batin Viktor marah, ia kembali mengepal kedua telapak tangannya. "Kau juga harus merasakan penderitaan ini!" lanjutnya.


Aleeya kemudian melepaskan pelukannya dengan Viktor. "Apakah kamu tahu kenapa ibumu bisa tiada?" tanyanya memastikan.


"Dia kecelakaan, aku tidak tahu pastinya" jawab Viktor masih dengan ekspresi dingin.


Melihat itu Aleeya dapat merasakan dinginnya hati Viktor selama ini, seorang ibu yang seharusnya memberikan kasih sayang malah berbuat seperti itu.


"Kenapa ayahmu bisa tiada?" tanya Aleeya, sebenarnya ia ingin berhenti bertanya tapi rasa penasaran lebih mendominasi dirinya.


"3 tahun setelah ibuku pergi, ayahku hidup dalam penderitaan setiap harinya, hingga pada suatu hari ia meminum racun" jelas Viktor, kali ini bulir hangat mulai berkumpul di kedua kelopak matanya.


Aleeya menatap wajah Viktor sedih, ia seperti dapat merasakan bagaimana sedih sekaligus menderitanya Viktor.


Mendengar perkataan Aleeya, Viktor tersenyum simpul.


"Aku akan membalas setiap penderitaanku ini" kata Viktor sambil menatap Aleeya tajam.


Aleeya yang ditatap tajam oleh Viktor merasa seperti ada yang aneh, rasa takut sekaligus sedih bercampur menjadi satu.


"Ada apa denganku?" batin Aleeya.


"Haha ayo kita lanjut berjalan" kata Viktor pura-pura tertawa ketika melihat raut gelisah pada wajah Aleeya.


"Ha iya" balas Aleeya.


Belum sempat mereka melanjutkan perjalanan, tiba-tiba Arthur sudah berada di belakang mereka.


"Tuan" panggil Arthur.


Mendengar panggilan Arthur, Viktor dan Aleeya berbalik badan bersamaan.


"Ini makanan dan minuman yang tuan pesan" kata Arthur sambil menyerahkan sebuah paper bag. "Saya permisi dulu tuan" lanjutnya kemudian berlalu.


"Ini minumlah" kata Viktor sambil memberi sebuah cup minuman.


"Kopi?" tanya Aleeya.


"Iya, di Jerman orang pada suka kopi" jawab Viktor kemudian menyeruput kopi di tangannya.


Aleeya kemudian meminum kopi yang diberikan Viktor. "Rasanya enak" katanya sambil tersenyum.


"Tentu saja, ini adalah kopi terbaik" balas Viktor dengan senyum menjengkelkan.


"Baiklah, baiklah. Kopi ini memang terbaik" kata Aleeya cepat, saat ini ia tidak ingin berdebat dengan Viktor.

__ADS_1


Viktor tersenyum bangga.


"Karena kejadian tadi, kita bahkan belum sempat makan siang" kata Viktor. "Makanlah ini" lanjutnya sambil memberi Aleeya sepaket sosis dengan saus kari dan kentang goreng.


"Apa namanya ini?" tanya Aleeya.


"Currywurst" jawab Viktor. "Ini adalah makanan favorit kalau berjalan di jembatan ini" lanjutnya kemudian menggigit sosis tersebut.


"Enak, ini pakai saus kari ya?" tanya Aleeya sambil makan dengan lahap.


"Iya, haha" jawab Viktor, ia kemudian tertawa.


"Kenapa tertawa?" tanya Aleeya tak senang.


"Itu enak atau karena kamu kelaparan?" tanya Viktor masih sambil tertawa.


Melihat Viktor tertawa membuat Aleeya kesal, ia mencubit pelan lengan suaminya itu.


"Aduh.... Duh. Iya, iya aku bercanda" kata Viktor sambil menahan tangan Aleeya yang mencubit lengannya.


Aleeya masih kesal, tapi kemudian ia teringat sesuatu.


"Oiya wanita yang di kantor tadi siapa?" tanya Aleeya serius.


"Hem dia Karleen" jawab Viktor santai sambil melanjutkan makanannya.


"Iih serius dulu" kata Aleeya kesal, ia kemudian mengambil makanan di tangan Viktor.


"Baiklah" kata Viktor mengalah. "Karleen adalah temanku sejak kecil, ibunya adalah teman baik ayahku" lanjutnya.


Aleeya mengerhitkan dahinya.


"Apa kalian punya hubungan lain selain teman?" tanya Aleeya serius, wajahnya was-was.


"Tidak, dia hanya teman" jawab Viktor serius.


"Tapi kenapa tadi kalian berciuman?" tanya Aleeya kesal.


"Berciuman?! Dia yang menciumku, bukan aku sayang" jawab Viktor meyakinkan.


"Kenapa kamu tidak menolaknya?" tanya Aleeya sambil menatap tajam Viktor.


"Tadi aku sedang berbalik, kemudian tanpa aba-aba dia langsung menciumku" jawab Viktor. "Belum sempat aku mendorongnya, kamu sudah datang" lanjutnya.


Aleeya menatap mata Viktor, ia mencoba mencari kebohongan.


"Aku berkata yang sebenarnya" kata Viktor meyakinkan. "Bisa kita check dari CCTV, bentar biar aku panggil Arthur dulu" lanjutnya.


"Tidak, tidak perlu. Aku percaya" balas Aleeya.


"Percaya tapi kok bibirnya manyun terus?" goda Viktor.


"Tidak, lihatlah aku tersenyum" kata Aleeya mengelak, ia kemudian melebarkan senyumnya.


"Haha baiklah" balas Viktor sambil tertawa lebar.


Melihat Viktor yang tertawa lebar membuat Aleeya senang, sepertinya suasana hati Viktor sudah lebih baik daripada tadi ketika membicarakan perihal kedua orang tuanya.


"Apa itu?" tanya Aleeya sambil menunjuk kerumunan orang.


"Oh itu adalah musisi jalanan, kamu mau melihatnya?" tanya Viktor.


"Mau!" jawab Aleeya semangat.


"Ayo kita ke sana" kata Viktor sambil menggengam tangan Aleeya.


.


.

__ADS_1


.


MENGGAPAIMU


__ADS_2