MENGGAPAIMU

MENGGAPAIMU
KETEMU!


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Viktor yang tengah memakai dasi kerjanya.


Aleeya mengusap pelan kelopak matanya, penglihatannya masih samar dan nyawanya seakan belum terkumpul sepenuhnya.


"Apa kamu akan tidur seharian?" tanya Viktor lagi, kali ini ia tengah berkaca merapikan jas kerjanya.


"Tentu saja tidak" jawab Aleeya cepat, ia kemudian bangkit dari tempat tidurnya.


"Mandilah, setelah itu kamu boleh ikut Alice" kata Viktor sambil tersenyum.


Aleeya mengerhitkan dahinya. "Ikut kemana?" tanyanya penasaran.


"Alice bilang dia akan belanja kebutuhan bulanan, apa kamu tidak ingin ikut?" tanya Viktor.


Mata Aleeya bersinar sempurna. "Benarkah?" tanyanya memastikan.


"Tentu saja" jawab Viktor cepat. "Tapi jangan bertindak sesuka hati" lanjutnya.


Bibir Aleeya manyun ke depan. "Siapa yang kamu bilang bertindak sesuka hati?" tanyanya kesal.


"Kamu" jawab Viktor cepat.


"Aku? Aku tidak seperti itu" balas Aleeya cepat.


"Benarkah? Lalu bagaimana kamu yang datang ke kantorku tiba-tiba?" tanya Viktor menyelidik.


"Ii... Itu kan aku ingin membuat surprise" jawab Aleeya. "Lagi pula karena itu aku jadi tahu kalau kamu bersama perempuan lain" lanjutnya mengingatkan.


"Perempuan lain? Kan sudah kukatakan dia itu hanya teman" jelas Viktor.


"Teman tapi mesra" sindir Aleeya.


Viktor mengerhitkan dahinya, ia kemudian melangkah ke arah Aleeya.


"Sayang, kamu masih tidak percaya kalau dia hanya teman?" tanya Viktor.


Aleeya diam, ia menunjukkan wajah kesal.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa..." belum sempat Viktor menyelesaikan kalimatnya, Aleeya sudah menimpali.


"Haha, aku hanya bercanda" potong Aleeya sambil tertawa. "Kamu serius banget" lanjutnya.


Viktor menghela napas panjang. "Dasar wanita ini!" batinnya.


Viktor mengetuk pelan kening Aleeya dengan jarinya. "Jangan bercanda begitu!" katanya.


"Duh, sakit. Kamu menyakitiku" keluh Aleeya.


"Apanya yang sakit? Aku hanya mengetuk pelan" balas Viktor tidak terima.


"Haha suamiku tidak bisa dibohongi" kata Aleeya sambil tertawa.


"Tentu saja, aku ini sangat pintar" balas Viktor percaya diri.


"Baiklah, baiklah" kata Aleeya. "Aku akan mandi dulu, kamu pergilah ke kantor" lanjutnya kemudian melangkah ke kamar mandi.


"Kamu mengusirku?" tanya Viktor tidak senang.


"Iya" jawab Aleeya cepat. "Selamat bekerja si tukang marah" lanjutnya kemudian menutup pintu kamar mandi.


"Apa? Si tukang marah?" kata Viktor tak terima.


Tidak ada sahutan dari Aleeya. Di balik pintu kamar mandi Aleeya tertawa pelan, ia sangat suka menjahili suaminya itu.


"Benar-benar sangat menggemaskan ketika marah" kata Aleeya pelan.


"Wanita ini sudah berani meledekku!" batin Viktor kesal.


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.


"Maafkan aku sayang, selamat bekerja suami tampanku muaachhh" kata Aleeya sambil memanyunkan bibirnya, ia kemudian menutup kembali pintu kamar mandinya.


Tampak wajah Viktor memerah, kali ini bukan marah melainkan terbawa suasana dari perkataan istrinya barusan.


"Kenapa aku tersenyum?" batin Viktor. "Tidak, tidak boleh seperti ini" lanjutnya kemudian keluar kamar.


"Alice!" panggil Viktor setiba di lantai bawah.


"Ya tuan" jawab Alice.


"Aleeya akan ikut denganmu keluar untuk belanja hari ini, pastikan dia selalu berada di dekatmu!" perintah Viktor tegas.


"Jadi tuan mengizinkannya?" tanya Alice memastikan.

__ADS_1


Sebenarnya Alice juga merasa takut ketika minta izin kepada Viktor untuk membawa Aleeya belanja, tapi melihat Aleeya yang bosan karena selalu berada di rumah sepanjang hari membuatnya memberanikan diri.


"Iya" jawab Viktor kemudian berlalu.


"Tuan tidak sarapan?" tanya Alice ketika melihat Viktor hendak pergi.


"Tidak, aku sedang buru-buru" jawab Viktor cepat.


"Tuan, tunggu" kata Alice, ia kemudian mengambil sebuah kotak makan dan membawanya ke arah Viktor.


"Ada apa?" tanya Viktor.


"Ini aku sudah menyiapkan sarapan, silahkan makan di kantor tuan" jawab Alice sambil memberikan kotak makan ke tangan Viktor.


Viktor mengerhitkan alisnya. "Ada apa denganmu?" tanyanya penasaran.


"Sebenarnya nona Aleeya yang menyuruh saya untuk membuat kotak makan setiap hari, jika tuan tidak sempat sarapan maka dapat membawa kotak makan ini" jawab Alice panjang lebar.


Viktor kembali mengerhitkan alisnya. "Sepertinya kau sudah bisa bicara banyak Alice" katanya kemudian berlalu dengan kotak makan di tangannya.


Alice menatap kepergian Viktor dengan bingung.


"Bicara banyak?" tanya Alice dalam hati. "Ah, sepertinya aku terlalu banyak berinteraksi dengan nona" lanjutnya.


Beberapa saat kemudian terlihat Aleeya tengah menuruni tangga, dari wajahnya terpancar senyuman dan keceriaan.


"Selamat pagi nona" sapa Alice.


"Pagi Alice" balas Aleeya. "Apakah Viktor sudah pergi?" tanyanya.


"Iya nona, tuan sudah pergi" jawab Alice.


"Apakah tadi dia sarapan?" tanya Aleeya sambil duduk di kursi meja makan.


"Tidak nona, tapi saya sudah memberikan tuan kotak makannya" jawab Alice.


"Bagus, terima kasih Alice" balas Aleeya.


"Sama-sama nona" jawab Alice.


"Alice duduklah, ayo makan bersama" ajak Aleeya.


Alice tampak berpikir.


"Tidak nona, saya makannya nanti saja" balas Alice sungkan.


Aleeya berdiri dari tempat duduknya kemudian menarik tangan Alice.


"Duduklah Alice, ayo makan bersama" pinta Aleeya.


Alice akhirnya mengiyakan permintaan Aleeya. "Baiklah" jawabnya kemudian duduk di kursi di samping Aleeya.


"Ha itu baru benar" kata Aleeya sambil tersenyum.


Aleeya dan Alice mulai menyantap sarapan mereka, makan bersama lebih menyenangkan daripada sendirian.


"Aku sudah selesai makan" kata Aleeya.


"Saya juga sudah nona" balas Alice.


"Baiklah, apa kita bisa pergi belanja sekarang?" tanya Aleeya tidak sabar, dari wajahnya tergambar bahwa dia ingin segera jalan-jalan keluar.


"Bisa nona" jawab Alice.


"Baiklah, ayo kita berangkat" kata Aleeya semangat.


Aleeya dan Alice pergi ke pusat kota Berlin, mereka akan berbelanja kebutuhan bulanan di pusat perbelanjaan yang ada di sana.


"Wah besar sekali" kata Aleeya. "Tempat ini benar-benar lengkap" lanjutnya.


"Iya nona, nona mau ke mana dulu?" tanya Alice.


"Hem, bagaimana kalau kita ke market yang besar itu dulu?" tanya Aleeya.


"Baik nona" jawab Alice.


Aleeya dan Alice mamasuki toko kebutuhan makanan yang besar dan lengkap, terlihat mereka berjalan ke sana ke mari untuk mengambil makanan dan bahan-bahan yang dibutuhkan.


"Alice, apa kamu mau ice cream?" tanya Aleeya.


"Boleh nona" jawab Alice.


"Boleh maksudnya mau kan?" tanya Aleeya.

__ADS_1


Alice mengangguk cepat, wajahnya terlihat malu.


"Haha baiklah, ayo kita beli" kata Aleeya sambil tertawa, tingkah Alice ternyata juga bisa selucu itu.


"Kamu mau rasa apa?" tanya Aleeya setiba di depan freezer.


"Samakan saja dengan nona" jawab Alice.


Aleeya menghela napas panjang. "Alice dengar, kamu tidak perlu sungkan terhadapku, katakan saja apa yang kamu suka" katanya.


"Saya suka rasa Vanilla nona" balas Alice.


"Baiklah, akan aku ambilkan" kata Aleeya sambil tersenyum.


Setelah segala kebutuhan bulanan sudah dibeli, Alice dan Aleeya menuju ke depan toko pusat perbelanjaan untuk menunggu supir mereka.


"Di mana supirnya?" tanya Aleeya.


"Sebentar nona, tadi sudah saya kabarkan untuk menjemput kita di sini" jawab Alice, ia kemudian menelepon kembali supir mereka.


"Baiklah Alice" balas Aleeya.


"Nona, sepertinya supir kita di sebelah sana, saya lihat sebentar dulu ya" kata Alice.


"Oke Alice, aku tunggu di sini" balas Aleeya.


"Baik nona" jawab Alice, ia kemudian berjalan perlahan ke arah yang dikatakan oleh supir.


Aleeya berdiri sendiri di depan toko sambil sibuk dengan handphonenya, ia menunggu Alice dan supir yang akan menjemput mereka.


"Ka... Kamu Aleeya kan?" tanya seorang wanita sambil menepuk bahu Aleeya.


Aleeya yang sedang sibuk dengan handphonenya pun terkejut dan menoleh ke sumber suara.


"Iya" jawab Aleeya. "Maaf anda siapa ya?" tanyanya bingung.


Wanita itu terlihat kaget. "Apa... Apa kamu tidak mengenalku?" tanyanya memastikan.


Aleeya melihat wajah wanita ini dengan seksama, tapi ia tidak mengingat apa pun.


"Maaf sepertinya anda salah orang" jawab Aleeya.


"Tidak, tidak mungkin!" kata wanita itu terkejut. "Aku Natasya" lanjutnya.


"Maaf saya benar-benar tidak tahu" balas Aleeya cepat kemudian hendak berlalu.


"Tunggu" kata wanita itu sambil menarik tangan Aleeya.


Aleeya yang ditarik tangannya tiba-tiba menjadi terkejut.


"Maaf, sepertinya anda salah orang. Jangan ikuti saya lagi" kata Aleeya takut.


"Siapa wanita ini?" batin Aleeya. "Apa dia penipu yang mau menghipnotisku?" lanjutnya overthinking.


"Aleeya, kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya wanita itu, ia menatap lekat wajah Aleeya.


"Maaf, saya harus pergi" kata Aleeya.


"Tunggu" balas wanita itu lagi, ia kembali memegang tangan Aleeya.


"Maaf, anda siapa ya?" tanya Alice kepada wanita itu, ia lari dengan buru-buru ketika melihat Aleeya sedang berbicara dengan seorang wanita yang seperti mengenalnya.


"Saya Natasya, ini Aleeya kan?" tanya wanita itu lagi.


"Nona, ayo kita pergi, supir sudah menunggu" kata Alice kepada Aleeya.


"Maaf kami harus pergi" kata Alice kepada wanita yang tidak lain adalah Natasya.


Alice menarik tangan Aleeya dan menyuruh supir mereka untuk membawa barang-barang ke mobil.


Natasya melihat Aleeya yang sudah berlalu di kejauhan, rasa senang dan sedih beradu menjadi satu.


Natasya sedang melakukan photoshoot di Berlin karena dia berprofesi sebagai seorang model profesional, tak disangka dia malah bertemu dengan adik iparnya yang sudah beberapa bulan ini menghilang.


"Assalamu'alaikum Iz" kata Natasya di balik telepon. "Kakak barusan ketemu Aleeya" lanjutnya.


.


.


.


MENGGAPAIMU

__ADS_1


__ADS_2