
Viktor Waldermar. Salah satu pengusaha sukses asal Jerman, pengusaha yang bergerak di bidang perkapalan terbaik di Eropa. Banyak wanita yang siap untuk melayani dan berada disamping pria gagah nan kaya ini, namun baginya wanita hanyalah sebuah mainan yang bisa dipakai kemudian dicampakkan. Cinta? Baginya cinta telah kandas sejak ia melihat ibunya dengan mudah meninggalkan dirinya dan ayahnya hanya demi seorang pria, pria pemilik Wijaya Company!
“Aku akan membuatmu menderita, hancur sampai tak bersisa!” seringainya.
“Apakah kau yakin ingin membuatnya menderita?” tanya seorang pria paruh baya sambil berdiri di sampingnya.
Viktor tertawa. “Kau sungguh lucu, Arthur! Apakah kau pernah melihat aku bermain dengan perkataanku?” tanya Viktor dengan sombong, di pangkuannya ada seorang wanita cantik yang tengah mengelus dadanya.
“Tentu saja tidak pernah, tuan” jawab pria paruh baya itu sambil menunduk.
“Kita lihat saja nanti, sampai mana dirimu akan bertahan!” katanya lagi, kali ini senyumannya tampak menakutkan.
...
Seorang pelayan wanita yang cukup berumur masuk ke dalam kamar Aleeya, ia menyuruh Aleeya untuk keluar karena tuan Viktor tengah menunggunya di ruang makan. Aleeya hanya bisa mengikuti langkah pelayan itu dari belakang, raut wajahnya berubah cemas.
“Duduk!” perintah Viktor.
Aleeya yang berdiri langsung duduk di kursi meja makan, ia menunduk takut.
“Angkat wajahmu!” perintah Viktor.
Aleeya kemudian mengangkat wajahnya takut-takut.
“Arthur” panggil Viktor kepada orang kepercayaannya. “Pecat semua pelayan disini kecuali Alice!” perintah Viktor.
Alice adalah wanita paruh baya yang tadi memanggil Aleeya, ia telah bekerja sebagai pelayan keluarga Waldermar selama bertahun-tahun.
“Dau kau” tunjuk Viktor kepada Aleeya. “Kau yang akan menggantikan tugas pelayan disini!” lanjutnya.
Mata Aleeya membulat. “Apa, aku?” tanya Aleeya tidak percaya. “Aku bukan pembantumu!” lanjutnya, kali ini ia benar-benar tidak tahan.
Viktor tersenyum licik. “Tentu saja kau, kau kira tinggal disini gratis. Tidak ada yang gratis di dunia ini, nona!” lanjutnya masih diiringi senyuman yang menakutkan.
“Kau yang membawaku kesini, aku tidak pernah menginginkan untuk tinggal disini. Aku punya keluarga, kau tidak bisa bertindak seenaknya!” kata Aleeya berapi-api, ia meluapkan semua kekesalannya pada pria asal Jerman itu.
“Bertindak seenaknya?” tanya Viktor dengan nada mulai meninggi, ia kemudian berdiri dari tempat duduk kebesarannya. “Aku Viktor Waldermar! Tidak ada seorang pun yang bisa membantahku, termasuk dirimu. Aku bahkan bisa membuat suami dan anakmu berhenti bernafas!” ancamnya.
Aleeya berdiri mematung, ancaman Viktor langsung menembus ulu hatinya. Aleeya kemudian berjongkok di kaki Viktor, air mata mulai membasahi pipinya.
“Maafkan aku tuan, jangan sakiti keluargaku” kata Aleeya sambil terus menangis. “Aku mohon tuan, aku mohon” lanjutnya.
Viktor tertawa. “Sudah ku bilang segala sesuatu tidak ada yang gratis!” kata Viktor dengan penekanan. “Kalau kau ingin keluargamu hidup, kau harus membayarnya” lanjutnya.
Aleeya terus bersimpuh di kaki Viktor. “Aku akan melakukan apapun asal jangan sakiti keluargaku” kata Aleeya.
Viktor tersenyum puas, ia kemudian berjongkok sambil menarik dagu Aleeya. “Kau harus melayaniku” katanya sambil menyeringai.
Aleeya menatap mata tajam Viktor. “Maksud tuan?” tanya Aleeya.
Viktor tersenyum sangat tipis. “Kau harus melayaniku, aku adalah pria normal yang membutuhkan wanita” katanya sambil menatap manik mata Aleeya.
__ADS_1
Mata Aleeya kembali membulat. “Aku tidak bisa tuan, aku sudah menikah. Terlebih lagi diantara kita tidak ada perasaan cinta” tolak Aleeya halus, ia tidak ingin melihat tuannya murka.
“Tidak perlu namanya cinta jika hanya ingin meniduri seorang wanita” bisik Viktor di telinga Aleeya, membuat Aleeya bergidik ngeri.
“Tapi aku tidak bisa tuan” kata Aleeya lagi sambil berusaha menjauhkan dirinya dari Viktor, namun pria itu malah menarik tangannya paksa.
“Kalau begitu kau akan tahu akibatnya!” kata Viktor murka.
“Pengawal cepat seret wanita ini ke kamar mandi!” perintah Viktor. “Kau akan menyesal karena telah melawanku” lanjutnya.
Aleeya yang merasakan sakit di tangannya mulai menangis memohon, pengawal tengah menyeretnya ke sebuah kamar mandi.
“Lepaskan aku, aku mohon” kata Aleeya. “Tolong lepaskan aku!” lanjutnya.
Para pengawal melemparkan tubuh Aleeya di atas lantai, ia terus menangis kesakitan.
Sebuah hentakan sepatu membuat Aleeya berhenti menangis, kesakitannya berubah menjadi ketakutan.
Viktor menarik tubuh Aleeya ke arah bathup, ia membenamkan wajah Aleeya hingga ia kesulitan bernafas.
“Hentikan, hentikan tuan” pekik Aleeya panik. “Aku tidak bisa bernafas” lanjutnya.
“Ini hukumanmu karena melawanku” kata Viktor, ia sungguh adalah pria yang kejam!
Ketika Aleeya tengah tersenggal-senggal untuk bernafas, Viktor kemudian mengangkat wajah Aleeya. Menatap mata indah yang kini telah dibanjiri air mata akibat perbuatannya.
“Jangan pernah melawanku!” kata Viktor tegas.
“Bagus, aku suka wanita penurut” kata Viktor. “Cepat ganti pakaianmu kemudian siapkan makan malam” perintahnya kemudian berlalu meninggalkan Aleeya sendirian.
“Dasar pria psikopat!” batin Aleeya.
Genangan air hangat itu masih saja menetap di pelupuk matanya, rasa sakit bercampur kerinduan berkecamuk di dadanya.
“Aleeya rindu kak Faiz, mama rindu kamu Syifa” batin Aleeya.
Aleeya kemudian beranjak membersihkan diri dan mengganti baju yang telah basah akibat ulah Viktor, setelah membenahi diri ia kemudian menuju dapur untuk memasak makan malam. Ia tidak ingin berlama-lama dan membuat emosi tuan barunya itu kembali meluap.
“Biarkan saya saja nona” kata seorang wanita paruh baya, yang kalau Aleeya tidak salah dengar Viktor menyebutkan ‘Alice’.
“Anda bisa berbahasa Indonesia?” tanya Aleeya heran, wajah wanita ini sangat kental kebaratan tapi mengapa bisa fasih berbahasa Indonesia?
Wanita itu tidak menghiraukan pertanyaan Aleeya, ia terus memotong beberapa sayuran untuk dimasak.
“Biarkan saya saja, tuan Viktor menyuruh saya untuk melakukannya” kata Aleeya kemudian mengambil alih masakan.
Wanita itu kemudian meninggalkan dapur tanpa bersuara sedikitpun, Aleeya benar-benar penasaran akan hal itu. Banyak sekali rahasia yang dirinya tidak tahu, tentang Viktor si pria asal Jerman, tentang semua rahasia di balik kota Berlin.
“Mana makananku?!” bentak Viktor di meja makan.
Aleeya yang mendengar suara Viktor langsung buru-buru menyajikan makanan, sekali saja membuat Viktor marah maka tak akan ada lagi ampunan.
__ADS_1
Aleeya kemudian menyajikan makanan demi makanan di atas meja dengan rapi dan telaten, sebagaimana yang biasa ia lakukan selama ini ketika menjadi seorang istri.
Tapi beda dengan sekarang, ia tidak pernah ingin melakukannya. Dirinya terpaksa!
“Silahkan tuan” kata Aleeya sambil berdiri.
“Duduk!” perintah Viktor.
Aleeya menatap wajah tuannya itu.
“Aku bilang duduk, apa kau ingin mati kelaparan?” tanya Viktor sinis.
“Baik tuan” jawab Aleeya kemudian duduk di salah satu kursi meja makan.
Aleeya memakan makanannya dengan lahap, ia sangat lapar karena terus-terusan menangis dan menahan setiap perlakuan kasar Viktor.
Viktor menatap wajah Aleeya lekat, tentu saja tanpa sepengetahuan Aleeya yang tengah sibuk dengan makanannya.
“Makanlah sayang” kata Viktor dalam hati. “Besok aku akan membuatmu lebih menderita daripada hari ini” lanjutnya sambil tersenyum miring.
“Aku sudah kenyang” kata Viktor kemudian berdiri.
“Alice, tolong tunjukkan wanita ini dimana kamar barunya” perintah Viktor kemudian berlalu.
Aleeya mengernyitkan dahi bingung, kamar baru apa maksudnya?
Setelah selesai membersihkan piring kotor dan merapikan dapur, Alice kemudian mengajak Aleeya ke sebuah ruangan yang pengap dan kotor.
“Ini kamar barumu” kata Alice.
Aleeya memandangi seluruh penjuru kamar, kemudian kembali menatap Alice.
“Apa benar ia menyuruhku tinggal di kamar ini? Kamar ini sungguh tidak layak pakai” tanya Aleeya.
“Benar, tuan Viktor sendiri yang menyuruhku untuk mengantarmu kesini” jawab Alice dengan wajah datar.
“Ini” kata Alice sambil menyerahkan sebuah bantal dan guling beserta sapu. “Aku harap kau dapat bersabar” lanjutnya kemudian berlalu.
Aleeya tidak percaya dengan apa yang menimpa dirinya, ia terus bertanya di dalam hati ‘Kapankah ujian ini akan berakhir?’
Air mata perlahan membasahi pipinya yang putih, ia perlahan membersihkan ruangan yang kelak akan menjadi kamar tidurnya. Mencoba tegar disaat hati mulai rapuh dan perlahan mulai hancur.
“Tahan Aleeya, semua demi keluarga kecilmu!” kata Aleeya mencoba menyemangati diri.
.
.
.
MENGGAPAIMU
__ADS_1