
Setelah sarapan bersama dengan Aleeya, Viktor segera berangkat ke kantor. Pagi ini ia ingin membicarakan rencana yang akan dibuatnya bersama Arthur, sekretaris sekaligus penasihat pribadinya.
"Tuan, apa ada masalah?" tanya Arthur membuka pembicaraan.
Sejak sampai di kantor, Viktor hanya diam, wajahnya tampak gelisah seperti sibuk dalam pikirannya sendiri.
"Sepertinya ingatan Aleeya mulai kembali" jawab Viktor. "Tadi malam ia bermimpi bertemu dengan seorang pria dengan bayi mungil di tangannya" lanjutnya.
Arthur mendengar dengan seksama apa yang dikatakan Viktor, ia kemudian tampak sedang berpikir.
"Apakah nona mengingat siapa pria itu, tuan?" tanya Arthur memastikan.
"Tidak, dia tidak mengingatnya" jawab Viktor cepat.
"Tuan maaf jika saya lancang" kata Arthur. "Sebenarnya balas dendam seperti apa yang tuan inginkan kepada nona?" lanjutnya.
Viktor mengepalkan kedua telapak tangannya, wajahnya mulai merah.
"Aku ingin membuatnya menderita, seperti yang ayahnya lakukan kepadaku dan ayah" jawab Viktor marah.
Arthur diam mengerti, sejenak ia membiarkan Viktor meluapkan kemarahannya.
"Saat ini tuan sudah membuat nona menderita dengan menjauhkannya dari keluarga kecilnya dan tidak memberitahunya yang sebenarnya" jelas Arthur.
"Dia memang pantas mendapatkannya!" balas Viktor.
"Iya, tuan benar" jawab Arthur. "Tapi, setelah nona mendapatkan ingatannya. Apakah tuan akan melepasnya?" tanyanya lagi.
"Tentu saja tidak! Aku akan kembali menyiksanya seperti sebelumnya" jawab Viktor tegas.
"Tapi, bagaimana jika suatu saat keluarga nona menemukannya tuan? Apa yang akan tuan lakukan?" tanya Arthur.
Mendengar pertanyaan Arthur, Viktor tampak berpikir keras. Benar, bagaimana jika suatu hari keluarga Aleeya menemukannya tanpa disengaja? Mereka bisa saja melibatkan pihak berwajib dan membuatnya terpaksa melepas Aleeya begitu saja.
"Apa rencanamu Arthur?" tanya Viktor sambil menatap Arthur yang berdiri di hadapannya. "Aku tahu kau sudah mempunyai rencana" lanjutnya.
Arthur tersenyum simpul. "Tuan memang mengenal saya" katanya singkat.
"Katakan!" perintah Viktor tidak sabar.
"Bagaimana jika tuan mempunyai anak dengan nona?" tanya Arthur.
"Apa katamu?!" tanya Viktor terkejut. "Kau sendiri tahu bahwa aku sangat membenci hubungan seperti itu! Bagiku wanita hanyalah mainan! Aku tidak mempercayai mereka, mereka sama saja seperti ibuku!" lanjutnya berapi-api.
Arthur menghela napas panjang, ia sudah tahu kalau Viktor pasti akan marah mendengar itu.
"Tuan" panggil Arthur. "Jika ingatan nona kembali dan suatu saat keluarganya menemukannya, maka akan mudah bagi nona untuk pergi dari sini" lanjutnya.
"Apa maksudmu? Katakan yang jelas Arthur!" perintah Viktor
Arthur menghela napas kembali. "Tuan memang sangat tidak sabar" batinnya.
"Jika tuan mempunyai anak dengan nona, maka ketika ingatannya kembali dan keluarganya menemukannya, nona akan dihadapkan dengan pilihan, apakah kembali ke keluarga kecilnya atau tetap berada di sini" jelas Arthur.
Viktor tampak berpikir. "Jadi maksudmu..."
"Iya benar tuan" potong Arthur. "Anak tuan akan menjadi penghalang kembalinya nona ke keluarganya" lanjutnya.
"Tapi dia juga mempunyai anak dengan Faiz" kata Viktor mengingatkan. "Mungkin saja dia akan kembali ke keluarganya karena anak itu" lanjutnya.
Arthur tampak berpikir, memang benar kemungkinan itu juga bisa terjadi.
__ADS_1
"Tapi bukankah kemungkinan kita juga sama jika tuan mempunyai anak dengan nona? Untuk masalah nanti biar waktu yang akan menjawabnya tuan" balas Arthur.
Viktor tampak berpikir sejenak.
"Selain itu, tuan bisa membuat nona jatuh hati, cinta dapat mengikat seseorang dan membuatnya buta. Dengan begitu, ketika pilihan itu datang maka besar kemungkinan nona akan memilih tuan karena cinta" kata Arthur.
Setelah mengatakan itu, Arthur kembali diam. Ia menunggu jawaban dari Viktor.
"Bagaimana kau bisa tahu tentang cinta? Bukankah selama ini kau masih melajang Arthur?" tanya Viktor menyelidik.
"Soal itu saya... Saya membacanya dari buku" jawab Arthur terbata.
"Apakah kata-kataku tadi terlalu dalam?" tanya Arthur dalam hati. "Ah, tapi aku kan pria normal. Bagaimana mungkin tidak tahu tentang cinta?" lanjutnya percaya diri.
Viktor mengerhitkan dahinya. "Perkataannya benar juga" batinnya.
"Baiklah" kata Viktor. "Aku akan mengikatnya dengan anak itu!" lanjutnya tegas.
Arthur tampak tersenyum simpul. "Sepertinya akan ada bayi di keluarga ini, semoga bayi itu dapat menghangatkan kembali hati tuan yang dingin" katanya dalam hati.
Setelah perbincangan yang berat dengan Arthur, Viktor kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Tok... Tok... Tok"
"Masuklah" perintah Viktor.
"Tuan, ada nona Karleen di sini" kata Arthur.
Viktor mengepal kedua telapak tangannya. "Biarkan dia masuk" katanya dingin.
"Baik tuan" balas Arthur.
Masuk seorang wanita cantik dengan tubuh semampai, dia memakai baju ketat dan seksi untuk menggoda Viktor. Sudah sangat lama ia mencintai pria yang ada di hadapannya ini, tapi Viktor sama sekali tidak mencintainya, baginya wanita hanyalah mainan. Karleen mencoba berbagai cara untuk mendapatkan Viktor, hingga malam ketika Viktor mabuk ia ingin mengambil keuntungan darinya, namun sayang Aleeya ada di rumah dan merebut perhatiannya.
Viktor menolak kasar pelukan dari Karleen, matanya memerah karena marah.
"Ada apa honey?" tanya Karleen takut.
Viktor berdiri di hadapan Karleen, ia menatapnya tajam.
"Kau masih berani datang ke sini setelah apa yang dilakukan ibumu?!" tanya Viktor marah.
Karleen adalah putri dari Greta, teman baik ayahnya Viktor sekaligus mantan guru Bahasa Jermannya Aleeya.
"Ibuku melakukan itu karena peduli padamu" jawab Karleen meyakinkan. "Dia ingin membalaskan dendam atas penderitaanmu dan juga ayahmu kepada wanita itu" lanjutnya.
"Bukan urusan kalian!" kata Viktor tegas. "Jangan sentuh dia atau akan kubuat kau dan ibumu membayarnya!" lanjutnya mengancam.
Karleen melotot tak percaya dengan apa yang barusan didengarkan.
"Kenapa kau membela wanita sialan itu?" tanya Karleen. "Honey sadarlah, dia adalah anak dari pria yang membuat ibumu pergi" lanjutnya.
Viktor mengepal kedua tangannya. "Sudah kukatakan, jangan ikut campur dengan urusanku!" teriaknya.
"Tapi honey" kata Karleen berkaca-kaca. "Kami peduli padamu, aku peduli padamu" lanjutnya.
Viktor menghela napas kasar, ia sudah muak dengan apa yang dikatakan oleh wanita di hadapannya ini. Viktor kemudian berbalik hendak menuju meja kerjanya.
"Honey, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu" kata Karleen sambil memeluk Viktor dari belakang.
"Lepaskan" balas Viktor dingin.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, kenapa kau tidak pernah menerimaku?" tanyanya sambil menangis.
Viktor melepas kasar tangan Karleen di tubuhnya, ia kemudian berbalik.
"Aku mencintaimu Viktor" kata Karleen kemudian mencium cepat Viktor.
Viktor yang baru berbalik tidak sempat menahan tindakan Karleen.
"Bruuuukkkk"
"Ada apa ini?" tanya Aleeya di depan pintu yang terbuka, matanya berkaca-kaca.
Viktor yang kaget melihat Aleeya segera mendorong kuat tubuh Karleen.
"Sayang!" panggil Viktor, ia kemudian berjalan terburu-buru ke tempat Aleeya berdiri.
Bulir hangat mulai membasahi pipi Aleeya, awalnya ia berencana untuk memberikan surprise kepada Viktor dengan membawakannya makan siang. Melihat pintu ruang kerja Viktor terbuka Aleeya pun segera masuk, namun belum sampai melangkahkan kakinya ke dalam ia sudah dikejutkan dengan pemandangan Viktor sedang berciuman dengan seorang wanita.
"Jadi dia masih hidup?" tanya Karleen dalam hati.
"Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan" kata Viktor panik.
"Siapa dia?" tanya Aleeya sambil menangis.
Belum sempat Viktor menjawab, Karleen sudah menimpali.
"Aku mencintai Viktor, kami saling mencintai" potong Karleen cepat.
"Karleen!" teriak Viktor marah.
"Kenapa? Bukankah kita sudah lama kenal?" tanya Karleen. "Wanita inilah yang sudah merebutmu dariku!" teriaknya sambil menunjuk Aleeya.
Aleeya yang mendengar itu terkejut dan bingung. "Apa maksudnya ini?"
"Tutup mulutmu!" teriak Viktor.
"Kenapa? Apa aku salah bicara? Dialah yang menganggu kita!" teriak Karleen lagi.
"Arthur!" teriak Viktor.
Arthur yang sedang berada di luar segera masuk.
"Seret dia keluar dari sini!" perintah Viktor murka.
Arthur yang mengerti situasi ini segera menarik paksa Karleen keluar dari ruangan Viktor.
"Viktor, kenapa kamu melakukan ini padaku?! Orang yang mencintaimu itu adalah aku!" teriak Karleen sambil mencoba melepaskan tarikan Arthur.
"Cepat seret dia!" perintah Viktor lagi.
"Viktor! Viktor!" teriak Karleen, suaranya semakin jauh.
Setelah Karleen keluar, Viktor segera menenangkan Aleeya, tubuhnya bergetar hebat.
"Apa maksudnya ini?" tanya Aleeya serius, matanya masih berkaca-kaca.
"Sayang, aku bisa jelaskan" kata Viktor sambil menatap mata istrinya itu.
.
.
__ADS_1
.
MENGGAPAIMU