
Sanjaya dan istrinya pulang ke rumah setelah mengunjungi Aleeya dan Faiz di rumah sakit. Tiba-tiba handphone Sanjaya bergetar, ketakutan mulai menghiasai wajah mereka.
Drrrr… Drrrtt… Drrrttt
“Aku dengar Aleeya sudah melahirkan” kata seseorang dari dalam handphone.
“Iya benar” jawab Sanjaya.
“Kapan kalian akan membawanya kepadaku?” tanya seseorang itu yang tidak lain adalah pria asal Jerman.
Sanjaya diam membisu.
“Aku harap kalian tidak lupa dengan perjanjian” kata pria asal Jerman. “Kalian pasti tau konsekuensi jika mempermainkanku” lanjutnya.
Sanjaya masih tidak menjawab apa pun, buk Sanjaya yang melihat hal itu menarik paksa handphone suaminya.
“Dia baru operasi sesar, butuh waktu yang cukup lama untuk pulih” jawab buk Sanjaya.
Pria asal Jerman itu membuang nafas malas. “Baiklah aku beri kalian waktu satu minggu, kalau tidak kalian akan mendapatkan ganjarannya” kata pria asal Jerman itu.
“Baiklah kami tidak akan lupa” jawab buk Sanjaya.
Sambungan telepon di putuskan sepihak oleh pria asal Jerman.
“Bagaimana ini?” tanya buk Sanjaya.
Terlihat guratan keraguan dari wajah Sanjaya.
“Aku tidak tega memisahkan mereka, apalagi sekarang kita telah memiliki cucu” kata Sanjaya.
Buk Sanjaya menghempaskan tubuhnya di atas sofa. “Aku pun begitu, tapi bagaimana caranya agar kita bisa lepas dari pria asal Jerman itu?” tanya buk Sanjaya.
“Kita kabur saja” jawab Sanjaya.
Dahi buk Sanjaya berkerut tanda tak setuju. “Dia pasti akan menemukan kita” kata buk Sanjaya.
“Aku tidak mau melakukan hal yang pasti membuatku menyesal seumur hidup” kata Sanjaya frustasi, pikirannya tidak berjalan dengan baik.
“Tapi aku takut sayang, pria itu pasti akan membunuh kita” kata buk Sanjaya penuh penekanan. “Bagaimana kalau dia menghancurkan seluruh keluarga kita?” tanya buk Sanjaya.
Sanjaya tanpa berpikir keras. “Lalu bagaimana?” tanya Sanjaya.
“Kita akan menepati janji kita kemudian pergi jauh dari kehidupan Faiz, aku tidak ingin dia mengutuk orang tuanya” jawab buk Sanjaya.
Sanjaya tampak ragu, kemudian setelah berpikir sejenak ia pun mengangguk.
....
Di Rumah Sakit
Aleeya masih belum boleh pulang, bekas jahitan akibat operasi kemarin masih belum kering. Ia masih harus di rawat di rumah sakit.
“Kamu makan dulu ya” kata Faiz kepada Aleeya.
Aleeya menatap Faiz kemudian mengangguk setuju. Aleeya kemudian mencoba mengambil makanan yang ada di atas meja.
“Biar aku saja, aku suapin kamu ya” kata Faiz kemudian mengambil bubur yang ada di atas meja.
Aleeya tersenyum, hatinya menghangat.
Faiz kemudian menyuapi Aleeya perlahan, Aleeya terus-menerus menetap Faiz.
__ADS_1
“Aku ganteng, aku tahu” kata Faiz asal ketika melihat Aleeya terus-menerus menatap wajahnya.
Aleeya mencubit pelan lengan suaminya itu. “Ge er” jawab Aleeya.
Faiz terkekeh pelan. “Udah jangan bohong, aku tahu kamu penggemar rahasiaku sejak dulu” kata Faiz lagi.
Mata Aleeya melotot terkejut, suaminya ini benar-benar percaya diri!
“Iya, iya aku penggemar rahasia kakak” jawab Aleeya akhirnya, ia tidak mau berdebat panjang dengan suaminya.
Faiz tertawa penuh kemenangan, Aleeya benar-benar telah mengakui dirinya.
“Kak” panggil Aleeya.
“Apa sayang?” tanya Faiz sambil menatap wajah istrinya itu.
“Aku mau lihat Syifa” pinta Aleeya.
“Iya sayang, bentar lagi kita panggil suster untuk bawa Syifa ya, sekarang kamu harus makan dulu” kata Faiz.
Aleeya mengangguk.
…
Sekarang Aleeya tengah memberi Syifa ASI, Faiz dan Aleeya tengah tersenyum menatap putri kesayangan mereka.
“Kak” panggil Aleeya.
“Iya apa sayang?” jawab Faiz.
“Nanti kalau sudah besar, Syifa pasti tumbuh menjadi gadis yang cantik” kata Aleeya.
Faiz tersenyum. “Tentu saja sayang, ia pasti tumbuh cantik seperti kamu” jawab Faiz.
“Tentu saja sayang, kamu kan ibunya. Kamu pasti melihat putri kita tumbuh menjadi gadis yang cantik” jawab Faiz.
Tiba-tiba raut wajah Aleeya berubah sedih. Faiz yang melihat perubahan wajah pada Aleeya sontak bertanya.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Faiz heran.
“Aku takut gak bisa lihat Syifa tumbuh besar kak, aku juga takut kehilangan kakak” kata Aleeya sedih.
Faiz memegang bahu Aleeya. “Tidak sayang, kamu akan terus berada di samping aku dan Syifa. Kamu gak akan pergi kemana-mana” kata Faiz penuh penekanan.
Aleeya menatap Faiz berkaca-kaca. “Aku harap begitu kak” jawab Aleeya. “Bagaimana pun keadaan kita nanti, percayalah kak. Aku selalu mencintaimu dan anak kita” lanjut Aleeya.
Faiz menatap Aleeya lekat. “Jangan berpikir macam-macam sayang, kita akan terus bersama” kata Faiz.
Aleeya mengangguk. “Semoga Allah selalu menjaga keluarga kita” doa Aleeya dalam hati.
...
Aleeya menelepon pak Dimas, seseorang yang selama ini Aleeya percaya mengurus perusahan keluarganya.
“Assalamu’alaikum pak” sapa Aleeya.
“Wa’alaikumussalam buk Aleeya, apa kabar?” tanya pak Dimas.
“Alhamdulillah kabar saya baik pak, bagaimana harga saham perusahaan kita pak?” tanya Aleeya.
“Harga saham kita meningkat buk, setelah saya hitung-hitung harga saham kita mencukupi banyaknya hutang yang ibu katakan” jawab pak Dimas. “Tapi kalau saya boleh tahu apakah ibu yakin akan menjual perusahaan?” tanya pak Dimas.
__ADS_1
Aleeya diam membisu, sejujurnya ia tidak tega akan menjual perusahaan keluarganya. Perusahaan yang sudah dirintis ayahnya sejak awal, sungguh ia tidak tega. Tapi bagaimana lagi, ia ingin keluarganya bersatu.
“Iya Pak, saya yakin” jawab Aleeya.
“Maaf saya lancang bu, tapi bagaimana ibu bisa memiliki hutang sebanyak itu?” tanya pak Dimas penasaran.
Aleeya kemudian mencaritakan semua yang ia alami, bagaimana mertuanya memiliki hutang dan akan menjadikan Faiz sebagai penebus hutang.
“Oo begitu bu” jawab pak Dimas sedih. “Ibu yang sabar ya, segala sesuatu ada hikmahnya” kata pak Dimas menyemangati Aleeya.
“Iya pak, Terima kasih banyak” jawab Aleeya. “Ada satu hal lagi yang ingin saya katakan pak” lanjutnya.
“Iya buk, katakan saja” jawab pak Dimas.
Aleeya menahan sesak di dadanya. “Jangan pernah kasih tahu kak Faiz masalah ini pak, saya ingin keluarga kami bahagia tanpa memikirkan hal ini” jawab Aleeya.
“Baik bu, saya berjanji tidak akan mengatakan hal ini kepada pak Faiz” jawab pak Dimas.
“Sekali lagi Terima kasih pak” kata Aleeya. “Assalamu’alaikum” lanjutnya.
“Wa’alaikumussalam” jawab pak Dimas.
Telpon kemudian terputus.
“Alhamdulillah, harga perusahaan ku cukup untuk membayar hutang” batin Aleeya. “Aku akan ngelakuin apa pun kak agar keluarga kita bahagia” lanjutnya.
Aleeya kemudian menelepon buk Sanjaya, ia ingin memberitahu bahwa ia dapat membayar semua hutang kedua mertuanya sehingga ia tidak perlu kehilangan suaminya.
“Assalamu’alaikum ma” sapa Aleeya.
“Wa’alaikumussalam sayang” jawab buk Sanjaya.
“Aku telah menghitung harga seluruh saham perusahaan keluargaku ma” kata Aleeya. “Alhamdulillah semuanya cukup untuk membayar hutang mama” lanjutnya.
Buk Sanjaya terdiam, ia tidak bahagia sebagaimana rencananya dulu ingin menguasai perusahaan Aleeya. Hatinya malah bersedih, menantu kesayangannya tidak lama lagi akan merasakan kesengsaraan.
“Ma” panggil Aleeya ketika ia tidak mendengar suara mertuanya.
“Iya sayang” jawab buk Sanjaya.
“Apakah keadaan kamu telah pulih?” tanya buk Sanjaya.
“Alhamdulillah ma, keadaan Aleeya sudah membaik” jawab Aleeya.
“Besok ikut mama dan papa untuk menjumpai seseorang itu, kita akan menandatangi surat perjanjian” kata buk Sanjaya.
“Baik ma” jawab Aleeya.
“Terima kasih sayang, sekali lagi terima kasih” kata buk Sanjaya tulus.
“Iya sama-sama ma, aku hanya ingin keluarga kita bahagia” kata Aleeya. “Aku tutup ya ma, Assalamu’alaikum” lanjutnya.
“Wa’alaikumussalam” jawab buk Sanjaya, tanpa sadar air mata mengalir membasahi pipinya.
Buk Sanjaya tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi besok, sepertinya ia ingin lari sejauh-jauhnya bahkan kalau perlu di telan bumi.
“Maafkan mama, Aleeya” kata buk Sanjaya di dalam hati.
.
.
__ADS_1
.
MENGGAPAIMU