
Terlihat kerumunan orang sedang menikmati lagu yang dibawakan oleh sepasang musisi jalanan. Seorang wanita bernyanyi dengan sebuah gitar ditangannya, sedangkan seorang pria memainkan biola dengan nada yang memukau, mereka membawakan musik jazz yang lembut.
"Bagus sekali" kata Aleeya terpukau. "Perpaduan yang sempurna" lanjutnya.
Viktor memandangi wajah Aleeya yang sedang fokus menatap musisi jalanan tersebut, terlihat senyuman merekah dari wajah istrinya itu.
"Bagaimana dengan sebuah dansa?" tanya Viktor sambil mengulurkan tangannya ke arah Aleeya.
"Apa?" tanya Aleeya kaget. "Aku tidak bisa berdansa" lanjutnya.
"Tidak apa, kamu hanya perlu melemaskan tubuhmu, mengikuti irama dan perkataanku" balas Viktor.
"Tidak... Aku tidak bisa" kata Aleeya sedikit panik. "Bagaimana jika aku menginjak kakimu?" lanjutnya.
"Akan aku injak balik" jawab Viktor asal.
"Apa?!" tanya Aleeya melotot.
"Haha aku hanya bercanda" jawab Viktor. "Bagaimana jika kita coba saja?" tanyanya dengan raut wajah meyakinkan.
Aleeya menatap wajah Viktor, sebenarnya ia sangat takut jika nanti melakukan kesalahan.
"Baiklah, akan aku coba" jawab Aleeya.
"Nah bagus!" kata Viktor. "Jangan hiraukan orang lain, kita hanya perlu menikmatinya saja" lanjutnya.
"Baiklah" balas Aleeya yakin.
Viktor kemudian memegang pinggang Aleeya yang ramping, sedangkan Aleeya meletakkan kedua telapak tangannya di bahu Viktor, mereka mulai berdansa dengan diiringi musik jazz yang lembut.
Orang-orang di sekitar mulai memperhatikan Aleeya dan Viktor yang sedang berdansa, karena ini merupakan pertunjukan musik jalanan maka beberapa orang juga ikut berdansa bersama.
"Mereka mengikuti kita" kata Aleeya di sela-sela dansanya.
"Biarkan saja" balas Viktor, ia kemudian memutar tubuh Aleeya dengan sebelah tangannya.
"Apa ini?" tanya Aleeya.
"Beginilah caranya berdansa" jawab Viktor, ia kemudian memposisikan dirinya di belakang Aleeya seperti hendak memeluknya.
Viktor kemudian meletakkan sebelah tangannya ke perut Aleeya, sedangkan tangan yang satunya memegang sebelah tangan istrinya itu.
Mendapat posisi seperti itu membuat wajah Aleeya memerah, ia tidak terbiasa namun menyukainya.
"Bagaimana?" tanya Viktor, ia mendekatkan wajahnya di leher Aleeya.
"Bagaimana apanya?" tanya Aleeya sambil mengikuti gerakan dansa Viktor.
"Dansa ini" jawab Viktor.
"Hemm lumayan" balas Aleeya cepat.
"Tapi sepertinya kamu sangat menikmatinya" kata Viktor jail.
Tidak ada balasan dari Aleeya, ia tengah sibuk mengatur perasaannya.
"Huh, suasana ini membuat hatiku berdetak kencang" kata Aleeya dalam hati.
Melihat Aleeya tidak memberi respon apa-apa, Viktor kemudian membalikkan tubuh Aleeya sehingga mereka saling berhadapan kembali.
"Wajahmu memerah, pantas saja diam" kata Viktor sambil tertawa.
"Jangan mengejekku" balas Aleeya cepat. "Ayo kita selesaikan saja dansanya" lanjutnya.
"Tidak bisa" kata Viktor.
Aleeya mengerhitkan dahinya. "Kenapa?" tanyanya.
"Kita harus berdansa sampai lagunya selesai" jawab Viktor.
Aleeya melihat orang-orang sekitar, mereka masih berdansa dan menikmatinya.
__ADS_1
"Baiklah" balas Aleeya.
Aleeya dan Viktor menikmati dansa sore mereka, angin sepoi-sepoi dengan daun gugur yang jatuh ke tanah membuat suasana semakin romantis.
Orang-orang bertepuk tangan setelah menyaksikan musik dan lagu yang dibawakan oleh musisi jalanan beserta dengan dansa sederhana yang melengkapinya.
"Tuan" panggil Arthur. "Dansanya sangat indah" lanjutnya antusias.
Viktor hanya tersenyum simpul, ia sangat malu karena ternyata Arthur juga melihatnya.
"Tuan ada yang ingin saya katakan sebentar" kata Arthur.
"Ada apa? Katakan saja" perintah Viktor.
"Hem itu tuan..." balas Arthur.
"Sepertinya ada hal penting yang ingin dikatakan Arthur" potong Aleeya. "Bicarakan saja dulu, aku akan mendengarkan lagu lainnya" lanjutnya sambil tersenyum.
"Baiklah, kamu jangan ke mana-mana. Aku tidak jauh" kata Viktor.
"Oke" balas Aleeya.
Viktor dan Arthur kemudian menepi ke tempat yang tidak jauh dari posisi Aleeya.
"Ada apa?" tanya Viktor, ia kelihatan tidak sabar.
Arthur mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya dan memberikannya kepada Viktor.
"Apa ini?" tanya Viktor.
"Silahkan buka saja tuan" jawab Arthur.
"Sepasang cincin? Untuk apa?" tanya Viktor tidak mengerti.
"Untuk dipakai tuan dan nona" jawab Arthur.
Viktor mengerhitkan dahinya, ia masih bingung dengan perkataan Arthur.
"Setelah menikah, tuan dan nona sama-sama tidak memakai cincin pernikahan" kata Arthur. "Bukankah itu sangat mencurigakan, tuan?" tanyanya serius.
"Benar juga, bagaimana jika suatu hari nanti Aleeya menyadarinya dan bertanya? Apa yang harus kujawab?" kata Viktor dalam hati.
"Ini belum terlambat tuan, katakan saja ingin memulai lembaran baru dengan cincin ini" kata Arthur.
Viktor menatap Arthur dengan heran, pria tua yang sampai sekarang masih melajang ini ternyata sangat paham tentang urusan percintaan.
"Baiklah" balas Viktor, ia kemudian memasukkan kotak cincin tersebut ke dalam saku celananya.
"Semoga berhasil tuan" kata Arthur menyemangati.
Viktor kemudian berjalan menuju tempat Aleeya berdiri.
"Apa pembicaraannya sudah selesai?" tanya Aleeya ketika melihat Viktor sudah berada di sebelahnya.
"Iya sudah" jawab Viktor singkat. "Apa kamu ingin melihat sunset?" tanyanya.
"Mau" jawab Aleeya semangat. "Sepertinya sebentar lagi matahari akan terbenam" lanjutnya.
"Baiklah, ayo kita menyisiri jembatan lagi. Pemandangan sunset di sana sangat bagus" ajak Viktor.
"Ayo" balas Aleeya, kali ini ia yang menggenggam tangan Viktor.
Viktor dan Aleeya kembali menyisiri jembatan hingga sampai ke tengahnya, pemandangan dengan hamparan sungai dengan pantulan langit berwarna jingga sangat indah.
"Indah sekali langitnya" kata Aleeya, angin sepoi-sepoi menerpa pipinya yang halus.
"Cantik" gumam Viktor ketika melihat wajah Aleeya.
"Apa? Kamu barusan mengatakan sesuatu?" tanya Aleeya, ia seperti mendengar suara samar-samar.
"Tidak" jawab Viktor cepat.
__ADS_1
"Baiklah" balas Aleeya kemudian kembali melihat pemandangan indah di depannya.
"Hem, bagaimana menurutmu jika kita mempunyai anak?" tanya Viktor kaku.
Aleeya menatap wajah Viktor. "Sudah berapa lama kita menikah?" tanyanya balik.
"Sudah hampir dua tahun" jawab Viktor bohong.
Viktor menghitung lama pernikahannya dengan lama pernikahan Faiz dan Aleeya.
"Hem, cukup lama. Tapi kenapa kita belum mempunyai anak?" tanya Aleeya.
"Itu karena kamu tidak menginginkan pernikahan ini" jawab Viktor sedih. "Bagaimana kita bisa mempunyai anak, sedangkan kamu bahkan tidak ingin disentuh olehku?" lanjutnya.
Aleeya menyesali perilakunya di masa lalu. "Apa kita belum pernah melakukannya sekali pun?" tanyanya serius.
Viktor mengerhitkan dahinya. "Apa yang harus kukatakan? Pernikahan hampir dua tahun pasti setidaknya pernah melakukannya sekali, kalau tidak aku pasti terlihat bukan seperti pria normal!" batinnya.
"Pernah, hanya sekali. Waktu itu kamu tidak sadar, maafkan aku" jawab Viktor dengan raut wajah menyesal.
Aleeya menatap Viktor sedih. "Tidak, tidak apa" jawabnya. "Lagi pula itu hal yang biasa pada pasangan suami istri" lanjutnya sambil tersenyum getir.
Aleeya kemudian menatap mata Viktor lekat. "Aku ingin kita punya anak" katanya tegas.
Mendengar itu Viktor melotot tidak percaya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Aleeya. "Apa kamu tidak mau?" lanjutnya menyelidik.
"Tentu saja aku mau, sayang" jawab Viktor sambil tersenyum, ia kemudian memeluk Aleeya.
Aleeya membalas pelukan Viktor, ia juga tersenyum bahagia.
"Ah iya tunggu" kata Viktor di tengah-tengah pelukan mereka.
"Ada apa?" tanya Aleeya bingung.
Viktor melepaskan pelukannya dengan Aleeya, ia kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari saku celananya.
Aleeya yang bingung hanya menunggu apa yang akan dilakukan Viktor.
Di bawah langit yang berwarna jingga dengan angin sepoi-sepoi dan suara gemericik air sungai di bawah jembatan ini, Viktor berlutut di depan Aleeya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Aleeya panik.
Viktor hanya tersenyum, ia kemudian membuka kotak kecil yang ada di tangannya dan mengarahkan isinya kepada Aleeya.
"Will you marry me?" tanya Viktor serius, matanya menatap lurus mata Aleeya.
Mendengar itu Aleeya terkejut sekaligus tersipu malu. "Bukankah kita sudah menikah?" tanyanya.
"Benar, tapi aku ingin memulai lembaran baru bersamamu" jawab Viktor. "Will you marry me, Aleeya?" tanyanya lagi dengan lebih serius.
Aleeya mencoba memantapkan hatinya. "Yes, i will" jawabnya sambil tersenyum.
Viktor yang mendengar itu segera berdiri, ia kemudian memasangkan sebuah cincin ke jari manis Aleeya.
"Sangat pas" kata Viktor sambil tersenyum.
Melihat itu Aleeya juga tersenyum haru, ia merasa seperti dilamar kembali.
"Sini biar aku pakaikan untukmu" kata Aleeya kemudian meraih satu cincin lagi dari kotak kecil tersebut.
Aleeya memakaikan cincin itu ke jari manis Viktor. "Mulai sekarang kamu adalah milikku" katanya sambil tersenyum.
"Aku mencintaimu" kata Viktor.
"Aku juga mencintaimu" balas Aleeya.
.
.
__ADS_1
.
MENGGAPAIMU