
Viktor berdiri dengan sebuah handuk yang membalut pinggangnya, rambutnya basah dan dadanya terekspos sempurna, ia baru selesai mandi.
"Apa kamu sudah selesai mandi?" tanya Aleeya sambil tersenyum.
Viktor mengerhitkan dahinya. "Ada apa? Kenapa kamu tersenyum begitu?" tanyanya menyelidik.
Aleeya berjalan mendekati Viktor, ia kemudian membuka tali jubah mandi yang dikenakannya.
Viktor melotot tidak percaya. "Apa yang kamu lakukan?" tanyanya sambil menahan kedua tangan Aleeya.
Mendengar pertanyaan Viktor, Aleeya memanyunkan bibir bawahnya.
"Kan sudah aku bilang tadi sore, aku mau punya anak denganmu" jawab Aleeya kesal.
"Apa?!" batin Viktor. "Apa secepat ini?" lanjutnya.
"Sayang, apa secepat ini?" tanya Viktor kikuk.
"Tentu saja" jawab Aleeya tegas. "Lebih cepat lebih baik" lanjutnya kemudian melepas pegangan tangan Viktor ditangannya.
Aleeya kemudian meraba pelan dada Viktor yang terekspos, matanya menatap mata Viktor lembut.
"Sa... yang. Apa... kamu yakin?" tanya Viktor terbata, ia mencoba menahan sentuhan yang Aleeya berikan di tubuhnya.
"Tentu saja" jawab Aleeya, ia kemudian melanjutkan rabaannya sampai pada handuk yang melingkar di pinggang Viktor.
"Tung... gu" kata Viktor terbata, ia menahan sekuat mungkin sentuhan Aleeya yang bagai sengatan listrik.
"Sayang, ada apa?" tanya Aleeya. "Apa kamu tidak menginginkannya?" lanjutnya kesal.
"Bukan, bukan begitu" jawab Viktor. "Aku hanya ingin memastikan lagi" lanjutnya.
"Memastikan apa?" tanya Aleeya bingung.
"Apa kamu yakin ingin melakukannya?" tanya Viktor serius.
"Iya" jawab Aleeya cepat.
"Baiklah, kamu sudah memutuskan. Jangan tarik perkataanmu lagi" kata Viktor sambil tersenyum, ia kemudian mengangkat tubuh Aleeya dan merebahkannya di atas tempat tidur.
Aleeya yang mendapatkan perlakuan tiba-tiba dari Viktor tampak terkejut.
"Kita mulai?" tanya Viktor sambil mengukung tubuh Aleeya.
Aleeya mengangguk cepat. "Lakukan dengan lembut" jawabnya.
Viktor mulai menyisiri ceruk leher Aleeya. "Kamu sangat wangi" katanya menggoda.
Aleeya hanya diam menikmati apa yang dilakukan Viktor kepadanya, wajahnya merah padam, sedangkan hatinya berdetak kencang.
Viktor mengelus wajah Aleeya yang halus, ia mulai dari dahi melewati hidung hingga sampai pada ujung dagu.
Mendapat sentuhan dari Viktor, Aleeya segera menutup kedua matanya.
Viktor kemudian mencium Aleeya lembut, matanya juga terpejam merasakan sensasi yang sudah sangat lama ia rindukan.
Sejak Aleeya mulai memasuki hidupnya, Viktor hanya menggunakan wanita sebagai seseorang yang menemaninya minum saja, ia tidak pernah melakukan hal-hal intim lainnya. Pikirannya hanya terfokus pada Aleeya, baik itu balas dendam yang berujung dengan siksaan maupun kebohongan pernikahan ini.
Aleeya memperdalam ciumannya dengan Viktor, ia sudah tidak dapat menahan dirinya lagi, begitu pun dengan Viktor.
"Ah, aku tidak bisa menahan ini!" batin Viktor. "Kau yang memintanya Aleeya, menyesal pun tidak ada gunanya!" lanjutnya.
Viktor dan Aleeya hanyut dalam rasa cinta yang memabukkan, malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi mereka berdua.
"Terima kasih sayang" kata Viktor kemudian berbaring di samping Aleeya, seluruh wajahnya dipenuhi keringat, ia terlihat sangat kelelahan.
__ADS_1
Aleeya menggangguk. "Kamu sudah melakukannya dengan baik" katanya sambil tersenyum.
Viktor mencium pelan kening Aleeya, ia kemudian membiarkan istrinya itu tertidur.
"Kau sudah sepenuhnya menjadi milikku!" batin Viktor. "Aku sudah menjeratmu dengan rantai yang sangat kuat!" lanjutnya dengan senyum menyeringai.
Viktor memiringkan tubuhnya dan menatap lekat wajah Aleeya yang tengah tertidur damai, ia kemudian merapikan rambut Aleeya yang sedikit berantakan, mengelus halus kelopak mata dan pipinya.
"Wijaya, kau memang mempunyai putri yang sangat cantik" seringai Viktor. "Aku akan sangat serakah untuk memilikinya!" lanjutnya kemudian tertidur.
"Lepaskan aku!" teriak Aleeya.
Tubuhnya dihempas kasar ke tempat tidur. Seorang pria yang terlihat samar tengah menekan kuat bahu Aleeya.
"Sakit! Lepaskan!" teriak Aleeya sambil menangis. "Kamu siapa?" tanyanya.
"Kau berani sekali bermain di belakangku!" teriak pria itu.
Aleeya tidak mengerti dengan apa yang dikatakan pria itu, ia terus mencoba menahan cengkeraman kuat di bahunya.
"Sepertinya kau sangat tidak tahu posisimu ya!" kata pria itu, matanya menyiratkan emosi yang berapi-api.
"Apa maksudmu?" tanya Aleeya bingung.
Di tengah kebingungan Aleeya, tiba-tiba pria itu menciumnya dengan kasar.
"Tidak!" teriak Aleeya.
"Akan kutunjukkan siapa pemilikmu yang sebenarnya!" teriak pria itu kemudian membuka paksa pakaian Aleeya.
"Tidak! Lepaskan!" teriak Aleeya panik.
Pria itu tidak mendengar teriakan Aleeya yang histeris, ia kemudin memaksa Aleeya melakukan itu lagi dan lagi.
"Lepaskan" kata aleeya parau, hatinya tiba-tiba terasa sakit.
"Berhenti" kata Aleeya lagi, tapi pria itu seakan tuli.
Air mata mengalir deras di pipi Aleeya. "Sebenarnya di mana ini? Kenapa aku seperti pernah merasakan rasa sakit ini sebelumnya?" tanyanya dalam hati.
"Aleeya, maafkan aku. Ini hanya kesalahan" kata pria itu.
"Tidak! Tidak! Siapa kamu sebenarnya?!" teriak Aleeya.
Tidak ada jawaban, pria yang terlihat samar itu menatapnya dengan menyesal.
"Ini hanya kesalahan" kata pria itu lagi.
"Kak, jangan pergi!" teriak Aleeya.
"Jangan pergi!"
"Kak, kamu kenapa melakukan ini kepadaku?!"
"Kenapa kak?!"
"Kenapa?!"
"Kak Faiz!"
Aleeya tersentak dalam tidurnya.
"Ada apa?" tanya Viktor kaget.
Aleeya menatap Viktor, bulir hangat sudah memenuhi matanya.
__ADS_1
"Sayang, kenapa?" tanya Viktor khawatir. "Apa kamu bermimpi buruk lagi?" lanjutnya.
"Aku... Aku" jawab Aleeya terbata.
Melihat Aleeya yang terbata, Viktor segera mengambil segelas air di meja samping tempat tidur.
"Minumlah dulu" kata Viktor.
Aleeya mengambil segelas air yang diberikan Viktor kemudian meminumnya.
"Tarik napas dalam-dalam, lalu buanglah" kata Viktor.
Aleeya melakukan apa yang dikatakan Viktor, beberapa menit kemudian ia sudah terlihat tenang.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Viktor ketika melihat Aleeya sudah tenang.
"Aku bermimpi ada seorang pria yang memaksakan dirinya kepadaku" jawab Aleeya cemas.
"Apa?!" teriak Viktor. "Maaf aku kaget, seorang pria? Apa kamu tahu siapa dia?" tanyanya memastikan.
Aleeya diam sejenak. "Sepertinya dia pria yang sama dengan yang ada di mimpiku sebelumnya, tapi wajahnya masih samar" jawabnya.
"Itu pasti Faiz" batin Viktor. "Tapi kenapa dia memaksa Aleeya melakukannya? Bukannya mereka saling mencintai?" lanjutnya bingung.
"Pria itu bilang aku tidak mengetahui posisiku, kemudian dia menciumku dengan kasar" kata Aleeya lagi. "Sebenarnya siapa dia?" tanyanya frustasi.
"Sayang tenanglah" balas Viktor sambil menepuk pelan bahu Aleeya, ia mencoba menenangkannya.
Viktor tampak berpikir keras dengan apa yang barusan Aleeya katakan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" batin Viktor. "Aku harus segera mencari tahu!" lanjutnya.
Viktor kemudian membalikkan tubuh Aleeya sehingga mereka saling berhadapan.
"Aleeya dengar, lupakan semua hal yang menyakitimu, kita mulai lembaran baru ini" kata Viktor serius, ia menatap mata Aleeya lekat.
Aleeya menatap mata Viktor, ia terlihat bingung.
"Sebelum menikah, kita tidak saling mengenal satu sama lain. Apa pun yang ada di masa lalumu, aku tidak akan mempertanyakannya" kata Viktor. "Untuk itu kamu harus melupakannya jika menyakitkan" lanjutnya.
"Maksud kamu mimpi buruk ini ada hubungannya dengan masa laluku?" tanya Aleeya.
"Mungkin saja" jawab Viktor. "Tapi itu tidak penting, aku menerimamu apa adanya. Mari jalani hidup kita dengan bahagia sekarang" lanjutnya meyakinkan.
Aleeya mengangguk mengerti. "Baiklah, mari jalani hidup bersama" katanya yakin.
Viktor kemudian memeluk Aleeya dan Aleeya pun membalas pelukannya.
"Sudah ayo kita tidur" kata Viktor. "Aku masih lelah karena tadi..." lanjutnya terpotong.
"Sudah, sudah. Ayo kita tidur" potong Aleeya cepat, mengingat kejadian tadi membuat wajahnya kembali memerah.
"Haha baiklah" balas Viktor, ia kemudian mencium pelan kening Aleeya.
Aleeya menatap Viktor yang sedang tersenyum ke arahnya. "Aku sangat beruntung memilikimu" katanya.
"Aku juga" balas Viktor. "Ayo tidur" lanjutnya.
Aleeya kemudian menutup kedua matanya, beberapa menit kemudian ia sudah tertidur.
"Faiz, Faiz! Kenapa kamu masih membayangi istriku?!" batin Viktor kesal.
.
.
__ADS_1
.
MENGGAPAIMU