
Aleeya terbangun dari tidurnya pukul 4 pagi karena mendengar suara tangisan Syifa.
“Pasti putri kecilku kehausan” batinnya.
Aleeya mengangkat Syifa dari box bayi dan membawanya ke tempat tidur untuk memberi ASI, Aleeya memandang wajah damai suaminya ketika tidur. Suatu hal yang sangat Aleeya suka setiap bangun tidur, ia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang disayanginya.
“Oeekkkk… Oeeekkk”
“Uluh… uluh… anak mama haus ya” kata Aleeya pada putri kecilnya.
Tak lama kemudian Faiz membuka matanya, yang kemudian tersenyum menatap Aleeya dan Syifa.
“Pagi sayang” kata Faiz kemudian menyium kening Aleeya dan putrinya.
“Papa bau ya kan sayang” kata Aleeya pura-pura berbicara dengan Syifa. “Belum mandi udah main cium-cium aja” lanjutnya.
Faiz yang mendengar omelan Aleeya sontak tertawa.
“Gapapa kan sayang” kata Faiz sambil menatap Syifa. “Papa gak mandi juga masih tetap wangi” lanjutnya.
“Hmm… Mana bisa gitu” protes Aleeya.
“Ya bisa dong, ya kan sayang” kata Faiz seolah-olah berbicara dengan Syifa.
Aleeya pun ikut tertawa, ‘suasana pagi yang manis’ batinnya.
Setelah Syifa merasa cukup dan tidak haus, Aleeya kemudian meletakkan bayinya kembali ke box bayi.
“Lho kok di taruh disana lagi ma?” tanya Faiz menggoda.
Aleeya menatap Faiz. “Iya dong, mama mau masak sarapan papa. Emang papa mau jagain Stifa?” tanya Aleeya dengan nada anak kecil.
Faiz terkekeh. “Mau dong sayang, kan papa sayang Syifa” jawab Faiz tak mau kalah.
“Yaudah deh, Syifa main sama papa dulu ya” kata Aleeya kemudian memberikan Syifa kepada Faiz.
Faiz tersenyum.
“Kak, aku masak dulu ya. Kalau ada apa-apa panggil aku” kata Aleeya kemudian berlalu.
Faiz menatap punggung istrinya dari belakang, kemudian berganti menatap Syifa.
“Syifa cantik sama papa dulu ya” kata Faiz kemudian mencium pipi putrinya.
...
Aleeya tengah memasak sarapan untuk Faiz, walaupun dirumah ada bi Sumi tapi Aleeya tetap ingin memasak untuk suaminya. Biarkan pekerjaan yang lain bi Sumi yang handle, urusan masak-memasak biarkanlah ia yang mengurus.
Drrrttt… Drrrtttt… Drrrrttttttt…
Telpon Aleeya berdering, terpampang nama ibu mertuanya.
“…”
“Wa’alaikumussalam ma” jawab Aleeya.
“Gimana kabar kamu sayang, udah baikan kan?” tanya buk Sanjaya.
“Alhamdulillah sudah ma” jawab Aleeya.
“Oo iya mama ingin mengingatkan kamu saja, hari ini kita akan bertemu dengan seseorang yang telah memberikan hutang ke mama” kata buk Sanjaya.
Mendengar hal itu, Aleeya sontak memberhentikan kegiatannya. Sungguh, ia masih belum sepenuhnya bisa untuk melepaskan perusahaan keluarganya itu.
“Iya ma, Aleeya ingat kok” jawab Aleeya.
“Mama kirim alamatnya ke kamu ya, nanti kita ketemu disana” kata buk Sanjaya.
"Kenapa gak sekalian aja ya?"tanya Aleeya dalam hati.
“Mama sama papa masih ada meeting pagi ini, bisa kan sayang?” tanya buk Sanjaya.
“Oo iya bisa ma” jawab Aleeya.
“Sampai ketemu disana ya sayang” kata buk Sanjaya kemudian memutuskan sambungan telponnya.
…
Faiz sudah memakai setelan kemeja dan jasnya, ia bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
__ADS_1
“Kak, nanti aku jam 10 an izin keluar bentar ya” kata Aleeya.
“Lho emang keadaan kamu udah pulih sayang?” tanya Faiz cemas.
Pasalnya Aleeya baru seminggu keluar dari rumah sakit.
“Iya kak, udah lumayan” jawab Aleeya. “Tadi aku udah nitip Syifa sama bi Sumi dulu” lanjutnya.
“Kamu mau kemana rupanya sayang?” tanya Faiz.
Deg.
“Apa yang harus aku katakan?” tanya Aleeya dalam hati.
“Oo itu kak, tadi pak Dimas ngajak ketemuan. Mau bicara soal perusahaan gitu kak” jawab Aleeya berbohong.
“Oo gitu” jawab Faiz. “Jangan terlalu kecapekan ya sayang” lanjut Faiz.
Aleeya kemudian mencium punggung tangan suaminya itu, Faiz kemudian membalas mencium kening Aleeya. Sudah menjadi kebiasaan mereka berdua setiap pagi.
“Assalamu’alaikum” kata Faiz.
“Wa’alaikumussalam” jawab Aleeya. “Hati-hati di jalan ya kak” lanjutnya.
“Iya sayang” jawab Faiz.
Mobil pun kini telah melaju melewati pagar dan kemudian belok dan menghilang.
Aleeya kemudian ke kamar untuk melihat putri kecilnya.
“Saatnya mandi sayang” kata Aleeya kemudian mengangkat Syifa dan memasukkan ke dalam bak mandi bayi.
“Syifa mandi dulu ya, biar tambah cantik” kata Aleeya kemudian membasuh perlahan badan Syifa.
Setelah memakaikan Syifa baju dan menidurkannya, Aleeya kemudian memanggil bi Sumi.
“Bi” panggil Aleeya.
“Iya, ada apa non?” tanya bi Sumi.
“Bi, saya mau pergi sebentar. Titip Syifa ya” kata Aleeya.
“Lho emang non mau kemana? Kan non masih harus istirahat” jawab bi Sumi.
Tampak wajah cemas dari bi Sumi, bi Sumi memang selalu mengkhawatirkannya. Mungkin karena dari kecil Aleeya selalu di asuh oleh bi Sumi.
“Gak apa-apa kok bi, Aleeya udah sehat” kata Aleeya menenangkan.
“Iya non, Hati-hati di jalan ya non” jawab bi Sumi.
“Iya bi, Assalamu’alaikum” kata Aleeya.
“Wa’alaikumussalam” jawab bi Sumi.
...
Aleeya telah hadir di sebuah hotel berbintang lima, sesuai dengan alamat yang diberikan oleh ibu mertuanya.
Tak berapa lama kemudian Sanjaya dan istrinya sampai di hotel itu.
“Kamu udah lama sampai sayang?” tanya buk Sanjaya.
“Hmm enggak kok ma, baru saja” jawab Aleeya.
Mereka tengah duduk di ruang VVIP hotel tersebut, hanya ada mereka bertiga yang duduk disana.
“Dimana seseorang itu ma?” tanya Aleeya, sejak tadi belum ada siapapun yang datang ke ruangan mereka.
“Iya sayang, mungkin ada urusan sebentar” jawab buk Sanjaya.
Sanjaya hanya terdiam, ia tidak dapat berkata apapun lagi.
Setelah 10 menit berlalu, tampaklah seorang pria tinggi dan gagah yang diikuti oleh beberapa pengawal tengah masuk ke ruangan itu.
“Selamat pagi Viktor” sapa buk Sunjaya.
Pria itu hanya diam tanpa menjawab, tatapan dingin itu menatap Aleeya lekat.
Aleeya yang menyadari tengah ditatap oleh pria di depannya, hanya dapat mengalihkan pandangannya ke arah lain.
__ADS_1
“Ini dia orangnya ma?” bisik Aleeya pada buk Sanjaya.
“Iya sayang” jawab buk Sanjaya pelan, sejujurnya ia sangat takut sekali berhadapan dengan pria asal Jerman ini.
Aleeya melihat pria yang ada di depannya ini, pria tinggi, putih, gagah, dingin dan memiliki pandangan yang tajam melebihi tajamnya tatapan Faiz dulu kepada dirinya.
“Sepertinya kalian menepati janji” kata pria asal Jerman tiba-tiba.
Suaranya mampu menghentikan detak jantung seseorang saking kagetnya.
Wajah Sanjaya dan istrinya mulai pucat, kecuali Aleeya. Karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi padang dirinya selanjutnya.
“Iya” jawab Sanjaya. “Kami telah menepati janji kami” lanjutnya.
Aleeya yang tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini langsung membuka suara.
“Baiklah, kami tidak ingin berlama-lama. Ini uang untuk melunasi hutang kedua mertuaku” kata Aleeya tanpa basa-basi.
Pria asal Jerman itu tersenyum menakutkan, membuat bulu kuduk Aleeya berdiri tanpa sebab.
‘Menyeramkan sekali’ batin Aleeya.
“Hutang?” tanya pria itu terkekeh. “Hutang apa?” lanjutnya.
Aleeya yang bingung dengan keadaan itu, melirik ke arah mertuanya. Tapi sayang semuanya hanya diam.
“Baiklah, kalian keluar!” perintah pria asal Jerman itu.
Mata Aleeya terbelalak kaget, keluar? Maksudnya apa?
“Maaf tuan, kami kesini ingin membayar hutang” kata Aleeya lagi.
Pria asal Jerman itu tersenyum, dengan senyuman yang sulit diartikan.
“Bawa kesini uangnya!” perintah pria itu kepada para pengawal.
Para pengawal membawa banyak tas yang berisikan uang dan check uang, mereka melemparkan tas-tas itu kehadadapan Sanjaya dan istrinya.
“Sekarang kalian boleh pergi!” kata pria asal Jerman itu.
Sanjaya dan istrinya kemudian membawa tas-tas itu dan segera pergi, tapi sebelum pergi mereka menatap Aleeya lekat.
“Maafkan kami, Aleeya” kata mereka berbarengan.
Aleeya tidak mengerti. “Ma, pa. Kalian mau kemana?” teriak Aleeya, ia mencoba mengejar kedua mertuanya itu.
Namun sayangnya, para pengawal menahan tubuhnya untuk pergi dari ruangan itu.
“Siapkan pesawat, kita akan terbang ke Jerman hari ini” kata pria asal Jerman itu kepada para pengawalnya, kemudian berlalu.
“Hey, hey. Lepaskan aku!” teriak Aleeya kepada pria asal Jerman itu.
“Hey, kamu!” teriaknya lagi.
Pria asal Jerman itu, alias Viktor membalikkan tubuhnya yang gagah itu.
“Lepaskan aku, aku mau pulang!” kata Aleeya.
“Tidak akan” jawab Viktor.
“Kenapa? Aku ingin berjumpa dengan keluargaku” kata Aleeya.
Viktor tersenyum licik. “Kau tidak akan pernah kembali, Sanjaya dan istrinya telah menjualmu!” kata Viktor kemudian berlalu.
Aleeya terkejut bukan main, tidak mungkin mertuanya tega menjual dirinya. Bukankah dia telah melakukan apa saja untuk menolong mereka?
Hiks.
Hiks.
Aleeya menangis tak henti-henti, ia meronta-ronta minta dilepaskan. Tapi para pengawal itu menariknya tubuhnya dengan paksa, hingga semua pandangannya gelap. Ia tak dapat merasakan apa-apa.
…
“Baiklah Aleeya, permainanku akan segera dimulai” kata Viktor kemudian memakai kacamata hitamnya.
.
.
__ADS_1
.
MENGGAPAIMU