MENGGAPAIMU

MENGGAPAIMU
KETAKUTAN FAIZ


__ADS_3

Perasaan Faiz hari ini sungguh sangat kacau, semua pekerjaan kantornya berantakan. Hatinya sungguh tidak tenang, ia ingin cepat-cepat kembali ke rumah.


“Kenapa hatiku jadi gusar begini?” tanya Faiz pada dirinya sendiri. “Aku harus pulang cepat!” lanjutnya.


Mobil Faiz mulai memasuki halaman rumah mewah itu, pikirannya hanya ingin bertemu dengan istri dan anaknya secepat mungkin.


“Selamat sore tuan” sapa bi Sumi kemudian membawa tas kerja Faiz.


“Dimana Aleeya bi?” tanya Faiz kepada asisten rumah tangganya itu.


Bi Sumi diam sejenak kemudian menjawab. “Sejak pagi tadi non Aleeya belum ada pulang tuan” jawab bi Sumi.


Faiz tampak berpikir sejenak. “Kemana kamu Aleeya?” batinnya.


“Syifa mana bi?” tanya Faiz.


“Non Syifa sedang tidur di kamar tuan, dari tadi non Syifa menangis tak henti-henti. Setelah kecapean menangis non Syifa kemudian tertidur, tuan” kata bi Sumi sedih.


“Pasti Syifa kangen sama ibunya” batin Faiz lagi.


Faiz kemudian berlalu meninggalkan bi Sumi, mendengar penuturan wanita paruh baya itu hati Faiz semakin tidak tenang.


Faiz mencoba menelpon Aleeya berkali-kali namun tidak di jawab, ia kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menenangkan pikirannya.


“Mungkin setelah aku mandi, Aleeya akan menelponku dan memberi kabar” batin Faiz.



Setelah membersihkan diri Faiz kemudian mengecek kembali handphonenya, memastikan apakah Aleeya sudah menelpon atau membalas semua pesan-pesannya. Namun hasilnya masih sama, Aleeya belum memberi kabar.


Faiz kemudian menelpon mamanya. “Mana tahu mama tahu Aleeya dimana” batinnya.


Drrrttt… Drrtttt… Drrrr…


“Assalamu’alaikum ma” sapa Faiz.


“Wa’alaikumussalam sayang” jawab buk Sanjaya datar, ketakutan mulai menyelimuti dirinya.


“Mama tahu Aleeya dimana gak? Dari pagi Aleeya keluar dan belum kembali, telpon dan pesan Faiz juga belum dibalas” kata Faiz panjang lebar.


Buk Sanjaya hanya terdiam.


“Ma” panggil Faiz.


“Hmm… Mama gak tau sayang, mungkin Aleeya ada urusan penting” jawab buk Sanjaya.


“Tapi kan ini udah malem ma, masa belum pulang” kata Faiz.


“Coba kamu telpon nomor kantor Wijaya Company” saran buk Sanjaya.


“Oo iya mama benar, aku tutup dulu ya ma. Aku mau telpon kantornya dulu” kata Faiz.


“Iya sayang, semoga Aleeya baik-baik saja” jawab buk Sanjaya.


“Assalamu’alaikum” kata Faiz.


“Wa’alaikumussalam” jawab buk Sanjaya.


Faiz kemudian menelpon nomor perusahaan Wijaya Company.


“Assalamu’alaikum” sapa Faiz.


“Wa’alaikumussalam, maaf ini siapa ya?” tanya seorang wanita diseberang sana.


“Saya Faiz Anugrah Sanjaya, suaminya Aleeya” jawab Faiz.


“Oo iya, ada yang bisa saya bantu pak?” tanya wanita itu.


“Saya mencari istri saya, apakah ia ada di kantor sekarang?” tanya Faiz.


“Buk Aleeya tidak ada datang ke kantor hari ini pak” jawab wanita itu.

__ADS_1


Dahi Faiz berkerut. Tidak ada? Lalu dimana?


“Apakah kamu sudah mengeceknya?” tanya Faiz lagi.


“Iya Pak, saya sudah mengecek dari pagi buk Aleeya tidak ada datang ke kantor” jawab wanita itu lagi.


“Oo begitu, baiklah terima kasih” kata Faiz kemudian menutup sambungan telpon.


Faiz semakin gusar, pikirannya terbang entah kemana-mana.


“Dimana kamu Aleeya” kata Faiz.


Faiz kemudian mengingat bahwa tadi lagi Aleeya beralasan keluar untuk menemui pak Dimas, seseorang yang dipercaya untuk mengurus perusahaan Wijaya Company.


Faiz kemudian menekan kembali keyboard handphonenya dan mencoba menghubungi pak Dimas.


“Assalamu’alaikum pak” sapa Faiz.


“Wa’alaikumussalam, ada apa ya pak?” jawab pak Dimas.


“Tadi pagi istri saya Aleeya izin untuk menjumpai bapak, apa bapak tahu dimana Aleeya sekarang?” tanya Faiz.


“Tadi pagi? Tapi saya tidak mempunyai janji dengan buk Aleeya” jawab pak Dimas.


Pikiran Faiz kembali melayang kemana-mana.


“Jadi istri saya tidak ada menemui bapak?” tanya Faiz lagi.


“Tidak ada pak” jawab pak Faiz. “Tapi ada sesuatu yang mengganjal beberapa hari ini” lanjutnya.


Dahi Faiz kembali berkerut. “Maksud bapak?” tanya Faiz penasaran.


“Iya Pak, beberapa hari yang lalu buk Aleeya menyuruh saya untuk menguangkan harga perusahaan” jawab pak Dimas.


Faiz terus menyimak penjelasan pak Dimas dengan penasaran.


“Lalu?” tanya Faiz.


Bola mata Faiz membulat. Hutang?


“Hutang orang tua saya pak?” tanya Faiz lagi


“Iya pak, kata buk Aleeya orang tua bapak memiliki hutang yang begitu besar” jawab pak Dimas. "Karena kalau tidak dibayar hutangnya, bapak akan… " suara pak Dimas tercekat, ia ingat bahwa Aleeya ingin ini semua menjadi rahasia.


“Saya akan apa?” tanya Faiz masih dengan suara penasaran.


“Saya tidak bisa memberitahunya pak” jawab pak Dimas.


“Bapak jangan menyembunyikan sesuatu dari saya, ini mengenai istri saya!” bentak Faiz, ia tersulut emosi.


“Maaf pak, saya tidak bisa mengatakannya” jawab pak Dimas dengan suara menyesal. “Lebih baik kita mencari buk Aleeya terlebih dahulu pak” lanjutnya.


Mendengar saran pak Dimas, emosi Faiz mulai mereda. Hal yang seharusnya ia lakukan saat ini adalah mencari istrinya bukan berdebat dengan pak Dimas.


“Baiklah pak, saya mohon bantuannya untuk mencari istri saya” kata Faiz akhirnya.


“Baik pak, saya akan segera mencari tahu dimana keberadaan buk Aleeya” jawab pak Dimas.


“Maaf mengganggu waktunya, terima kasih pak. Assalamu’alaikum” kata Faiz.


“Wa’alaikumussalam” jawab pak Dimas.


“Aleeya kamu dimana” batin Faiz sedih. “Aku harus nyuruh orang untuk cari Aleeya” lanjutnya.


“Cepat cari Aleeya sekarang juga dan cari tahu kegiatan dia hari ini!” perintah Faiz.


“Baik pak”


Faiz kemudian menelpon Natasya, ia ingin memberitahu perihal hilangnya Aleeya.


“Assalamu’alaikum kak” kata Faiz membuka percakapan.

__ADS_1


“Wa’alaikumussalam iz” jawab Natasya.


“Kak, kakak tahu Aleeya dimana?” tanya Faiz.


“Lho bukannya Aleeya lagi sama kamu ya?” tanya Natasya balik.


“Enggak kak, dari pagi Aleeya pergi dan belum kembali” jawab Faiz.


“Kami udah telpon polisi?” tanya Natasya.


“Ini belum 2 x 24 jam kak” jawab Faiz lesu.


“Oo iya, jadi gimana iz?” tanya Natasya.


“Aku udah nyuruh orang untuk cari Aleeya kak, kakak tolong bantu cari Aleeya ya” pinta Faiz.


“Iya iz, pasti kakak bantu cari” jawab Natasya.


“Aku tutup dulu ya kak, Assalamu’alaikum” kata Faiz.


“Wa’alaikumussalam” jawab Natasya.


Faiz kemudian memutuskan panggilannya dengan Natasya.


“Harus kemana lagi aku cari kamu Al” rintih Faiz.


Oekkkk… Oekkkkkkk


Terdengat suara tangisan bayi dari lantai atas, Faiz kemudian berjalan cepat menuju kamarnya dengan Aleeya.


Faiz kemudian menggendong bayi mungil itu. “Udah jangan nangis sayang, cup… cup… cup” kata Faiz sambil menenangkan putri kecilnya.


Namun Syifa masih saja menangis tanpa henti. “Sepertinya jkatan batin Syifa sama Aleeya sangat kuat” batin Faiz.


“Bi, bi!” panggil Faiz.


Bi Sumi kemudian masuk ke kamar, ia kemudian melihat Syifa yang tengah menangis tak henti-henti sampai bibir bayi mungil itu bergetar hebat.


“Buatkan susunya bi!” perintah Faiz cemas.


“Baik tuan” jawab bi Sumi kemudian cepat-cepat beranjak pergi ke dapur.


“Sayang, jangan nangis gitu dong. Papa jadi sedih lihat kamu kayak gini” kata Faiz sambil menatap Syifa sendu.


“Kamu dimana Aleeya?” kata Faiz dalam hati kemudian mengecup kening putri kecilnya.


Faiz terus-menerus mendiamkan putri kecilnya agar berhenti menangis, namun usahanya tidak membuahkan hasil. Putri kecilnya masih terus menangis bahkan sampai melengking, membuat siapa saja akan yang mendengar suara tangisan menjadi iba.


“Sayang, jangan nangis sayang” kata Faiz masih terus menenangkan.


Faiz kemudian merasakan panas pada tubuh putri kecilnya itu, Syifa demam!


Tak berapa lama kemudian bi Sumi masuk ke kamar memberikan susu formula untuk bayi itu.


“Bi kayaknya Syifa demam ini bi” kata Faiz sambil memegang kening putrinya.


Bi Sumi juga memegangi kening Syifa. “Iya tuan, non Syifa demam” kata bi Sumi.


“Cepat telpon dokter, suruh kesini bi!” perintah Faiz.


Bi Sumi kemudian segera beranjak ke bawah untuk menelpon dokter.


“Semoga kamu gak kenapa-napa sayang” kata Faiz sedih.


.


.


.


MENGGAPAIMU

__ADS_1


__ADS_2