Mengubah Takdir: Monster Girl

Mengubah Takdir: Monster Girl
Bab 21 - Tanpa Empati


__ADS_3

"Oh, apa saya boleh bertanya, Pak?" ujar Kyara pada Pak Nof


"Ya? Mau tanya apq?" jawab pria yang berumur setengah abad tersebut.


"Dokter Juandi itu dokter di bagian apa, ya?" tanya Kyara.


"Ngapain kamu tanya-tanya dokter Juandi?" Albert tiba-tiba muncul di belakang mereka.


"Eh, dokter. Maaf, saya hanya penasaran karena belum pernah melihatnya," jawab Kyara berusaha tetap tenang. Ia tidak ingin Albert membaca pikirannya.


"Sepertinya ia orang yang sangat perfeksionis, karena mengatur semua benda dengan sangat rapi. Bahkan buku-buku juga tertata rapi sesuai warnanya. Saya jadi sedikit cemas membersihkan ruangannya," lanjut wanita yang dikenal dengan nama Kalisa tersebut.


"Jangan terlalu mencari tahu tentang dia. Dokter Juandi tidak akan suka," jawab Albert sedikit ketus. Kyara auto diam, namun hatinya justru semakin bertanya-tanya.


"Pak Nof, nanti akan ada pihak ketiga menjemput limbah non B3. Nanti tolong di handle, ya. Jangan lupa laporannya," ucap Albert sebelum pergi.


Limbah non B3: sampah biasa/ bukan sampah medis atau benda beracun.


"Baik, dokter," ucap Pak Nof.


"Sssttt... Kalisa. Jangan diambil hati ucapan dokter Albert tadi," kata Pak Nof melihat Kyara pucat pasi.


"Eh, saya nggak apa-apa, kok," ujar Kyara.


"Apanya yang nggak apa-apa. Muka kamu pucat gitu," kata Pak Nof. "Dokter Albert emang hubungannya kurang baik dengan dokter Juandi. Lagi pula, dokter Juandi itu baru dua minggu di sini, atas permintaan salah seorang pemegang saham di sini," jelas Pak Nof.


"Oh, ya ampun! Berarti aku tadi bikin kesalahan fatal, dong."


"Maklum aja. Kamu kan baru di sini," kata Pak Nof.


...🌺🌺🌺...


Suara deru mobil memecah keheningan perkebunan yang sepi dan gelap itu. Kendaraan beroda empat tersebut meliuk-liuk mengukikuti jalan yang berliku dan bergelombang.


Sesekali sang pengemudi mendadak menginjak rem, demi menhindari tabrakan para hewan liar yang tiba-tiba melintas.


"Dokter, apa benar nanti saya bakal diteliti untuk menghasilkan formula dan metode pengobatan baru?" tanya Kyara.


"Iya. Kenapa? Kalau kamu mau menolaknya boleh, kok. Kamu bisa bekerja seperti biasa di klinik," ujar Albert sambil tetap fokus memegang kemudi.

__ADS_1


"Ah, nggak. Aku justru merasa lebih lega, kalau memang itu benar," jawab Kyara tanpa menoleh. Jalanan yang gelap di depan, membuatnya takut sekaligus penasaran.


"Loh, kok gitu. Kamu pengen banget sembuh, ya?"


"Sudah pasti, itu iya juga. Tapi, yang lebih membuatku senang, karena huhungan take and give kita jadi lebih jelas."


"Maksudnya gimana, sih?" Albert masih belum menangkap maksud pembicaraan Kyara.


"Jika dokter menolongku dengan alasan belas kasihan, apalagi sekedar balas budi, hal itu hanya akan membebaniku dan membuatku curiga," jelas Kyara.


"Aku ikut dokter ke sini saja, rasanya seperti mempertaruhkan seluruh hidupku" lanjut Kyara.


"Kalis- Maksudku Kyara, kau tak perlu mencemaskan hal itu. Aku ini orang yang logis dan sulit berempati pada seseorang," jawab Albert.


"Tapi belakangan ini, ada seseorang yang mengajarkanku peduli dan empati," ucap Albert dalam hati.


"Syukurlah. Dokter tahu sendiri, kan? Kalau aku baru saja dikhianati oleh seluruh keluargaku. Bahkan mereka tega mengorbankan orang lain demi memuluskan rencananya," kata Kyara.


"Tapi itu kan baru dugaan kita. Bisa saja seseorang yang bernama Kalisa itu dibayar mahal untuk mengganti identitasnya," ucap Albert.


"Kurasa semua tebakan awal kita benar," gumam Kyara.


"Oh, itu. Apa dokter memang gak dekat dengan dokter Juandi?" tanya kyara hati-hati. "Aku dengar, dokter terpaksa menerimanya di klinik karena desakan para pemegang saham," lanjutnya.


"Ah, itu... Memang sudah bukan rahasia lagi, rupanya. Ya, aku memang sangat membencinya, karena beberapa kali melanggar kode etik para medis," jawab Albert.


"Melanggar kode etik para medis?"


"Ya pokoknya banyaklah masalahnya. Tapi dia justru disukai para penguasa dan kaum elit, karena dianggap Fleksibel," cerita Albert dengan nada kesal.


"Kalau bukan karena desakan dari para pemegang saham, aku tidak akan mau mencemari klinikku dengan orang seperti dia," lanjut pria itu lagi.


"Ah... Jadi dia biasa 'dipakai oleh kaum borjuis rupanya," kata Kyara. "Pantas saja aku melihat dokumen itu di dalam lemarinya."


"Dokumen apa?" tanya Albert.


Kyara berpikir sejenak, apakah ia harus mengatakannya atau tidak?


"Ah, sudah kepalang basah. Toh, kalau Albert memang berniat jahat, usahanya udah hampir berhasil karena telah membawaku ke sini," pikir Kyara.

__ADS_1


"Kalau nggak mau ceri-"


"Dokumen kematian Kalisa."


Cekiiit!!!


"Apa kau bilang?" Ucapan Kyara yang memotong kalimatnya, berhasil membuatnya menginjak rem dengan kuat.


"Dokumen, eh akta kematian Kalisa," ulang Kyara.


"Di mana kau melihatnya?" tanya Albert.


"Sialan! Kenapa aku bisa memperkerjakan seorang kriminal?" umpat Albert. "Padahal kemarin aku hanya menebak-nebak. Tak kusangka justru semuanya benar."


"Kyara, ceritakan padaku semuanya. Aku nggak bisa membiarkan orang seperti itu memporak-porandakan pasien lainnya," kata Albert kemudian.


"Pfffttt... Hahahha..." Kyara tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa? Kau menipuku dengan cerita palsumu, ya?"


"Nggak, kok. Semua yang ku katakan itu nyata. Tapi lucu aja," jawab Kyara di sela tawanya.


"Apanya yang lucu?" Albert kembali menekan pedal gas dan mengarahkan kemudinya.


"Katanya dokter minim rasa Empati. Tapi kok peduli dengan para pasien?" kata Kyara.


"Ah, aku bukan peduli dengan pasien. Tapi dengan bisnisku. Ladang duitku. Kalau dia bikin masalah, bisa-bisa nanti pasien di klinikku pada kabur."


"Oh... Ya... Ya..." kata Kyara senyum-senyum sendiri.


"Dasar Tsundere," gumam gadis itu dalam hati.


"Oh, tapi dokter. Jika nanti kontrak kita berjalan, apa hanya akan mengobati sindromku?"


"Kau mau perawatan apa lagi?" tanya Albert.


"Apakah fisikku bisa berubah?" tanya Kyara.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2