Mengubah Takdir: Monster Girl

Mengubah Takdir: Monster Girl
Bab 35 - Siapa Kamu?


__ADS_3

"Kalisa, pergilah temui pria itu. Siapa tahu kita bisa menggali informasi tentang Kalisa yang asli darinya," ujar Albert.


"Tapi dokter..."


"Jangan khawatir. Aku nanti akan meminta beberapa orang mengawasimu dari jauh. Dan yang terpenting, jangan sampai Restu tahu hal ini," ucap Albert.


"Baiklah. Terima kasih, dokter," kata Kalisa.


...🌺🌺🌺...


Matahari sudah bergulir ke barat. Para pegawai perusahaan SW sudah bersiap untuk pulang. Demikian juga dengan Kalisa.


Wanita cantik berambut panjang itu mematikan laptop, lalu menyimpannya di dalam lemari. Beberapa berkas yang belum selesai diperiksa, juga ia simpan.


"Kalisa, apa rencanamu hari ini?" tanya Restu.


"Mau apa lagi pria ini? Aku sudah ingin muntah melihat wajahnya," pikir Kalisa dalam hati. Tetapi yang terukir di wajahnya tetaplah senyuman manis.


"Aku sudah ada janji dengan teman, untuk berbelanja bersama," jawab Kalisa.


"Oh... Kamu masak sendiri? Belanja di mana? Mau ku antar?" Restu melemparkan bertubi-tubi pertanyaan pada Kalisa.


"Nggak perlu, Kak. Nanti juga dia bakal jemput ke sini, kok," ucap Kalisa mengelak dari Restu.


Tepat sekali. Beberapa saat kemudian, Rara pun menelepon. Wanita lincah bertubuh mungil tersebut sudah berada di depan kantor perusahaan SW.


"Aku duluan, kak," ujar Kalisa buru-buru pergi.


...🌺🌺🌺...


"Jangan lupa, ya. Hutangmu beberapa hari yang lalu belum di bayar," ucap Rara ketika Kalisa datang menghampirinya.


"Iya, baweeel... Nanti aku bayar, deh," kata Kalisa seraya memasang helm.

__ADS_1


"Dua kali lipat, ya. Beserta bunganya," ucap asisten pribadi Albert itu lagi.


"Heh? Kok jadi berbunga? Memangnya kamu rentenir?" protes Kalisa.


"Jangan lupa pegangan. Ayo, tancap gass...!" seru Rara pura-pura tidak mendengar ucapan Kalisa yang terakhir.


"Syalan cewek ini! Didikannya siapa, sih?" umpat Kalisa dalam hati.


Lima belas menit kemudian...


Harum roti yang sedang dibakar, serta aroma margarin yang meleleh tercium hingga ke pelataran parkir. Beragam macam buah, tersusun rapi di rak etalase dengan gradasi warna yang apik.


Kalisa melangkah masuk ke dalam kafe tempat janjian bersama Arslan. Pria asing yang akan ditemuinya hari ini.


"Aku nunggu di meja nomor tiga, ya," bisik Rara. Kalisa mengangguk.


Lima menit berlalu, Kalisa masih duduk seorang diri. Teh susu kapulaga yang ia pesan, sudah hampir berkurang setengah.


"Meja nomor sembilan... Baju kemeja putih," gumam Arslan membaca pesan singkat dari Kalisa. "Ah, itu dia. Tapi... dia siapa?" pikir pria itu bingung.


"Permisi, Mbak," ucap Arslan.


"Pria dengan kemeja hijau army dan celana navy... Tidak, tidak. Tadi Arslan janjian mengunakan kaos putih, celana navy dan sneaker putih," pikir Kalisa alias Kyara, mengamati pria yang menyapanya.


"Mungkin dia pengunjung lain," ucap Kalisa sambil tersenyum hambar. "Ya?" sahutnya dengan hati-hati.


"Heh," Arslan tertawa kecil. Pria berkulit kuning langsat dan bahu bidang, mengambil sesuatu dari dalam saku celananya.


Jemari berselancar di atas layar ponselnya, sambil menatap Kalisa lekat-lekat.


Tulilut... Tulilut... HP Kalisa yang berada di dalam tas berdering. Layar HP jadul itu menampilkan nama Arslan. Kalisa panik.


"Kamu bukan Kalisa! Siapa kamu sebenarnya?" ucap Arslan.

__ADS_1


"Aku Kalisa."


"Bohong! Aku sangat mengenal Kalisa. Tidak mungkin dia melupakanku setelah empat bulan berpisah," bantah pemuda itu.


"Aku Kalisa. Mungkin aku tidak mengenalimu, karena kecelakaan itu.


"Aku juga masih sangat mengingat jelas wajahnya!" Arslan bersikeras.


"Tenang dulu. Silakan duduk. Aku juga ingin mengenalmu," sahut Kalisa. "Bukannya dress code kita kemeja atau kaos putih, ya?" lanjut gadis itu.


Pria berpenampilan stylish tersebut menarik kursi, lalu duduk. Satu per satu jemarinya membuka kancing kemeja, dan memperlihatkan kaos putih di dalamnya.


Deg!


Kalisa reflek mengalihkan pandangannya. Jantungnya berdetak tidak normal.


"Apaan sih, ni jantung? Padahal dia cuma pakai baju kaos putih, seperti dokter Albert biasanya," batin Kalisa.


"Sekarang sudah percaya, kan? Aku Arslan Wira Kencana," ucap Kalisa.


"Kamu siapanya Kalisa?" tanya wanita itu.


"Aku teman sekolah dan teman kerjanya," jawab Arslan.


"Sejak kapan kamu kenal dengan Kalisa?" tanya Kalisa alias Kyara lagi.


"Aku... Hei, sebentar. Kenapa aku jadi kayak diinterogasi gini?"


"Karena aku nggak bisa sembarangan memberikan informasi pada orang lain," sahut Kalisa.


"Jadi, di mana Kalisa, Vangsaaaattt! Apa yang terjadi dengannya?" bentak Arslan.


"Jawab dulu pertanyaanku. Karena jika aku sembarang memberikan informasi, akan menjadi bumerang bagiku dan Kalisa," ucap Kalisa alias Kyara.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2