Mengubah Takdir: Monster Girl

Mengubah Takdir: Monster Girl
Bab 42 - Wanita 'Itu'


__ADS_3

"Kenapa aku kemarin kayak gitu sih, sama Kalisa?" sesal Albert. "Ini pertama kalinya aku mengalami e-rek-si bersama perempuan."


Jemari Albert dengan lincah memegang gunting, pinset, forceps dan peralatan lainnya.


"Meski Kalisa terlihat baik, aku nggak boleh serta merta jatuh hati padanya," tekad Albert.


"Dokter Al, saturasi pasien terus menurun. Kita harus segera selesaikan operasi ini. Anda harus fokus," tegur dokter Agus selaku ketua tim operasi.


"Baik," sahut Albert singkat. Ia pun kembali memfokuskan pikirannya kepada pasien yang tengah mereka bedah saat ini.


Sembilan puluh menit kemudian.


"Dokter, Al. HP Anda berdering," ucap perawat memberikan benda elektronik tersebut pada sang dokter.


"Ah, Rara rupanya. Tolong angkatkan," pinta Albert pada perawat senior tersebut.


Albert pun berbincang sembari mencuci tangannya, lalu menukar seragam operasi dengan jas dokternya.


"Dokter, sebenarnya aku menelepon karena ingin memberi tahukan sesuatu," ucap Rara. "Wanita 'itu' datang mencari dokter. Dan dia memaksa untuk masuk ke dalam rumah," lapor asistwn pribadi Albert tersebut.


"Wanita 'itu'? Maksudnya 'dia?" tanya Albert memperjelas.


"Iya, dokter. Sekarang beliau lagi berada di depan rumah bersama bodyguardnya," lapor Rara lagi.


"Berani-beraninya dia datang ke rumahku?" balas Albert.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana, dokter?" tanya Rara sedikit ketakutan.


"Biarkan dia menunggu di luar rumah. Jangan izinkan dia menginjakkan kaki 'kotornya' di rumahku. Kalau perlu panggil keamanan. Aku segera pulang," ucap Albert.


"Baik."


...🌺🌺🌺...


"Albert."


Seorang wanita berambut hitam, yang terurai hingga pinggang, menyambut kedatangan Albert dengan wajah ceria.


Lehernya yang jenjang dihiasi kalung indah dengan liontin berinisial N. Kulitnya yang putih, sangat kontras dengan gaun hitam yang ia kenakan. Bahunya dibiarkan terekspose dengan baju model off soulders.


"Mau ngapain kamu ke sini?" sahut Albert ketus setelah memarkir mobilnya. Ia mengalihkan pandangannya, dari wanita yang ia sebut menggunakan baju kurang bahan tersebut.


"Kangen? Sama aku? Cih," balas Albert. "Bukannya kamu sudah kekurangan modal untuk pergi ke salon?" sindir dokter muda tersebut.


Meski hubungan mereka adalah ibu dan anak, tapi selisih usia mereka hanya empat belas tahun. Ya, wanita itu mengandung dan melahirkan Albert di usia yang masih sangat belia.


Ketika kecil, pria itu sangat menyayangi dan menghormati sang ibu. Tetapi ketika ia mengetahui sikap sang ibunda sebenarnya, ia pun merasa jijik dan menjauh.


"Ibu tidak pernah kekurangan uang lagi, sejak bersamanya," kata wanita yang diketahui bernama Nita tersebut.


"Oh, jadi kamu sudah bersama pria itu sekarang? Bukan pengusaha perkapalan yang waktu itu?" sindir Albert lagi.

__ADS_1


"Nak, pria itu hanya rekan kerja Ibu. Kamu salah paham," kilah wanita itu.


"Rekan kerja? Rekan kerja di ra n jang maksudnya?" ucap Albert. "Lalu pria yang bernama Michael, Guntara, Kim Seo Jo, Saheer Khan, lalu entah siapa lagi, mereka itu juga cuma rekan kerja?" cerca Albert tanpa memberi celah Nita untuk membalas.


"Nak..."


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu!" bentak Albert. "Apa kamu lupa, yang sudah ku lihat saat aku kecil dulu?" dada dokter muda itu naik turun menahan amarah yang meletup-letup.


"Itu bukan seperti yang kau pikirkan," Nita terus membela diri.


"Hei, anak umur delapan tahun itu sudah cukup mengerti, kalau Ibunya sering tidur bersama pria lain yang bukan ayahnya," kata Albert.


"Ayahku begitu menderita memenuhi semua kebutuhanmu. Belum lagi penyakit yang kau tularkan karena bermain bebas," ujar Albert lagi.


"Kenapa harus Ayahku yang menderita? Kenapa nggak kau saja yang sakit menular itu dan meninggal?" teriak Albert tak terkendali.


Plak!


Nita menghadiahkan sebuah tamparan pada aang putra.


"Jaga ucapanmu! Aku ini Ibumu! Apa kau sadar, kalimat yang sudah kau ucapkan itu mencoreng nama Ibumu?" marah Nita.


"Bukan aku yang mencorengnya. Tetapi kamu sendiri," balas Albert melampiaskan seluruh emosinya. "Ayahku terlalu baik untuk kamu selingkuhi berkali-kali," lanjut pria itu.


"Ayahmu memang bisa memenuhi semua materi yang kuperlukan. Tapi tidak bisa memenuhi yang aku butuhkan," ucap Nita tanpa rasa malu.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2