Mengubah Takdir: Monster Girl

Mengubah Takdir: Monster Girl
Bab 41 - Keluarga Durhaka


__ADS_3

"Kalisa, yang dibilang Maria benar? Kamu mau masuk sekolah kedokteran?" tanya Restu.


"Betul, Kak. Menjadi dokter adalah impianku sejak lama. Tapi aku harus bekerja untuk mengumpulkan biayanya," sahut Kalisa.


"Terus pekerjaan kamu di sini bagaimana? Lagipula, memangnya tabungan kamu sudah cukup?"


"Saya masih tetap kerja di sini full time, kok. Sampai perkuliahan dimulai. Setelah itu akan ada pengganti saya di sini," jawab Kalisa lagi.


"Wah, saya pasti bakal kangen sama hasil kerjaanmu. Tapi kalau itu keinginanmu, aku cuma bisa dukung," kata Restu.


"Halah, gembel gini aja sok jadi dokter. Palingan juga nyogok para dosen," tuduh Maria.


"Saya dapat beasiswa penuh dari lembaga penelitian luar negeri, Kak. Dan setelah lulus passing grade seminar internasional ini, semakin banyak tawaran beasiswa yang datang kepada saya," ucap Kalisa.


"Maria, kalau ngomong tuh yang sopan," bela Restu.


"Halah, kamu membelanya karena dia cantik, kan? Coba pacar monstermu dulu?" sindir Maria.


"Kau mau masuk kedokteran? Tapi nilai dan tinggi badanmu nggak mencukupi. Kamu lebih baik masuk jurusan manajemen, lalu membangun perusahaan bersamaku."


Kalisa masih mengingat dengan jelas, apa yang dikatakan Restu, saat ia mengutarakan keinginannya kala itu.


Sayangnya, setelah mereka kuliah, Kalisa alias Kyara tidak lepas dari belenggu sang kakak. Ia terus menerus ditekan saudara kembarnya, untuk mengerjakan segala tugas kuliah. Alasannya, Maria sibuk dengan profesi lainnya di bidang fashion.


"Maria, kenapa kamu masih membicarakan gadis buruk rupa itu, sih? Dia sudah tiada. Ayo kita bicara di tempat lain." Restu menarik lengan Maria meninggalkan ruang kerjanya.

__ADS_1


Kalisa melihat adegan tersebut dengan tatapan datar. Ia tidak lagi merasakan cemburu atau pun sedih. Perasaan sukanya pada pria itu telah luntur tidak tersisa.


...🌺🌺🌺...


"Baby, kamu serius mengusir Maria dari rumah? Dia anak kita satu-satunya."


Seorang wanita menghentakkan sepatu bertumitnya, memasuki ruang praktek dokter Evander.


"Rhea, aku sedang bekerja. Kenapa kamu tiba-tiba ke sini?" balas Evan.


"Untuk mengurus anak kita," sahut Rhea.


Para perawat yang berada di dalam ruangan tersebut bergegas pergi. Meninggalkan sang dokter berbicara leluasa pada istrinya.


"Biarkan saja dia. Kalau nanti nilainya membaik, akan ku kembalikan lagi fasilitas miliknya," kata Evan.


"Lihat! Kamu selalu seperti ini padanya. Makanya dia selalu manja dan malas. Kerjanya hanya berfoya-foya. Mau jadi apa dia nanti?" omel Evan.


"Putriku hanya satu. Dan kamu menelantarkannya begitu hanya karena obsesimu yang tinggi? Kurang berbakti apalagi dia padamu?" balas Rhea.


"Anakmu ada dua. Maria dan Kyara. Tetapi salah satunya sudah kalian bunuh, kan? Sialnya, malah aku yang terpaksa membereskan semua jejak itu," gerutu dokter ahli bedah tersebut.


"Jangan sebut-sebut monster itu di hadapanku!" protes Rhea. "Aib terbesarku adalah melahirkan monster itu. Kenapa dia harus mewarisi gen mengerikan dari keluarga ayahnya, sih? Aku jadi dihina gara-gara bocah mengerikan itu."


"Jaga ucapanmu! Keluargamu juga memiliki gen pembawa sindrom itu. Karena itulah, putri bungsu kita jadi menderita sangat parah," bantah Evan.

__ADS_1


"Dia bukan putriku! sejak dia bernapas di dunia ini, aku sudah bersumpah, dia tidak akan kuakui sebagai anak," jerit Rhea.


"Sudah bagus dia sudah mati sekarang. Kalau saja dia tidak memiliki ginjal yang dibutuhkan oleh Maria, sudah kubuang dia jauh-jauh sejak lahir," lanjut psikolog cantik tersebut.


"Yah, sudahlah. Dia sekarang sudah mati. Aku juga nggak peduli padanya," kata Evan. Dia memasang kembali jas putihnya.


"Tapi untuk Maria saat ini, harus ikut aturanku. Kalau kau membantunya, siap-siap saja akibatnya kau tanggung sendiri," ancam Evander, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Ckk, sialan! Aku harus menemui pria itu meminta bantuan," gerutu Rhea.


...🌺🌺🌺...


"Dokter, apa operasi Anda sudah selesai?" Albert membaca pesan singkat dari Rara, asistennya.


"Ya, sudah selesai. Ada apa? Jadwalku malam ini sudah habis, kan?" balas Albert setelah mencuci tangannya.


"Sudah, dokter. Tapi besok pukul empat pagi, Anda ada jadwal operasi di rumah sakit OS," balas Rara lagi.


"Ah, tapi aku chat dokter bukan untuk mengabari itu. Wanita 'itu' datang mencari dokter. Dan dia memaksa untuk masuk ke dalam rumah," lapor Rara.


"Wanita 'itu'? Berani-beraninya dia datang ke rumahku?" balas Albert.


"Aku harus bagaimana, dokter?" tanya Rara.


"Biarkan dia menunggu di luar rumah. Kalau perlu panggil keamanan. Aku segera pulang," ucap Albert.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2