Mengubah Takdir: Monster Girl

Mengubah Takdir: Monster Girl
Bab 28 - Restoran Spesial


__ADS_3

Keesokan harinya...


"Kalisa, apa dokumen presentasi untuk nanti sudah selesai di print?" tanya Restu.


"Sudah, Kak," jawab Kalisa. "Tetapi kata Kepala Bagian Perencaan, hari ini kita berangkat sendiri. Tim mereka sedang ada meeting penting dengan Pak Wakil Direktur," lanjut gadis itu.


"Kita sendiri? Maksudnya mereka nggak ikut?" tanya Restu. Kalisa mengangguk.


Tuuuutttt... Ceklek!


"Halo?"


"Halo Pak Kepala, apa maksudnya pesan yang disampaikan oleh Kalisa tadi?" tanya Restu.


"Oh, maaf Restu. Kami tidak bisa ikut bersamamu hari ini. Pak Wakil Direktur tiba-tiba mengajak kami meeting."


"Satu orang perwakilan saja sudah cukup," pinta Restu.


"Tidak bisa, Restu. Anggota kami semuanya sudah berbagi tugas. Bahkan harus tetap lembur," ucap Pak Kepala Bagian Perencanaan.


"Kalau begitu kita tunda saja," kata Restu.


"Itu juga tidak bisa. Karena itu proyek besar direktur. Beliau meminta laporannya hari ini. Kau tak boleh gagal, Restu," ucap Kepala Bagian Perencanaan.


"Gawat! Gimana ini?" gumam Restu.


"Anda pasti bisa, Kak. Presentasinya kan sudah ada. Kita tinggal melanjutkan kesepakatan kemarin," bisik Kalisa memberi semangat.


Restu bimbang. Tapi ini proyek besar dari direktur, kan? Siapa tahu ini menjadi batu loncatan baginya agar cepat naik pangkat.

__ADS_1


"Baiklah. Meetingnya di tempat kemarin, kan?" ucap Restu.


"Tidak. Kali ini di sebuah Restoran Seafod dan Ikan Bakar di pantai," kata Pak Kepala Bagian.


Jeder!!! Restu semakin galau.


"Re-restoran seafod? Ikan bakar?" ulang Restu.


"Iya, tiba-tiba mereka mengubah lokasi menjadi di sana. Dan pimpinan mereka hadir, mengajak kita makan siang," jelas Kepala Bagian.


Wajah Restu pucat seketika, "Bagaimana aku harus melalui hari berat ini?" pikirnya bingung.


Pria itu memandang ke arah Kalisa dengan wajah bingung. Tentu saja ia tidak bisa membatalkannya lagi.


Kalisa hanya tersenyum mendengarnya.


...🌺🌺🌺...


Krrriiing.... Kriiing


"Selamat pagi. Dengan perusahaan SW." Kalisa mengangkat telepon masuk di ruang sekretaris utama. Kebetulan ia sedang mengantar dokumen ke situ.


"Selamat pagi, kami dengan perusahaan APC. Kami ingin mengabari, kalau meeting siang nanti akan dihadiri langsung oleh Pak Wakil Direktu, dan diawali dengan makan siang. Kalau boleh minta saran, sebaiknya lokasinya di mana, ya?"


Kalisa yang mengangkat telepon tersenyum manis, "Saya dengar, Pak Wakil Direktur sangat menyukai hidangan seafod dan juga ikan. Bagaimana kalau kita mengikuti selera Pak Wakil Direktur?" usul Kalisa.


"Begitu ya? Tadi Pak Wakil Direktur juga sempat mengusulkan tempat itu. Tetapi kami juga ingin mendengar pendapat perusahan Anda."


"Kami semua sangat menyukai seafood, terutama kepala bagian marketing," ucap Kalisa.

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu menu makan siang nanti adalah seafood. Setelah lokasi ditentukan, kami akan kembali mengabari perusahaan Anda."


"Baik. Terima kasih," jawab Kalisa.


"Aku selalu mau muntah, ketika melihatnya." Ucapak Restu kala itu selalu terngiang-ngiang di telinga Kalisa.


Meski saat itu ia masih dalam keadaan setengah sadar di ranjang rumah sakit, tetapi ia mengingat obrolan kekasih dan kakak kembarnya itu dengan sangat jelas.


"Baiklah kali ini aku benar-benar akan membuatmu muntah," gumam Kalisa dalam hati.


...🌺🌺🌺...


"Permisi, Kak. Sudah waktunya kita untuk pergi," ucap Kalisa mengingatkan.


"Apa tidak bisa ditunda sesaat lagi?" sahut Restu tidak semangat.


"Tidak bisa, Kak. Kabarnya Wakil Direktur mereka sudah menuju ke lokasi," jawab Kalisa.


"Wakil Direktur? Aku pikir hanya Manajer Utama saja yang akan datang," pikir Restu cemas. Wakil Direktur perusahaan APC terkenal perfeksionis dan sangat disiplin waktu.


Selama ini Restu mampu menghindarinya dengan sangat baik. Tidak ada seorang pun di kantornya yang tahu, bahwa Restu sangat alergi dengan cumi dan udang.


Mencium aromanya dari jarak jauh saja, sudah membuat pria itu mual dan muntah. Apalagi melihatnya di tengah meja makan.


Pria itu juga fobia melihat mata ikan. Dia bisa berteriak histeris ketika melihat gurame goreng atau bakar.


Tapi kali ini, ia terpaksa menghadapinya, "Semoga aku baik-baik saja," gumam Restu.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2