Mengubah Takdir: Monster Girl

Mengubah Takdir: Monster Girl
Bab 49 - Muncul Kembali


__ADS_3

"Dasar Restu sialan! Kenapa dia buka rahasia seenaknya seperti itu, sih?" umpat Maria dalam hati.


Semua orang di kantor itu menatapnya dengan tajam. Beberapa di antara mereka juga saling berbisik, seraya menatap ke bagian aset penting milik wanita itu. Maria menjadi malu karena telah menjadi pusat perhatian.


Tanpa diusir dua kali, Maria pun segera meninggalkan tempat itu.


...***...


Kyara, beberapa bukti telah terkumpul," ucap Albert. "Sampel darah itu cocok sekali dengan DNA milik Kalisa yang tertinggal di baju-baju miliknya."


"Aku juga telah mengumpulkan bukti baru. Dari hasil penelusuranku, selama dua minggu sebelum kecelakaan, Kalisa selalu mengunjungi ke tempat yang sama di jam yang sama," ungkap Arslan.


"Maksudmu ia seperti dilatih untuk menuju ke tempat itu selama dua minggu terakhir?" kata Kyara.


"Benar. Memang aku tidak bisa memperoleh bukti tersebut dari pihak berwajib, karena aturan yang sangat ketat," Arslan menjeda kalimatnya sejenak. Ia membasahi tenggorokannya dengan air jeruk.


"Lalu?" Kyara sudah tidak sabar menunggu kelanjutannya.


"Aku memperolehnya dari beberapa CCTV hedung perkantoran dan toko tempat Kalisa melintas," lanjut Arslan.

__ADS_1


"Itu sudah cukup untuk memancing polisi agar membuka bukti lebih banyak lagi," kata Albert.


"Benar. Tapi kita nggak bisa membongkarmya begitu saja. Mereka punya jaringan yang kuat," sambung Arslan.


"Kalau kita gegabah, bisa-bisa justru berbalik ke kita lagi imbasnya," kata Albert. "Harus orang yang tepat dan diwaktu yang pas untuk mengungkapkan itu semua."


"Ya, aku mengerti. Menurut kalian, apakah di makamku itu memang ada jenazah Kalisa? Tentu itu menjadi resiko terbesar bagi mereka, jika sewaktu-waktu muncul masalah seperti ini," kata Kyara.


Albert dan Arslan hanya mengangkat bahunya, tanda tidak tahu.


...***...


"Selamat datang. Kamu yang bernama Kalisa Candra Putri?"


Dokter Evander menyambut para dokter muda berprestasi yang ditempatkan di rumah sakit besar di Kanada.


"Maaf, dokter. Anda salah," ucap wanita berbaju biru tersebut sambil tersenyum tipis.


"Maksudmu? Lalu profil yang diberikan oleh mereka itu?"

__ADS_1


Evan mengerutkan keningnya. Ia merasa tidak salah mengenali wajah dokter muda tersebut, meski hanya melihatnya melalui foto.


Dokter Evan adalah seorang yang cerdas. Tidak, dia bahkan sangat jenius yang mampu mengingat komponen kimia hanya dalam waktu beberapa detik saja. Mengenali wajah seseorang adalah hal yang remeh baginya.


"Perkenalkan, nama saya adalah Kyara Zevania Andhakara," ucap gadis itu dengan sangat lantang.


"Kya... Siapa kamu bilang? Jangan coba-coba menyebutkan nama itu di hadapanku," ujar Evander.


"Kenapa? Itu benar nama saya. Apa ada masalah, dokter?" kata gadis cantik tersebut.


Evan menatap wajah gadis itu lekat-lekat. Garis wajahnya sama sekali berbeda dengan putri bungsunya dulu. Apalagi tubuhnya, benar-benar berbeda.


"Mungkinkah ada dua nama yang sama persis di dunia ini?" pikir dokter Evan cemas.


Di saat yang sama, telepon dokter Evan pun berdering. Ia melihat nama Maria, putrinya yang gagal menyelesaikan pendidikan kedokteran, di layar HP tersebut.


"Papa, kenapa seluruh asetku dijual?" seru gadis manja tersebut.


"Dijual? Papa tidak pernah menjual apa pun di Indonesia. Siapa yang berani menjualnya atas nama kita?" jawab Evan, setelah berpindah ke ruangan lain.

__ADS_1


"Di sini nama yang menandatangi tanda jual belinya... Kya... Kyara Zevania Andhakara?" jerit Maria ketika mengetahui kenyataannya.


__ADS_2