
Setelah Kyara Zevania Andhakara menukar identitasnya menjadi Kalisa Candra Putri, pengamanan terhadap dirinya pun diperketat untuk menghindari hal-hal buruk.
Sama seperti rumah sederhana ini, yang di dalamnya sudah didesain khusus dengan tingkat keamanan cukup tinggi. Dokter Albert Candra Putra pun membuat sebuah ruang kerja lagi untuknya di sana, sembari memantau perkembangan kesehatan Kalisa yang masih dalam riset.
"Dokter... Aku pulang. Ini ada martabak," seru Kalisa dengan riang. "Aku boleh malan martabak sepotong, kan?" ucapnya lagi
Gadis dengan rambut hitam berkilau itu mengitari rumah satu lantai tiga kamar itu beberapa kali, tetapi tidak menemukan sang dokter.
"Dokter, apakah Anda di ruang kerja? Aku masuk, ya?" panggil Kalisa lagi.
Gubrak! Gubrak!
Terdengar suara ribut dari dalam ruang kerja dokter Albert. Kalisa pun buru-buru mendekatinya, lalu membuka pintu. Ia khawatir terjadi sesuatu.
"Astaga! Dokter?" pekik wanita cantik tersebut.
Matanya yang indah ternodai, melihat sang dokter muda yang tampan sedang menghimpit tubuh calon dokter muda yang menjadi asistennya.
Calon dokter muda yang manis tersebut terlihat meringis kesakitan. Baju labnya yang putih cemerlang, serta kemejanya terlihat berantakan.
"Maaf, aku mengganggu."
"Kalisa! I - ini tidak seperti yang kau lihat," ucap Albert, mengejar Kalisa yang berbalik badan.
"Kan nggak apa-apa, kalau yang terjadi sesuai dengan yang aku pikirkan," ucap Kalisa dengan wajah merah merona.
"Apa yang baru saja ku lihat? Untung saja mereka masih memakai baju," pikir Kalisa menahan malu.
Kalisa meninggalkan martabak tersebut di ruang tamu, lalu mengurung diri di kamar.
"Kalisa, Tunggu! Aku akan jelaskan semuanya. Ini salah paham," seru Albert beberapa kali sambil menggedor pintu kamar Kalisa. Tetapi Kalisa bungkam, tak menyahut.
Sementara itu di kamar, Kalisa menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Tubuhnya menggigil di tengah cuaca yang begitu panas.
"Sudah gila mereka? Aku tahu mereka berdua itu sangat tampan. Nilai wajah mereka di atas rata-rata pria pada umumnya. Tapi masa main pedang-pedangan di rumahku?" ucap Kalisa dalam hati.
__ADS_1
Wanita cantik tersebut masih shock dengan apa yang baru saja ia lihat.
"Tapi, secara teknis ini rumah dokter Albert, sih. Kalau aku pulang terlambat, apa yang sudah terjadi?" pikir gadis itu.
...🌺🌺🌺...
Tulilut... Tulilut... Tulilut...
"Ugh... Siapa sih yang punya HP nada dering jadul kayak gitu?"
Seorang wanita cantik, bagai Dewi Yunani menarik selimutnya semakin ke atas. Ia enggan membuka kelopak matanya.
Tulilut... Tulilut... Tulilut... HP bernada dering jadul itu kembali berdering memekakkan telinga.
"Hei, siapa sih?" omelnya.
Tiba-tiba Kalisa membuka matanya. Ia teringat sesuatu, "Itu kan HP milik 'Kalisa'. Siapa yang meneleponnya pagi-pagi begini?" Tangan kanannya meraba-raba seluruh isi laci untuk mencari benda elektronik tersebut.
"Hah? Astaga!" Kalisa terkejut melihat nama yang tertera di panggilan masuk tersebut.
Tak lama kemudian telepon masuk itu terputus. Kalisa bernapas lega. Tapi itu hanya sesaat. Beberapa detik kemudian, HP milik Kalisa yang asli kembali berdering.
"Duh, nggak tahu, deh," seru Kalisa Candra Putri.
...🌺🌺🌺...
Tiga puluh menit kemudian...
"Kalisa, kamu udah bangun?"
"Do-dokter menginap di sini semalam?" tanya Kalisa sambil berusaha mengalihkan pandangannya. Ia melihat sang dokter masih mengenakan pakaian yang sama dengan kemarin.
Indra penciuman Kalisa menjadi sangat reaktif. Gadis itu bisa mencium bau harum margarin leleh, serta feta keju yang khas.
Pluk! Albert meletakkan beberapa buah pancake hangat berwarna kecoklatan ke atas piring.
__ADS_1
"Iya. Aku khawatir padamu. Semalaman kamu nggak keluar untuk makan malam," ucap Albert.
"Aku udah makan sore, kok," jawab Kalisa. Beberapa kali ia menelan salivanya, yang tidak tahan dengan godaan hidangan manis tersebut.
"Makan sore? Di mana?"
"Di Restoran Ranville, bersama Restu," sahut gadis bermata indah tersebut.
"Nih, untukmu." Albert menuangkan madu ke atad pancake. Memberinya beberapa potong mangga dan strawberry, lalu menyodorkannya pada Kalisa.
Pria tidak berkomentar tentang ucapan Kalisa. Hal itu justru membuat Kalisa bingung. Ditambah lagi sikapnya yang begitu manis pagi ini.
"Ini apa?" tanya Kalisa.
"Sarapan untukmu. Kau dari kemarin pengen makanan manis, kan? Yang ini aman untukmu," jawan Albert.
"Martabak juga masih ada di kulkas. Aku menyimpannya untukmu. Kau bisa memakananya satu potong dalam sehari. Dan satu minggu hanya boleh tiga kali," lanjut dokter muda tersebut.
Kalisa melirik tajam ke arah pria tampan di hadapannya. Sayangnya jantung gadis itu tidak berdebar melihatnya. Mungkin... Karena ia sudah melihat pemandangan menarik tadi malam?
"Terima kasih. Tapi lain kali jangan lakukan ini padaku, dokter. Aku bisa membuatnya sendiri," ucap Kalisa.
"Kalisa, sepertinya kita harus membicarakan masalah tadi malam. Kamu salah paham," jelas Albert. Ia bisa melihat, kalau Kalisa masih canggung dengannya.
"Kalau begitu ceritakan saja. Aku akan mendengarnya," jawab Kalisa sambil menikmati hasil karya sang dokter.
"Luar biasa! Ini enak sekali," batin Kalisa dalam hati, ketika olahan tepung gandum, telur dan margarin itu meleleh di lidahnya.
"Aku dan Azka tidak ada apa-apa. Semalam aku ingin mengambil dokumen di atas lemari. Dan tiba-tiba saja kursinya oleng. Aku terjatuh dan menghimpit tubuh Azka," jelas Albert.
"Lalu?"
"Ya apa yang terjadi tadi malam, tidak seperti yang kau bayangkan. Aku memang tidak suka wanita. Tapi bukan berarti sembarangan. Apalagi Azka itu normal," ucap Albert.
"Maafkan aku," ucap Kalisa. "Tapi, apa aku boleh tahu, alasan dokter nggak menyukai perempuan?" tanya Kalisa hati-hati.
__ADS_1
(Bersambung)