
"Restu, kita sudah sampai."
Restu hanya membungkam, sambil menatap kosong ke depan.
"Restu, ayo turun. Kita sudah sampai," seru sesama anggota tim marketing yang ikut meeting.
Pria dua puluh tahunan itu masih bergeming di tempatnya.
"Kak Restu? Kakak kenapa? Wajah kakak pucat sekali." Kali ini Kalisa mengguncang tubuh Restu.
"Hah? A-apa?" Restu akhirnya tersadar dari lamunannya.
"Kenapa, Lu? Nerveous? Santai aja kali. Lu kan nggak sendiri," ucap beberapa rekan kerjanya.
"Ah, bukan itu. Tapi perutku mual banget. Kayaknya kamu salah makan, nih," ucapnya.
"Ya tapi gimana, dong. Kamu kan ketua tim. Masa nggak datang?"
"Duh, aku harus masuk, nih? Sekarang?" tanya Restu.
"Ya iyalah, sekarang. Masa bulan depan. Mereka sudah datang bersama wakil direktur," ucap mereka.
"Dari perusahaan SW? Mari saya antar," ucap salah seorang pelayan.
"Ugh..." Isi perut Restu semakin berputar ketika memasuki restoran, menuju ruang VVIP tempat mereka akan melakukan meeting.
__ADS_1
Aroma yang sangat dibenci oleh Restu, memenuhi seluruh ruangan yang ia lalui.
"Silakan masuk. Pak Wakil Direktur bersama tim sudah menunggu di dalam," ucap resepsionis tadi.
Pintu terbuka. Perusahaan APC ternyata telah hadir di sana. Tiga buah meja makan mewah, penuh dengan hidangan yang memanjakan indra pengecap dan indra penciuman.
"Kalisa, aku ke toilet dulu, ya," bisik Restu seraya menangkupkan tangan kanannya menutupi hidungnya.
"Tapi, Kak. Apa nggak sebaiknya kita menyapa wakil direktur dulu sebelum izin ke toilet. Mereka sudah melihat kita." Kalisa menahan Restu untuk pergi.
"Selamat da-"
"Hup! Hueeekkkk..."
Restu yang sudah tidak sanggup lagi menahan gejolak di peruutnya, menyemburkan cairan pelangi, yang mampu mengundang lalat sejauh satu kilometer untuk datang mendekat.
"Astaga!" Seluruh anggota tim marketing mematung di depan pintu ruang VVIP. Tentu saja Kalisa tidak termasuk. Gadis itu tertawa di dalam hati.
"Gimana? Sudah tahu rasanya muntah, karena hal yang tidak disukai itu gimana?" ucap Kalisa dalam hati.
🌺🌺🌺
Brak!!!
"Apa yang kamu lakukan, Restu? Apa kamu nggak tahu, kalau wakil direktur mereka itu menderita OCD?" ujar Wisnu Mahesa, direktur utama PT. SW
__ADS_1
OCD: Obsessive-compulsive disorder (Obsesi berlebihan atas suatu hal).
"Jangankan kejadian seperti tadi, melihat wortel dan kentang yang tidak dikupas sempurna saja bisa menghilangkan selera makannya. Tetapi dia menahan itu semua, demi kerjasama antara dua perusahaan." Pak Wisnu terus mengomel.
Restu yang menanggung malu, buru-buru melarikan diri dari restoran, setelah ia membereskan semua jejak yang ia keluarkan dari dalam perut.
Pria itu tidak sanggup lagi menatap wajah semua orang, dan juga menghindar agar tidak muntah lagi.
Akan tetapi rupanya ia tidak lolos begitu saja. Sang direktur memanggilnya, hanya dalam waktu dua jam setelah insiden itu terjadi.
"Maafkan saya, Pak. Saya akan berusaha memperbaikinya," ucap Restu.
Dalam hati, pria muda itu menggerutu, "Kalau ini memang rapat penting, kenapa nggak Bapak aja yang datang," batinnya.
"Sudahlah, percuma. Meetingnya juga udah bubar," jawab Wisnu dengan nada kesal.
Restu tertunduk lesu. Ia harus tetap menggenggam pekerjaan ini bagaimana pun caranya. Karena inilah satu-satunya pekerjaan, yang ia peroleh dari usahanya sendiri.
"Kamu nanti harus berterima kasih pada Kalisa, sekretarismu itu," lanjut Pak Direktur.
"Kalisa? Ada yang dia lakukan?" ucap Restu.
Dia sangat membantu presentasi tim marketing. Sehingga meeting tetap berjalan dengan lancar. Walau pun tadi sempat ada insiden mengerikan," lanjut Pak Direktur.
"Padahal dia baru dua hari bekerja di sini, tapi sudah mendapat pujian dari direktur."
__ADS_1
Rasa penasaran Restu terhadap latar belakang Kalisa pun memuncak.
(Bersambung)