Mengubah Takdir: Monster Girl

Mengubah Takdir: Monster Girl
Bab 34 - Ular, Rubah dan Kelinci


__ADS_3

"Itu kan HP milik 'Kalisa'. Siapa yang meneleponnya pagi-pagi begini?" Tangan kanan gadis cantik itu meraba-raba seluruh isi laci untuk mencari benda elektronik tersebut.


"Hah? Astaga! Arslan? Dia siapanya Kalisa yang asli?" Kalisa alias Kyara panik, melihat nama yang muncul di panggilan tersebut.


Tak lama kemudian telepon masuk itu terputus. Kalisa bernapas lega. Tapi itu hanya sesaat. Beberapa detik kemudian, Arslan kembali menelepon.


"Angkat nggak, ya? Aku harus bilang apa, nih? Dia orang baik atau jahat?" pikir Kyara bingung.


Tluk! Akhirnya Kalisa menekan tombol decline alias tolak.


"Duh, nggak tahu, deh," ucap Kalisa.


Perempuan yang memiliki bekas luka operasi di sekujur tubuhnya itu, meninggalkan HP milik Kalisa yang asli, lalu bersiap ke kantor.


...🌺🌺🌺...


"Kalisa, sepertinya kita harus membicarakan masalah tadi malam. Kamu salah paham," ucap Albert ketika sarapan.


Kalisa pun mendengarkan penjelasan Albert tentang kejadian tadi malam.


"Lalu, kenapa kemeja Azka bisa terbuka seperti itu?" selidik Kalisa.


"Aku menariknya ketika terjatuh. Itu murni kesalahanku. Dia hanya korban, bahkan sampai shock," ucap Albert.


"Intinya, apa yang terjadi tadi malam, tidak seperti yang kau bayangkan. Aku memang tidak suka wanita. Tapi bukan berarti sembarangan. Apalagi Azka itu normal," ucap Albert.


"Maafkan aku," ucap Kalisa. "Tapi, apa aku boleh tahu, alasan dokter nggak menyukai perempuan?" tanya Kalisa hati-hati.


Albert mendelik tajam padanya.

__ADS_1


"Tentu saja dokter punya hak untuk tidak menjawab, kalau merasa keberatan," ucap Kalisa lagi.


Pria pemilik hitam lurus itu meletakkan sendok yang ia pegang secara perlahan. Lalu meneguk teh hortensia.


"Kau yakin mau mendengarnya?" bisik Albert.


Kalisa mengangguk. Tapi entah kenapa hatinya mulai merasa ragu.


"Aku benci wanita, karena pada umumnya mereka bersifat seperti ular," ucap Albert dengan nada dingin.


"U-ular?" Kalisa terperanjat mendengarnya. Ini adalah jawaban yang sangat tidak ia sangka-sangka.


"Ya, kalau bukan ular, ya rubah. Makanya aku banyak menggunakan wanita sebagai objek penelitian. Jika gagal, aku tak segan menghabisinya."


Tak! Sendok yang sedang dipegang oleh Kalisa terjatuh ke atas piring, "Dokter bercanda, kan?"


"Nggak. Aku sangat serius saat ini," ucap Albert. Wajahnya mengukir senyum yang sangat manis. Tapi hal itu justru membuat suasana semakin ngeri. Bagaimana bisa membicarakan hal mengerikan tersebut sambil tersenyum?


"Ja-jadi, aku rubah atau ular?" tanya Kalisa.


Albert tertawa mendengar pertanyaan polos tersebut, "Kau kelinci," jawab pria itu sembari mengusap kepala gadis itu dengan lembut.


"Hah? Kelinci?" Kalisa semakin tak paham.


Tulilut... Tulilut... HP jadul milik Kalisa kembali berdering. Kalisa Candra Putri alias Kyara, memang membawanya ke meja makan untuk berjaga-jaga.


"Kenapa nggak diangkat?" tanya Albert.


"Nggak berani. Aku nggak mengenalnya," sahut Kalisa.

__ADS_1


"Kalau gitu angkat saja sekarang, lalu nyalakan loudspeakernya," pinta Albert.


Kalisa pun melakukanny.


"Ha-halo?"


"Halo, Kalisa. Maaf baru sempat menghubungimu.


Kenapa kau tak angkat-angkat telepon dariku?" Seorang pria bersuara agak berat, berbicara di seberang sana.


"Oh itu... Aku... Tadi.. Lagi siap-siap bekerja," sahut Kalisa tergagap.


"Gitu, ya? Gimana kabarmu? Aku cari ke tempat kos mu, tapi katanya sudah empat bulan sejak kecelakaan itu kamu nggak pulang. Apa yang terjadi?" kata Arslan yang identitasnya masih belum diketahui.


Kalisa menatap Albert untuk meminta bantuan Albert pun menggerakkan bibirnya untuk memberikan jawaban.


"Aku pindah rumah," jawab Kalisa sesuai instruksi Albert.


"Tapi semua barangmu masih ada di kos. Kau nggak apa-apa, kan? Apa luka kecelakaanmu sudsh sembuh?"


"Ya, sudah," jawab Kalisa singkat.


"Bisakah kita bertemu? Aku khawatir sekali padamu," pinta Arslan.


Lagi-lagi Kalisa meminta bantuan pada Albert, "Baiklah, kita bertemu setelah jam kerja," kata Kalisa kemudian.


Sore harinya, setelah jam kerja berakhir. Sesuai perjanjian, Kalisa pun pergi menemui Arslan di tempat yang sudah disepakati.


"Meja nomor sembilan... Baju kemeja putih," gumam Arslan. "Ah, itu dia. Tapi... dia siapa?" pikir pria itu bingung.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2