
"Mbak, Restunya ada, kan?" Seorang wanita berparas Eropa mix Jawa, bertanya pada resepsionis.
"Ada, Mbak. Tapi..."
"Oke, makasih." Wanita itu langsung beranjak pergi tanpa mendengar jawaban sang resepsionis hingga selesai.
"Mbak! Mbak! Pak Restu mau meeting siang ini..."
Maria berjalan dengan angkuh menuju ke arah lift. Dia sama sekali tidak menghiraukan seruan resepsionis.
"Udah, biarin aja. Dia mah emang gitu orangnya. Nggak bakalan dengerin kita. Nanti juga turun lagi karena kena usir, kok," kata resepsionis lainnya.
"Restu, kamu mau ke mana? Bisa kita ngobrol sebentar?" tanya Maria yang tiba-tiba nongol di depan ruangan Restu.
"Nggak bisa, Maria. Aku harus pergi meeting penting," tolak Restu.
"Itu alasanmu saja, kan? Setiap aku datang, kamu selalu sibuk meeting," omel Maria.
"Aku nggak bohong. Ini sudah mau pergi," sahut Restu.
"Kalau begitu, berikan aku waktu dua menit saja. Apa kamu beneran mau hubungan kita berakhir seperti ini?"
"Bukannya sudah aku katakan? Aku lebih baik hidup miskin, daripada bersama wanita bodoh dan manja sepertimu," ucap Restu dengan lantang.
"Kalisa, ayo kita pergi. Mobil sudah siap, kan?" Restu berbicara dengan sekretarisnya.
Maria terbelalak melihat wanita cantik yang muncul dari dalam ruang mantan kekasihnya. Kecantikan wanita yang bagaikan dewi, Yunani itu melebihi dirinya.
"Dia siapa?" tanya Maria tak senang.
__ADS_1
"Sekretarisku," jawab Restu. "Ayo, Kalisa."
"Kalisa?" geram Maria dalam hati. Tentu nama itu tidak asing baginya. Tetapi ini wanita yang berbeda.
"Sebentar, kita belum selesai bicara," kata Maria. "Mana mungkin dia sekretarismu! Sekretarismu kan si Nora jelek itu."
"Dia sekretarisku. Direkrut HRD melalui seleksi. Nora saat ini sedang cuti melahirkan," jawab Restu.
"Tapi..."
"Sudahlah, aku malas berdebat denganmu. Pekerjaanku jadi terhambat. Ayo, Kalisa," kata pria itu memotong ucapan Maria.
"Grrr... Siapa, sih, wanita itu? Jangan sampai dia menghambat hubunganku dengan Restu," gumamnya.
...🌺🌺🌺...
"Baik, Pak," jawab Restu.
"Kalisa, terima kasih, ya. Kamu tadi banyak membantu. Baru sekali ini kita meeting dalam waktu singkat, tapi hasilnya maksimal," ucap Restu.
"Terima kasih, Kak."
"Oh, iya. Kamu pulang sama siapa? Rumah kamu di mana? Aku antar, ya," tawar Restu pada Kalisa.
"Duh, nggak perlu. Lagian saya setelah ini ada kegiatan lain sama teman saya," kata Kalisa menolak permintaan Restu.
"Kegiatan apa? Mau nongkrong bareng temen, ya?"
"Nggak, kok. Saya ada bimbel kelas malam," jawab Kalisa singkat.
__ADS_1
"Duh, susah banget sih menghentikan omongan dengan orang satu ini," pikir wanita itu. "Aku tahu dia cuma modus. Tapi aku tidak akan terjebak olehnya, telah membuangku dengan cara," pikir Kalisa.
"Kalisa, gimana keadaanmu? Jangan lupa transplantasi ginjalmu masih belum sehat." Kalisa membaca pesan dari Albert yang baru saja masuk.
"Aku baik-baik saja, dokter. Ini sudah mau pulang," balas Kalisa.
"Jangan pulang terlalu malam. Ingat, sekarang kamu berbeda dengan dulu. Banyak mafia dan lintah yang mengincar perempuan-perempuan cantik," tulis Albert lagi.
"Siap, dokter."
"Kenapa senyum-senyum sendiri? Dapat pesan dari pacar, ya?" tegur Restu.
"Bukan, Kak. Aku belum punya pacar, kok," pancing Kalisa.
"Oh, ya? Masa perempuan secantik kamu nggak punya pacar?" balas Restu lagi.
"Memang belum ada, kok. Aku mau fokus kerja dulu," sahut Kalisa.
"Aku ini wanita monster yang kamu buang," ucap wanita tersebut dalam hati.
"Kamu beneran nggak mau saya antar? Ini sudah hampir gelap, lho," ajak Restu.
"Iya, beneran nggak apa-apa. Sebentar lagi teman saya datang," ucap Kalisa berbohong.
"Apa kamu takut denganku?" tanya Restu.
"Hahaha... Untuk apa saya takut dengan kakak? Kakak kan bukan orang yang hobi membunuh orang?" kata Kalisa sambil tertawa.
(Bersambung)
__ADS_1