Mengubah Takdir: Monster Girl

Mengubah Takdir: Monster Girl
Bab 30 -


__ADS_3

"Kalisa! Tunggu!"


Kalisa memutar badannya dan menoleh ke belakang. Seorang pria berlari mengejarnya dari depan lift.


"Kak Restu? Ada apa?" tanya Kalisa.


"Kau sudah mau pulang?" tanya pria itu dengan napas tersengal.


Kalisa hanya mengangguk.


"Bisa kita bicara sebentar?" pinta Restu penuh harap.


"Hhmmm...?" Wanita cantik yang menampakkan kedua bahunya tersebut mengecek ponselnya. "Boleh, deh. Tapi aku cuma punya waktu sampai jam enam sore, Kak," ucapnya.


"Ya sudah. Kita bicara di kafe dekat sini saja. Ayo naik ke mobilku," ajak pria itu.


"Kak Restu sudah baikan? Tadi kami semua khawatir, karena kakak terlihat pucat banget," ucap Kalisa pura-pura peduli.


Wajah Restu kembali memerah. Kejadian tadi adalah peristiwa yang sangat ingin ia lupakan seumur hidup.


"A-aku nggak apa-apa," jawab Restu sambil mengendalikan kemudi. Mobil berwarna silver metalic itu pun meluncur keluar dari halaman perusahaan.


Sekilas, Kalisa bisa melihat mobil mewah milik Maria terparkir di seberang jalan.


"Huh, apa yang dia lakukan di sini?" pikir Kalisa sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Restu heran.


"Nggak apa-apa. Rasanya aneh saja disupirin sama atasan sendiri," ucap Kalisa sambil melemparkan pandangan ke arah pria di sebelahnya.


"Santai aja. Kau pasti akan sering mengalami hal ini," balas Restu.


"Hah, maksudnya?" seru Kalisa pura-pura terkejut.


"Dasar buaya. Wajahnya memang tampan. Tapi hatinya jauh lebih busuk dibandingkan iblis sekali pun. Aku jadi penasaran, apa yang menyebabkan dia dan Kak Maria berpisah?" pikir Kalisa dalam hati.


...🌺🌺🌺...


"Kak Restu, kayaknya ada yang salah, deh." Perempuan yang aslinya berusia dua puluh dua tahun itu memandang ke seluruh sudut ruangan yang baru saja ia masuki.


"Apanya yang salah?" sahut Restu.


"Kata Pak Direktur, aku harus mentraktirmu makan enak. Aku jadi penasaran, apa yang kau lakukan sampai direktur yang terkenal perfeksionis itu luluh?" kata Restu.


Pria berkulit sawo matang itu menyerahkan menu pesanan kepada pelayan.


"Padahal kau tahu, kan? Aku sudah menghancurkan semuanya," ucap kepala bagian marketing itu dengan sangat lirih.


Hampir saja Kalisa tertawa terbahak-bahak saking puasnya. Akhirnya, secara perlahan ia bisa membalaskan dendam pada pria brengsek tersebut.


"Pak Direktur terlalu berlebihan. Padahal saya hanya coba mempresentasikan bahan yang sudah disusun oleh tim," sahut Kalisa.

__ADS_1


Dia menjeda kalimatnya sejenak, ketika pelayan memberikan buku menu padanya.


"Saya juga tidak sendirian. Semua anggota tim juga ikut serta meloloskan kontrak ini," ucap Kalisa merendah. "Jadi kalau kakak mau mentraktir, harusnya mereka semua juga diajak," lanjutnya.


"Walau pun dia bilang demikian, tetap saja rasanya ada yang aneh. Seorang perfeksionis dan penderita OCD seperti dia, nggak mungkin bisa memaafkan kesalahan itu dengan sangat mudah."


Restu melirik ke setiap jengkal tubuh wanita di hadapannya. Apa dia membayar dengan tubuhnya?"


Restu bisa melihat lekukan tubuh wanita tersebut di balik kain yang melapisinya. Bahkan ia bisa membayangkan, seperti apa bentuknya.


"Dia jauh lebih berisi, dibandingkan Maria," pikir Restu.


"Dasar cowok mesum," batin Kalisa sambil menutupi dadanya dengan buku menu. Wanita itu pura-pura sibuk membaca menu.


"Aku sangat menjaga perasaan pacarku. Sebelum menikah, aku tidak ingin melihatnya apalagi menyentuhnya," ucap Restu pada waktu itu.


"Halah, bulshit. Itu dia lakukan karena muak melihatku," batin Kalisa dalam hati. Pandangannya masih fokus pada buku menu.


"Ah, apa ada yang ingin kau pesan lagi?" tanya Restu. Ia malu karena aksinya disadari oleh sang sekretaris.


"Tidak. Aku cuma penasaran, sepertinya harga menu di sini lebih mahal dari pada uang kosku selama satu bulan," ucap Kalisa.


Matanya yang indah memandang ke salah satu kursi yang terletak di sudut ruangan tersebut. Kalisa melemparkan senyuman tipis pada pengunjung yang duduk di sana.


"Sudah kuduga, dia bukan sekedar sekretaris," gerutu Maria membalas pandangan mata Kalisa. "Mana ada sekretaris di ajak makan di tempat mahal?" ucapnya.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2