Mengubah Takdir: Monster Girl

Mengubah Takdir: Monster Girl
Bab 44 - Kembali Lagi


__ADS_3

Cepat atau lambat, aku juga akan menceritakan semuanya padamu," kata Albert sambil tersenyum.


"Cerita padaku tentang hal ini?" tanya Kalisa takut salah paham. Albert mengangguk dengan yakin.


"Kenapa?" tanya gadis itu lagi.


"Karena aku dan kamu rekan kerja. Kamu orang yang aku percaya, seperti Rara," ucap Albert.


"O-ooh..." Kalisa sedikit kecewa mendengarnya.


"Kenapa?" tanya Albert bingung. "Apa aku salah ngomong? Kenapa wajahnya terlihat murung?" pikir Albert.


"Nggak apa-apa. Terima kasih sudah mempercayaiku," ucap Kalisa. Gadis itu memaksakan garis melengkung ke atas di wajahnya yang manis.


"Hh... Kenapa aku mengharapkan dia mengatakan 'suka', ya? Padahal dia baru saja mengalami hal yang berat. Dasar aku nggak peka," omel Kalisa pada dirinya sendiri.


"Ayo masuk. Di luar dingin," ajak dokter tampan itu.


"Anu... Sebenarnya aku..." Kalisa sedikit menyembunyikan tubuhnya di balik bayangan pohon.


"Apa yang terjadi?" Albert mendekatkan wajahnya pada tubuh wanita itu. Aroma harum yang menyegarkan pun tercium olehnya.


Tapi bukan itu masalahnya. Dokter tampan yang memiliki intuisi tajam itu melihat sesuatu yang aneh di tubuh pasiennya.


"Kalisa, tubuhmu mulai ditumbuhi rambut halus lagi? Sejak kapan?" tanya Albert.


"Sejak sore tadi," jawab Kalisa.


"Jadi karena ini kamu datang menemuiku? Ku kira hanya kunjungan biasa saja? Ternyata sindrom langka yang kau derita belum sembuh total," kata pria dengan kemeja putih tersebut.

__ADS_1


...🌺🌺🌺...


"Rara, tolong siapkan air hangat untuk Kalisa," perintah Albert.


"Baik, dokter."


Rara meletakkan secangkir kopi susu dan cangkir lainnya kopi nira. Tak lupa ia juga meletakkan sepiring camilan untuk di makan bersama kopi.


Setelah itu, gadis mungil tersebut bergegas pergi ke kamar tamu dan Menyiapkan air hangat untuk Kalisa.


Kini di ruang kerja Albert hanya ada Kalisa dan pemilik rumah itu.


"Bisa buka bajumu?" pinta Albert.


"A-apwwa?" Dengan Reflek Kalisa menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Hhhh... Bukan itu maksudku..."


"Aku akan memeriksa pinggang dan punggungmu. Bagaimana aku bisa melakukannya kalau kau mengenakan pakaian lengkap begini?" ucap Albert.


"Sindrommu kembali lagi. Aku juga harus mengecek implan tulang dan transplantasi ginjalmu," jelas dokter itu lagi.


"A-ah, begitu ya?" gumam Kalisa malu. Ia selalu berpikir terlalu jauh.


Tok! Tok! Tok!


"Ya?" sahut Albert.


"Dokter, saya sudah siapkan air panasnya," lapor asisten pribadi Albert itu.

__ADS_1


"Oh, terima kasih," jawab Albert.


"Tapi apa saya boleh izin keluar sebentar? Saya harus membeli beberapa bahan untuk makan malam kita," kata Rara.


"Makan malam? Hmm... Gimana kalau malam ini kita beli saja. Aku pengen makan soto. Kalau kamu, Kalisa?" tanya Albert meminta pendapat.


"Ah, saya tidak usah.".


"Hei, kamu harus makan. Kamu mau apa untuk makan malam?" Albert melempar pertanyaan pada Rara.


"Soto boleh juga."


"Kalau begitu soto tiga," kata Albert.


"Oke, deh."


Sepeninggal Rara, keadaan kembali canggung. Ruangan itu diliputi keheningan hingga beberapa detik kemudian.


"Kalau begini, gimana aku bisa memeriksamu?" tanya Albert.


"Kita tunggu aja gimana?" tolak Kalisa.


"Aku hanya ingin melihat keadanmu, Kalisa. Lagipula aku nggak suka perempuan," bujuk Albert.


"Aku nggak percaya."


"Hhh... Ya, yang kemarin itu sebuah kesalahan. Dan aku nggak akan mengulanginya lagi. Aku janji," kata Albert.


"Uh, dasar dokter lugu. Kalau ingin membuka baju untuk melihat punggungku, artinya aku harus membuka semuanya, dong," gerutu Kalisa dalam hati.

__ADS_1


Kesalahan terbesarnya hari ini adalah memakai long dress, yang akan mengekspose seluruh tubuhnya ketika dibuka.


(Bersambung)


__ADS_2