Mengubah Takdir: Monster Girl

Mengubah Takdir: Monster Girl
Bab 43 - Rahasia Terbongkar


__ADS_3

"Ayahmu memang bisa memenuhi semua materi yang kuperlukan. Tapi tidak bisa memenuhi yang aku butuhkan," ucap Nita tanpa rasa malu.


"Itulah yang membuatku benci. Wanita mana yang nggak cukup bertempur sehari empat kali?" balas Albert. Ia sudah cukup dewasa untuk membahas hal ini pada sang ibu.


"Hahh... Kau nggak pernah menyukai perempuan. Makanya gak tahu bagaimana rasanya," sindir Nita.


Albert mengepalkan kedua tangannya. Dadanya bergemuruh. Mulutnya tak tahan untuk melontarkan kata-kata jahan-nam pada wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu.


"Kamu pikir, siapa yang telah membuatku jadi membenci wanita?" gumam Albert sangat lirih. Tetapi Nita masih memahaminya, melalui gerak bibirnya.


"Aku begini karena dirimu! Aku benci pada wajita setelah melihat sikapmu yang menjijikkan itu!" teriak Albert histeris.


Tubuh Nita bergetar. Perempuan berparas Dewi Yunani itu tak menyangka, sang putra bisa menghardiknya seperti itu. Sang bodyguard buru-buru menopang tubuhnya yang kian melemah.


"Kamu telah membuat hidupku dan hidup Ayahku sangat menderita. Jangan berani lagi muncul di hadapanku, jika kamu masih mau hidup," usir Albert.


"Nak..."


"Pergi! Aku tak mau melihat wajahmu yang menjijikkan itu!" seru Albert kembali mengusir ibundanya.


Bruk! Albert mendengar sebuah benda terjatuh di balik pagar. Ia mengernyitkan keningnya lalu menatap sekeliling. Sepertinya hanya dia yang mendengar suara itu.

__ADS_1


...🌺🌺🌺...


"Dokter, Anda nggak apa-apa?" tanya Rara.


Albert menggeleng lemah. Bahunya tampak naik turun. Napasnya belum kembali normal.


Nita Wulandari, ibunda dari Albert telah pergi dari tempat itu atas bantuan para petugas keamanan. Tapi Albert tahu, masalah tidak hanya brrhenti sampai di situ.


Wanita cantik itu pasti akan kembali lagi mencari putra semata wayangnya. Pasalnya, seluruh dokumen dari sang suami dipegang oleh Albert.


Tanpa memiliki benda-benda itu, Nita tidak akan bisa mengklaim harta warisan peninggalan mendiang sang suami.


"Mau saya ambilkan air hangat?" ucap Rara beberapa saat kemudian. Ia cemas melihat majikannya terlihat lesu dan gelisah. Wajahnya juga terlihat pucat.


Baru saja beberapa langkah, Albert kembali menghentikan gerak kakinya, lalu memutar badan.


"Tapi boleh juga, deh. Sekalian siapkan secangkir kopi gula aren," pintanya.


"Kopi gula aren? Dokter kan gak suka?" pikir


Rara bingung.

__ADS_1


Ia tahu betul, majikannya memang pecinta kopi. Tetapi ia selalu menggunakan takaran susu dan sedikit garam dalam minumannya. Tidak pernah berubah sejak dulu.


Sementara Albert berjalan mendekati pagar depan, dekat mobilnya terparkir tadi.


"Kau sudah boleh keluar, Kalisa," ucap Albert


"Dokter? Anda tau saya di sini?" Kalisa menangkupkan kedua tangannya di wajah, untuk menutupi rasa malu. "Ah, maaf. Seharusnya saya langsung pergi saja tadi," lanjutnya


"Nggak apa-apa. Aku tahu kamu nggak bisa pergi, kan? Makanya kamu tetap di sini," ucap Albert sembari meraih tangan Kalisa.


"Masuklah. Maaf kamu sudah mendengar hal buruk tadi. Kamu pasti shock sekali," lanjut pria berkemeja putih tersebut.


"Bukan aku. Tapi dokter pasti merasa lebih shock dan menderita selama ini, kan?" ucap Kalisa tak bisa membendung rasa sedihnya. Ia mendengar jelas, apa yang terjadi tadi.


"Nggak seberat itu, kok. Aku sudah terbiasa dari dulu. Cepat atau lambat, aku juga akan menceritakan semuanya padamu," kata Albert sambil tersenyum.


"Cerita padaku tentang hal ini?" tanya Kalisa. Albert mengangguk.


"Kenapa?" tanya gadis itu lagi.


"Karena aku... "

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2