Mengubah Takdir: Monster Girl

Mengubah Takdir: Monster Girl
Bab 23 - Pergi


__ADS_3

"Apa jaminannya anda tidak berbohong, dokter? Aku tidak mau ditipu lagi," kata Kyara.


"Nih, kau bisa bawa KTP-ku. Lalu kembalikan saat kita bertemu lagi."


"Tapi zaman sekarang mudah sekali nengganti KTP. Tinggal bikin surat kehilangan di kantor polisi lalu bawa ke dinas kependudukan. Selesai." Kyara tidak mau menerimanya begitu saja.


Albert menghembuskan napas dalam-dalam. Ia mengerti, sejak dikhianati oleh orang-orang terdekatnya, wanita ini menjadi paranoid. Dia sulit membuka hatinya untuk percaya pada orang lain.


"Begini saja. Kau tetap bawa KTP itu, lalu pilih satu benda lagi untuk kau bawa," kata Albert sambil menjejerkan empat macam benda pribadi miliknya.


"Apa aku keterlaluan, ya? Padahal dokter Albert sudah berusaha menolongku," ucap kyara dalam hati. "Ah, tidak. Aku harus tetap berjaga-jaga," Kyara perang batin.


"Aku ambil ini saja, deh." Kyara mengambil kartu tanda pengenal milik sang dokter.


"Wanita cerdas. Tanpa kartu itu, akses kerjaku akan sangat terbatas. Untuk mengurusnya sangat sulit. Apalagi mengganti yang hilang," ucap Albert dalam hati.


"Baiklah, deal. Kita bertemu besok pukul sepuluh pagi, di tempat yang aku tentukan. Semoga saja operasiku besok lancar, dan kita tidak terlambat," kata Albert kemudian.


...🌺🌺🌺...


"Di mana wanita itu? Katamu dia berada di kampung kumuh itu?" tanya Maria.


Pasangan kekasih itu menyuruh beberapa orang preman untuk melacak keberadaan Kyara, dan hendak menghabisinya. Namun yang mereka temukan malah berbeda.

__ADS_1


"Kenapa alat pelacak ini malah bersama bocah ingusan itu?" marah Restu sambil mencampakkan benda berukuran se-ujung jari kelingking itu.


"Sudah kubilang, kan? Dia itu perempuan licik. Sekarang kita mau mencarinya ke mana?" omel Maria.


Brak! Restu mengebrak meja dengan kuat.


"Kau itu bisanya cuma marah dan memerintah saja!" balas Restu dengan suara tinggi.


"Mulai dari membuat kebakaran di mansion, kecelakaan mobil, menggusur panti asuhan, semua kulakukan. Tapi kau tetap nggak puas! Sekarang lakukan saja sendiri. Aku capek," kata Restu sambil meninggalkan ruangan itu.


"Restu! Kau nggak bisa meninggalkan aku begitu saja. Kau sudah menerima modal milyaran untuk bisnismu," kata Maria.


"Akan aku kembalikan semuanya. Lebih baik aku hidup miskin, dari pada menikah dengan cewek manja dan bodoh kayak kamu," ucap Restu berlalu pergi.


...🌺🌺🌺...


"Oh, ya? Ada apa? Aku baru selesai operasi di rumah sakit S," kata Albert.


"Saya kurang tahu, dokter. Tapi kayaknya tentang pasien," kata wanita itu.


"Oke, Trims."


Albert lalu pergi ke ruang dokter.....

__ADS_1


"Kamu tadi mencariku?" tanya Albert.


"Iya. Aku mau tanya, di mana Kalisa?" ucap Mila yang sambil mengecek jadwalnya.


"Mila? Ah, dia mengundurkan diri pagi ini," jawab Albert.


"Kenapa tiba-tiba? Kamu nggak menahannya pergi?"


"Aku juga nggak tahu. Tapi dari awal, kan dia emang gak beneran kerja di sini. Kami deal melakukan simbiosis mutualisme, agar lukanya bisa diobati," jelas Albert. "Jadi mungkin dia merasa sudah selesai, ketika ia sembuh."


"Tapi apa mungkin, semudah itu dia pergi dari sini? Secara kerja di sini enak. Tempat tinggal dan gaji terjamin," bantah Mila.


"Kata Pak Nof, dia di sini dibully. Semua pasien dan perawat takut pada wajahnya yang seram," kata Albert.


"Aku juga mendengar hal itu. Bahkan melihatnya langsung. Tapi dia bisa melawan mereka dengan baik, kok. Rasanya aneh aja, dia tiba-tiba pergi," kata Mila.


"Kenapa kamu jadi peduli sama dia, sih? Bukannya kamu merawatnya, cuma untuk menarik simpatiku?" tanya Albert.


"Peka juga dokter satu ini," kata Mila dalam hati.


"Al, kamu nggak bawa dia ke lab untuk jadi bahan percobaan, kan?" tebak Mila.


"Memangnya dia perempuan yang gampang dibujuk? Untuk mengobati lukanya saja, dia berpikir cukup lama," ucap Albert. "Lagian kenapa kau tiba-tiba mikir ke sana?"

__ADS_1


"Dia itu objek yang bagus untuk penelitianmu, kan? Tapi sudah berapa banyak perempuan yang tiba-tiba hilang, lalu berakhir di lab-mu? Dan sayangnya mereka semua tewas," kata Mila.


(Bersambung)


__ADS_2