
Grep! Albert melingkarkan tangannya di tubuh Kalisa. Ia pun merapatkan kepala wanita cantik tersebut si dadanya yang bidang.
"Lah?" gumam Kalisa dalam hati. Telapak tangannya ia tempelkan di dada sang dokter. Hingga jarak mereka berdua sedikit merenggang.
"Dokter, aku kan nggak minta peluk," bisik Kalisa.
"What? asldjkjl..."
Albert tersadar. Ia buru-buru mendorong tubuh Kalisa. Tapi hal itu justru membuat kesalahan semakin besar.
Kedua telapak tangannya menekan bola kenyal yang sensitif milik perempuan itu. Bagian tubuh itu adalah asli, tanpa ada perubahan melalui operasi.
"Dokter!" marah Kalisa.
"Maafkan aku. Aku nggak bermaksud begitu," kata Albert berulang kali.
Degup jantung dokter muda itu semakin liar. Albert bahkan menutupi bagian tubuhnya yang berubah ukuran dan mengeras, dengan ujung kemejanya. Ini pertama kalinya ia mengalami hal itu bersama perempuan.
__ADS_1
"Ckk, sudahlah. Aku tahu dokter nggak sengaja. Dan akhirnya juga tahu, kalau dokter nggak terlalu benci dengan perempuan," kata Kalisa sambil melirik ke tubuh bagian bawah.
Wajah Albert merah padam mendengar hal itu, "Maaf," ucap Albert. Suaranya hampir tidak terdengar. Kalisa diam saja.
"Sebenarnya aku datang ke sini karena mengkhawatirkanmu," ucap dokter Albert. "Aku juga ingin menanyakan hal ini, tapi sepertinya suasananya tidak pas," lanjutnya.
Albert menunjukkan sebuah berkas pendaftaran fakultas kedokteran.
"Ah... Ini... Aku baru saja mau bilang sama dokter," ucap Kalisa.
"Aku nggak bisa melarangmu untuk sekolah lagi. Tapi, apa harus di sini? Dengan kemampuanmu itu, aku bisa mendaftarkanmu ke universitas lebih bagus lagi," ucap Albert.
"Kenapa? Kamu nggak mau berhutang budi padaku lagi?" tanya Albert. "Maksudnya, aku bisa mencarikanmu beasiswa di universitas terbaik. Aku percaya kamu bisa melalui semua tesnya."
"Aku akan tetap memilih tempat itu, dokter," ucap Kalisa bersikeras.
"Perasaanku nggak enak. Apa kau ingin membalas dendam dengan mereka?" tebak Albert.
__ADS_1
"Ya. Aku ingin membuat mereka sakit dan jatuh secara perlahan. Terutam Kak Maria. Dia harus merasakan apa yang dulu ku rasakan," sahut Kalisa dengan emosi meluap-luap.
"Aku tahu, kamu pasti hancur dan sakit karena mereka. Tapi aku tidak rela, jika kamu terus berada di sekitar mereka," kata Albert.
Bagian tubuhnya yang tadi memanjang, kini mulai menyusut dan kembali ke ukuran semula.
"Hidupmu sekarang udah beda. Penampilanmu jauh berubah dibandingkan dahulu. Tapi aku nggak ingin hatimu juga ikut berubah, Kyara Zevania Andhakara. Aku suka kamu yang sekarang," ucap Albert dengan tegas.
Kalisa tertegun mendengar Albert menyebut nama aslinya dengan sangat lengkap. Sudah lama ia tidak mendengarnya. Bahkan hampir melupakannya.
Ditambah lagi pernyataan suka yang nggak ia duga-duga. Kalisa tahu, 'suka' maksud Albert berbeda dengan rasa 'suka' sebagai pasangan. Tapi tetap saja membuat jantung wanita cantik itu berdebar.
"Menurut dokter aku jenius, kan? Jadi aku nggak mungkin membalas dendam tanpa rencana. Ke depannya, aku masih membutuhkan dokter dan Arslan untuk mencapai tujuanku. Kalau kalian nggak keberatan," ucap Kalisa panjang lebar.
"Tapi dengan identitas dan ijazah palsu yang akan kita buat, itu akan menjadi bumerang bagimu nanti. Aku nggak mau kamu kena masalah lagi, Kyara."
Kalisa tersenyum. Meski dokter adalah orang yang sangat aneh, tapi ia merasakan ketulusan di dalam dirinya.
__ADS_1
"Karena itu, aku akan sangat membutuhkan bantuan dari dokter, untuk melancarkan ini semua. Sebagai gantinya, aku membantu proyek penelitian dokter," ucap Kalisa.
(Bersambung)