
"Rara, kok pulang sendirian? Mana Kalisa?" Albert memergoki asisten pribadinya yang pulang mengendap-endap.
"Oh! Astaga!" Kalisa memegang dadanya untuk menenangkan jantungnya yang hampir copot.
"Kalisa lagi pergi ke rumah Kalisa yang asli bersama pria itu," ucap Rara setelah napasnya kembali normal.
"Pergi sama cowok itu? Kenapa kau membiarkan dia pergi dengan cowok asing? Kalau terjadi apa-apa sama dia gimana?" protes Albert.
"Tenanglah, dokter. Kalisa baik-baik saja. Dia tidak pergi sendirian karena Niel bersamanya," sahut Rara.
"Tetap saja itu berbahaya. Kita belum mengenal pria itu."
"Pria itu adalah sahabat dari Kalisa. Mungkin nanti kita membutuhkan bantuannya, untuk memecahkan misteri ini," ucap Rara.
Albert menarik nafas panjang, "Apakah kamu memiliki foto pria itu?"
"Ini." Rara menunjukkan foto sebuah pria tampan, yang sedang berbicara dengan Khalisa.
Albert memandangnya dengan sangat seksama. Rara buru-buru menarik kembali handphonenya, "Dia memang tampan. Tapi jangan sampai naksir ya, dokter."
"Heiii... Sialan?" umpat Albert. Pria itu langsung mengambil jaket dan kunci mobilnya.
"Dokter, Anda mau kemana?" tanya Rara.
Albert tidak menjawab ia hanya ngeloyor pergi dengan terburu-buru.
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
Ceklek! Tap!
Kalisa melangkah masuk ke dalam rumah, dan menyalakan lampu. Tubuhnya terasa sangat lelah, tetapi hatinya sedikit riang.
"Kau sudah pulang?"
"Ya ampun, dokter! Anda di sini? Kenapa gelap-gelapan?" Napas Kalisa memburu, mendengar suara pria yang tiba-tiba.
"Kenapa kau pulang begitu larut? Apa kau lupa, hari ini jadwal pemeriksaanmu?" ujar Albert dengan wajah sangat tidak ramah.
Kalisa mengerutkan keningnya. Mood Albert terlihat seperti seorang perempuan yang lagi PMS.
"Tadi aku pergi bersama Arslan ke beberapa tempat, dan aku menemukan beberapa hal penting tentang Kalisa," sahut wanita itu.
"Jangan terlalu percaya dengannya. Kau baru mengenalnya," tegur Albert.
"Aku berbeda. Niatku untuk membalas budi. Kalau dia?" Albert memberikan sebuah argumen.
"Oh... Ya... Ya... Aku lupa kalau dokter Albert Candra Putra adalah orang paling baik," ucap Kalisa.
"Terima kasih atas semua bantuannya selama ini, dokter." Wanita itu mendekati Albert, hingga jarak mereka hanya kurang dari dua sentimeter.
Albert merasakan dadanya sesak. Ia jarang sekali berdekatan dengan perempuan di jarak seperti ini. Tapi pria itu tidak bisa mundur lagi, karena terhalang tembok.
"Kalisa, kamu..."
"Sssttt... Jangan lupa, dokter. Siapa pun memang bisa berbuat jahat, tapi ada juga yang bersikap tulus membantu," sahut Kalisa seraya mengacungkan telunjuknya di bibir pria itu.
__ADS_1
Dug! Dug! Dug! Jantung Albert berdebar kencang, "Apa lagi yang terjadi pada jantungku? Apa aku salah minum suplemen hari ini?" pikir dokter tampan tersebut.
"Jadi maksudku, jangan terlalu curiga padanya. Siapa tahu nanti kita membutuhkannya," ucap Kalisa sambil memperbaiki kerah baju pria di hadapannya.
Deg! Deg! Deg!
Napas dokter muda itu semakin berat. Tubuhnya sedikit menghangat. Serotonin di dalam tubuhnya bereaksi.
"Bukan jantungku yang aneh. Tapi ada yang salah dengan wanita ini. Biasanya aku nggak pernah kayak gini kalau berdekatan dengan perempuan," gumam Albert dalam hati.
Perlahan Kalisa kembali ke posisi semula, menjauh dari Albert.
Fyuh! Albert bernapas lega. Andai saja Kalisa bertahan di posisi yang cukup rapat tersebut selama satu menit lagi, mungkin jantungnya bisa berhenti berdetak.
"Baiklah. Asal kamu tetap berhati-hati, kamu boleh bekerja sama dengan pria tampan itu," ucap Albert.
"Siapa yang tampan?" tanya Kalisa sembari menahan tawa. "Rupanya dokter sudah mencari tahu tentang dia?"
"Ya pasti, lah. Aku kan nggak mau kamu kenapa-kenapa. Ingat, kamu itu masih ada kontrak kerja sama penelitian denganku. Tubuhmu nggak boleh rusak sebelum proyek ini selesai."
"Ah, aku kok jadi sedih, ya. Seakan-akan aku cuma dibutuhkan sebagai objek penelitian. Padahal tadi sudah merasa agak senang sewaktu mengkhawatirkanku," kata Kalisa.
"Aku berharap, dokter saudara pertamaku setelah identitas baru," lanjut Kalisa sambil menundukkan kepala dalam-dalam.
"Ah, maaf. Aku tidak bermaksud begitu." Grep! Albert melingkarkan tangannya di tubuh Kalisa. Ia pun merapatkan kepala wanita cantik tersebut si dadanya yang bidang.
"Lah?" gumam Kalisa dalam hati.
__ADS_1
(Bersambung)