
"Apa benar semua arsip sudah dibuka? Kejadiannya kan belum lama?" ucap Arslan.
"Benar, kok. Ini arsip tentang kecelakaan lalulintas enam bulan terakhir," ucap polisi tersebut.
"Aneh, kenapa kasus kecelakaan yang menimpa Kalisa tidak ada, ya?" pikir Arslan.
"Sebenarnya apa yang Anda cari? Saya masih banyak tugas lainnya," ucap polisi itu tidak sadar.
Arslan memang tidak menyebutkan secara spesifik kecelakaan yang menimpa putri bungsu dokter terkenal tersebut. Karena itu adalah isu yang sangat sensitif dan bakal menarik perhatian banyak pihak.
Sahabat Kalisa tersebut hanya menyebutkan lokasi kecelakaan di radius dua kilometer dari lokasi kejadian seharusnya.
Setelah mengecek semua arsip dan CCTV di sekitar lokasi selama beberapa minggu menjelang kecelakaan, Arslan tidak menemukan Kalisa di sana. Ini aneh.
"Apa benar Kalisa sebagai korban kecelakaan? Gimana kalau sebenarnya data-data itu cuma di curi atau sengaja di beli, lalu Kalisa berganti identitae? dan makam Kyara Zevania Andhakara itu cuma peti kosong?" pikir Arslan.
"Dari awal aku sudah curiga, mengapa dokter Juandi justru menyimpan berkas penting seperti dokumen kematian itu di lemari pribadinya di klinik?" Arslan memutar otaknya untuk memecahkan teka-teki ini.
"Kalisa, di mana kamu?" gumam Arslan sedih.
__ADS_1
"Begini, Pak. Sebenarnya saya kehilangan beberapa barang karena copet atau jambret," ucap Arslan mengubah triknya.
"Oh, kasus copet? Kenapa nggak bilang dari tadi. Tentu saja arsipnya beda. Kenapa tadi kamu bilang kecelakaan?" kata polisi itu sembari membuka arsip kasus lainnya di database kepolisian.
"Saya lupa kejadian persisnya, tetapi yang saya ingat waktunya hampir bersamaan dengan sebuah kecelakaan," jawab Arslan mengarang.
"Kenapa kamu baru melapor sekarang?" selidik polisi tersebut. "Kalau sudah lewat dari satu minggu, barang tersebut pasti sudah berpindah tangan beberapa kali," ujar polisi tersebut mulai curiga.
"Saat itu saya sudah lapor, Pak. Tetapi kasusnya tertutupi oleh kasus kecelakaan. Lalu saya pun harus karantina mengikuti pelatihan kerja. Jadi, baru bisa lapor sekarang," kata Arslan.
"Hmm... Baiklah. Ah, ini. Kamu tadi mencari lokasi ini, kan?"
Satu hal penting yang diperoleh Arslan adalah, ia melihat Kalisa menuju ke tempat yang sama selama hampir seminggu, sebelum kecelakaan itu terjadi.
Anehnya lagi, waktunya selalu sama yakni sekitar pukul delapan pagi dan selalu sambil menelepon.
"Mau ngapain Kalisa menuju ke tempat itu setiap pagi? Itu kan berlawanan arah dengan tempat kerjanya?" pikir Arslan.
"Dek, ini sudah lewat tiga hari dari waktu yang kamu bilang. Tapi nggak ada kasus copet atau jambret yang tertangkap kamera di sekitar sini. Apa kamu nggak salah tanggal?" tanya Pak Polisi.
__ADS_1
"Seingat saya sih di tanggal segitu, Pak. Apa mungkin lokasinya tidak terjangkau kamera CCTV, ya?" gumam Arslan pura-pura berpikir.
"Kamu yakin kecopetan? Bisa saja kan, kamu menjatuhkannya atau meninggalkannya di suatu tempat?" kata Pak Polisi.
...***...
"Apa benar ini sampel darah dari Kyara?" tanya Albert pada rekan kerjanya di rumah sakit.
"Benar, kok. Ini diambil sesaat setelah ia sampai di rumah sakit. Saat itu kondisinya sudah dalam keadaan tewas," kata tim medis yang menangani kecelakaan dulu.
"Kenapa dokter bersikeras mengambil sampel darahnya?"
"Untuk penelitianku tentang sindrom elis van creved. Aku juga sudah memiliki surat resmi untuk mengambil penelitian tersebut," kata Albert.
"Begini, dokter. Sebenarnya semua data tentang pasien kecelakaan tersebut dipegang dan diawasi oleh dokter Loui. Saya jadi takut dokter kena panggil karena masalah ini."
"Nggak masalah kalau saya kena panggil. Yang saya kerjakan bukan ilegal, kok. Justru bagus kalau saya bisa bertemu langsung dengan dokter Loui," ujar Albert dengan sangat santai.
Tanpa diketahui siapa pun, Albert memindahkan sedikit sampel darah tersebut ke media lainnya. Ia hanya perlu sangat sedikit untuk membuktikan sesuatu.
__ADS_1
(Bersambung)