Mengubah Takdir: Monster Girl

Mengubah Takdir: Monster Girl
Bab 27 - Balasan


__ADS_3

"Apa kamu takut denganku?" tanya Restu.


"Hahaha... Untuk apa saya takut dengan kakak? Kakak kan bukan orang yang hobi membunuh orang?" kata Kalisa sambil tertawa.


Deg! Restu tersentak kaget mendengar kata-kata yang keluar dari gadis cantik itu, "Kenapa dia bisa mengatakan hal mengerikan itu dengan mudah? Dia nggak tahu apa-apa tentang masa laluku, kan?" pikir Restu.


"Kakak kenapa? Aku bercandanya keterlaluan, ya?" ucap Kalisa dengan nada sedikit manja.


"Ah, a-aku... tidak apa-apa," kata Restu.


"Kalau begitu aku duluan, kak. Temanku sudah datang menjemput." Kalisa melambaikan tangannya pada atasannya, dan mendekati seseorang yang menggunakan motor matic.


"Ini helm-nya," kata wanita yang datang menjemput Kalisa itu.


"Thanks, Rara," ucap Kalisa penuh arti.


"Jangan lupa ongkos ojeknya. Ke sini jauh, lho. Ini sepeda motornya juga minjem," kata Rara mengingatkan, ketika sepeda motor mereka sudah melaju kencang.


Tadi Rara sang asisten pribadi dokter Albert, tiba-tiba mendapat tugas baru belum pernah ia kerjakan sebelumnya. Yakni menjemput Kalisa.


"Iya, bawel. Nanti aku bayar, deh," jawab Kalisa. "Dasar, ya. Dokter sama asisten sebelas dua belas sikapnya," gumam Kalisa.


"Apa? Mau bayar pake martabak?" Pendengaran Rara terganggu karena terhalang helm dan embusan angin yang kencang.


"NANTI AKU BAYAR ONGKOS OJEKNYA," teriak Kalisa, agar Rara bisa mendengarnya.


"Oh, sekalian ditraktir makan di ayam geprek, toh? Boleh juga, tuh?" kata Rara sambil tetap fokus memegang kemudi.


"Sia lan, Lu," umpat Kalisa yang duduk di belakang.

__ADS_1


Rara fokus mencari celah di antara kemacetan hanya tertawa. Ia tahu, apa yang dikatakannya memang salah. Tapi ia juga nggak dengar jelas apa yang dikatakan Kalisa.


Sementara itu Restu di halaman kantor...


"Ternyata dia beneran dijemput temannya? Ku pikir hanya bohong untuk menghindariku," pikir pria itu sedikit lega.


"Tapi tadi kenapa dia menyinggung soal pembunuhan, ya? Nggak mungkin kan, ada orang yang tahu fakta kecelakaan itu?" gumam Restu dengan perasaan gelisah.


...🌺🌺🌺...


"Beneran kamu nggak mau ditungguin? Aku bisa dibunuh sama Albert nanti, kalau kamu nggak pulang," kata Rara setelah menurunkan Kalisa di depan warung sederhana.


"Iya, beneran. Aku bisa pulang sendiri, kok," kata Kalisa meyakinkan.


"Yaudah, deh. Tapi bayaran ayam geprek sama martabaknya jangan lupa, ya," kata Rara.


"Dasar anak itu! Pasti didikannya dokter Albert," kata Kalisa sambil melangkahkan kaki ke dalam warung.


" Permisi Bu, pesan mi rebus satu," ucap Kalisa.


Sang pedagang, yang dulu memberikan tempat menginap dan beberapa daster, hanya melongo mendengar pesanan Kalisa.


"Oh, apa sudah mau tutup ya?" ucap Kalisa.


"Tidak, tidak. Kami masih buka, kok. Pesan mi rebus saja atau ada tambahan?" tanya wanita berdaster ungu tersebut.


"Boleh deh, teh manis hangat segelas. Mi-nya yang pedes ya, Bu," tambah Kalisa.


Beberapa saat kemudian...

__ADS_1


"Ini pesanannya, Dek. Jarang-jarang ada perempuan cantik mampir ke sini dan makan mi rebus pula," ucap pemilik warung.


"Wah, masa sih, Bu? Padahal mi rebus itu kan makanan paling enak," kata Kalisa sambil menyeruput kuah mi yang pedas.


"Hahaha.. Makanan enak di akhir bulan maksud kamu? Tapi kamu dari mana? Kok malah makan di sini? Padahal di depan sana kan banyak warung dengan menu beragam?"


"Lagi pingin mampir sini aja kayak dulu," jawab Kalisa.


"Lho, kamu dulu pernah mampir ke sini? Kok saya nggak ingat punya pelanggan cantik kayak kamu," kata sang pedagang.


"Sudah pasti ibu nggak ingat. Karena dulu parasku masih mengerikan di mata orang-orang. Tapi ibu justru menolongku," pikir Kalisa dalam hati.


Bola wanita tersebut memandang jauh ke arah pemakaman yang mulai gelap. "Kalisa, maaf aku belum bisa mengunjungimu saat ini. Aku harus berjaga-jaga agar identitasku nggak ketahuan," pikir Kalisa Candra Putri alias Kyara Zevania Andhakara.


"Berapa semuanya, Bu?" tanya Kalisa.


"Lima belas ribu, Dek."


Kalisa mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan, "Ambil saja kembaliannya, Bu," ujar Kalisa.


"Loh, ini banyak banget. Lebih banyak lebihnya dari pada belanja kamu," tolak wanita paruh baya tersebut.


"Nggak apa-apa. Ini untuk membalas bantuan Ibu tempo hari."


"Hah? Kapan aku membantu anak ini?" pikir sang pedagang. "Dek, ini kemba..."


"Lho, ke mana dia?" Pedagang wanita tersebut tiba-tiba merinding. Dalam waktu kurang dari satu detik, wanita cantik di hadapannya sudah hilang dari pandangan mata.


"Dia beneran manusia, kan?" pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2