Mengubah Takdir: Monster Girl

Mengubah Takdir: Monster Girl
Bab 36 - Tentang Kalisa


__ADS_3

"Jadi, di mana Kalisa, Vangsaaaattt! Apa yang terjadi dengannya?" bentak Arslan.


Kalisa sedikit terkejut dengan respon terduga dari Arslan. Tapi ia harus terap kukuh pada pendiriannya.


"Jawab dulu pertanyaanku. Karena jika aku sembarang memberikan informasi, akan menjadi bumerang bagiku dan Kalisa," ucap Kalisa alias Kyara.


"Aku akan melakukan untuk menyelamatkan Kalisa. Katakan, apa yang ingin kau tahu dariku!"


Rara dan salah seorang anak buah Albert yang mengamati mereka berdua dari sisi lain kafe, mulai waspada. Tetapi Kalisa justru memberikan sinyal aman.


"Kamu menyukai Kalisa? Atau jangan-jangan kau pacarnya? Di mana kau saat kecelakaan itu terjadi?" Kalisa menghujani Arslan dengan beberapa pertanyaan.


"Aku bukan pacarnya. Tapi aku sangat menyayanginya, seperti saudaraku sendiri. Kau tahu, kan? Kami berdua sama-sama yatim piatu," jawab Arslan.


"Lalu pada saat kejadian itu, aku sedang berada di luar pulau, untuk menjalani pelatihan kerja, sambung Arslan berhenti sejenak.


"Naasnya, aku baru mengetahui apa yang menimpa Kalisa, dua hari kemudian," ucap Arslan dengan suara tersendat-sendat. Sepertinya pria itu menahan tangis.


"Sepertinya dia nggak bohong deh. Apa aku keterlaluan karena udah curiga sama dia?" pikir Kalisa.


"Sekarang giliranmu. Di mana Kalisa?" Arslan menatap setiap gerakan gadis itu, membuat wanita di hadapannya salah tingkah.


"Aku juga nggak tahu." Kalisa menunduk lesu.


"Kau mengajak ribut? Aku sudah bicarakan semuanya, ternyata hanya ini jawabanmu?" marah Arslan.


"Beneran..." Kalisa mengeluarkan beberapa benda dari dalam tasnya. "Kamu pasti sangat mengenali benda-benda ini, kan? Itulah yang aku temukan ketika baru sadar dari koma."


Arslan mengambil sebuah tas kecil yang berisikan KTP, dompet dan beberapa benda kecil lainnya. Benar kata wanita itu, Arslan sangat mengenalinya.


"Terus Kalisa?" Wajah pria itu terlihat sangat bingung dan sedih. Kalisa tidak tega melihatnya.


"Aku sudah mengatakan yang sejujurnya. Saat itu aku meneleponmu untuk meminta bantuan. Tetapi tidak diangkat. Kalisa menghilang, entah ke mana. Semua orang di rumah sakit, memanggilku dengan nama itu," jawab Kalisa alias Kyara.

__ADS_1


"Selama pelatihan, aku tidak bisa bebas memengang HP. Andai saja saat itu aku langsung meneleponmu," sesal Arslan. "Lalu siapa kamu sebenarnya?" tanya pria itu.


"Kalisa Candra Putri."


"Maksudku, kenapa kamu terlibat dengan Kalisa?" ulang Arslan.


"Aku nggak tahu. Tapi jika kamu memang orang penting bagi Kalisa, mungkin aku akan membutuhkanmu untuk memecahkan semua misteri ini," ucap wanita berparas cantik itu.


Arslan hanya mengerutkan keningnya.


...🌺🌺🌺...


"Jadi ini tempat kos Kalisa?"


Arslan bersama Kalisa Candra Putri menginjakkan kaki di ssbuah rumah petak yang hanya memiliki satu ruangan. Kamar mandi berada di luar untuk bersama-sama.


Atap rumah yang mulai lapuk, dinding lembab dan terkelupas, serta bau tidak sedap dari air selokan yang tidak mengalir, membuat gadis kaya raya tersebut tidak dapat membayangkan, betapa sulitnya kehidupan Kalisa dahulu.


"Arslan, dia siapa? Katanya kamu sudah menemukan Kalisa?" tanya seorang wanita berumur sekirar empat puluh tahunan itu.


"Aduh, mari saya bantu, Bu." Arslan membantu mengangkat kardus tersebut.


"Itu barang-barang milik Kalisa," ujar ibu kos.


"Sayang banget. Kalisa berhalangan datang ke sini. Jadi dia meminta kami datang ke sini untuk menjemput barang-barang miliknya," ucap Arslan.


"Gimana keadaannya? Kalau saja dia bukan orang baik, pasti semua barangnya sudah Ibu jual, saat mengosongkan kamarnya," kata pemilik rumah petak tersebut.


"Loh, jadi kamar ini udah kosong, Bu?" tanya perempuan yang datang bersama Arslan.


"Iya, udah kosong. Biasanya kalau satu minggu nggak ada kabar, langsung Ibu kosongkan. Tapi berhubung dia orang baik, dan terkena musibah kecelakaan, jadinya Ibu tunggu sampai satu bulan," ujar wanita berdaster tersebut.


"Dia ada di mana, sih? Kok nggak pulang-pulang? Apa dia terlibat masalah?" Wanita pemilik rumah petak tersebut tidak bisa menghilangkan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Ah... Dia..."


"Dia lagi dalam masa perawatan, Bu. Jadi tidak bisa ke sini. Dan harus pindah kos agar lebih dekat dengan rumah sakit," ujar Arslan memotong ucapan Kalisa.


"Jago banget ngarangnya. Jangan-jangan dia bayak mengarang juga denganku?" pikir Kalisa sambil melirik tajam ke arah sahabat wanita yang hilang tersebut.


"Enak aja aku jago ngarang. Ini demi keamanan kita berdua," balas Arslan dengan bahasa tubuh.


Kalisa Candra Putri buru-buru membuang muka. Ia terkejut, karena Arslan mampu membaca isi kepalanya.


"Jadi sekarang kamar ini sudah diisi, Bu?" tanya Kalisa.


"Sudah. Tapi sudah pindah lagi. Bahkan sudah berganti tiga orang penyewa."


"Loh, kenapa pada pindah?" tanya Arslan pula.


"Mereka nggak betah. Katanya sering dengar cewek nangis dan minta tolong di sebalik jendela belakang. Pas dilihat nggak ada orang," kata ibu kos.


"Ada-ada saja. Padahal selama tinggal di sini, gak pernah tuh mengalami kejadian horor?" lanjut wanita bertubuh gempal tersebut.


"Jadi semua barang-barangnya, seperti sikat gigi dan sisir ke mana? Sudah dibuang?" tanya perempuan muda itu.


"Ngomong apa sih ni bocah? Ngapain tanya sikat gigi segala?" pikir Arslan bingung.


"Semua barangnya sudah ada di kardus itu. Kalisa memang tidak memiliki banyak barang. Bisa di cek nanti," jawab ibu kos.


"Tapi kalau peralatan mandi ya sudah saya buang, lah. Kan bisa beli lagi," lanjut induk semang Kalisa asli tersebut.


"Ckk... Susah juga ya. Dari mana kita bisa mendapatkan DNA-nya..."


"Apanya yang susah. Kan tinggal be-" Arlsan menghentikan ucapannya. Ia menyadari sesuatu.


"Mendapatkan DNA-nya? Memang apa yang terjadi dengan Kalisa? Bukan hal buruk, kan?" tiba-tiba Arslan bergidik ngeri.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2