Mengubah Takdir: Monster Girl

Mengubah Takdir: Monster Girl
Bab 39 - Dua Puluh


__ADS_3

Maria mondar mandir di dalam kamarnya. Wanita berparas Dewi Yunani itu, bolak balik mengecek layar ponselnya.


"Uh, kenapa aku turun jadi posisi sembilan belas?" gumamnya gelisah.


Hari itu adalah hari pengumuman tes passing grade siswa berprestasi, untuk menentukan siapa yang dapat proyek penelitian bersama universitas dan lembaga penelitian bergengsi di luar negeri.


Bagi yang lulus berbagai tes dan memperoleh posisi dua puluh besar dari seluruh Indonesia, maka mereka berhak menjadi pembicara utama di dalam seminar. Pendapatnya juga sangat di perhitungkan dalam penelitian.


Hal itu merupakan pencapaian tertinggi bagi para mahasiswa sains dan kedokteran, selain memperoleh indeks prestasi kumulatif (IPK) sempurna.


Dan Tuan Evander, ayah dari Maria Zivanya Andhakara, sangat mengharapkan sang anak memperoleh proyek tersebut.


Setiap tahun, Maria selalu memperoleh posisi itu dengan sangat mudah. Meski demikian, Maria selalu gagal berpartisipasi dalam seminar. Ia menjadi pendiam dan demam panggung, ketika berhadapan langsung dengan orang-orang hebat di bidangnya.


Tentu saja alasan sebenarnya bukan karena dia demam panggung, tapi karena semua keberhasilannya tersebut, merupakan buah pikiran dari saudara kembarnya, Kyara Zevania Andhakara.


Kini setelah kehilangan sang adik, Maria kesulitan menyelesaikan akademisnya.


"Ah, masih tetap di posisi sembilan belas. Posisiku aman," gumam Maria kembali mengecek rekapitulasi hasil tes.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


"Nona, ini buah persik dan anggur permintaan Nona." Salah seorang pelayan mengetuk pintu kamar gadis itu.


"Masuk!" ucap Maria.


Sang pelayan pun masuk. Ia lalu meletakkan sepiring buah dan segelas yoghurt plain hangat.


"Lho, aku kan tadi meminta anggur hijau. Bukan anggur hitam. Kalian punya telinga nggak, sih?" hardik Maria dengan kasar.


"Baik, Nona. Segera saya ganti," ucap pelayan ketakutan. Nona muda tersebut tidak segan-segan akan memukuli mereka jika sedang kesal.


"Terus aku sudah bosan minum yoghurt plain. Malam ini aku mau minum yoghurt stroberi segar. Inisiarif dikit, kek. Masa gitu aja gak paham," omel Maria.


Setelah sang pelayan pergi, Maria buru-buru kembali mengecek ponselnya.


Tiga menit lagi, rekap nilai dari seluruh Indonesia akan ditutup. Dan hasil diumumkan secara resmi di website khusus, pada pukul 00.01.


"Ternyata nggak sulit juga. Dengan membeli soal tes beserta jawabannya, aku masih bisa unggul dari pada yang lain. Aku hanya sedikit tertinggal di tes praktek dan wawancara," ucap putri sulung dokter Evan itu percaya diri. Ia melihat namanya masih bertahan di urutan ke sembilan belas.


Gadis itu pun bersiap untuk tidur. Ia tidak mempedulikan buah dan minuman yang tadi dipesannya pada sang pelayan.


...🌺🌺🌺...

__ADS_1


Drrrrttt... Drrrrtttt... Drrrttt...


Smartphone tipe terbaru itu berdering berkali-kali.


"Ugh, sialan! Siapa sih pagi-pagi gini menelepon?" gerutu gadis itu.


Maria terbelalak melihat nama yang tertera di layar HPnya. Tapi kemudian Maria sedikit tersenyum.


"Pasti Papa hanya ingin mengucapkan selamat," pikirnya.


"Halo?"


"Maria!"


Gadis itu hampir saja melemparkan HPnya, mendengar bentakan dari sang ayah.


"Anak sialan! Kau pikir Papamu ini bercanda tentang ancaman itu? Apa saja yang sudah kau lakukam selama ini? Otakmu benar-benar kosong!" marah Evander.


Maria bingung, "Apa yang terjadi?" pikirnya.


"Coba buka website itu. Lalu kemasi barangmu dan angkat kaki dari rumah," ucap Evander tak main-main.

__ADS_1


__ADS_2