Mengubah Takdir: Monster Girl

Mengubah Takdir: Monster Girl
Bab 32 - Target


__ADS_3

"Halo, Pa?"


"Apa saja yang kau lakukan di sana, Maria? Papa dengar IPK-mu semester ini terjun bebas." Tuan Evander menghujani putrinya dengan omelan.


IPK: Indeks prestasi kumulatif, rata-rata nilai di kuliah setiap semesternya.


"Eerrrgghh! Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi mata kuliah sialan dan dosen-dosen kolot itu membuat semuanya terhambat," bantah Maria.


"Alasan. Dasar anak b*d0h! Memang rupanya kau nggak bisa apa-apa tanpa adikmu itu," ucap Evander.


"Kenapa Papa selalu membandingkan aku dengan dia, sih? Padahal aku..."


"Ya, kau lebih cantik darinya. Tapi kelebihanmu hanya itu. Isi kepalamu tidak lebih besar dari pada sebutir kacang. Bagaimana kau mau meneruskan bisnis rumah sakit yang sedang kita bangun?" kata Evander.


Prang!!!


Maria melemparkan botol parfum mahal yang sedang dipegangnya, hingga pecah berkeling-keping.


"Memangnya sejak kapan aku mau terjun ke bidang itu? Aku lebih suka dunia fashion!" teriak Maria histeris..


Para pelayan yang berada di luar kamar, bisa mendengar jeritannya dengan sangat jelas.


"Memang kau sama sekali nggak bisa diharapkan. Kau bukan apa-apa tanpa adikmu itu. Kenapa kau harus membunuhnya?" bentak Evander.


"Jadi Papa menyalahkanku atas lenyapnya Kyara? Kalau begitu kenapa Papa dan Mama ikut membantu?" balas Maria dengan suara lebih tinggi dari sang ayah.


"Aku tidak mau, berita kecelakaan dan pembunuhan itu menghancurkan semua reputasi yang kubangun sejak lama," jawab Evander datar, tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Jadi Papa hanya memandangku sebagai aset? Dan kalau sudah tidak diperlukan lagi, aku dianggap beban?" ucap Maria menahan emosi yang hampir meledak.

__ADS_1


"Bukankah seharusnya begitu? Anak adalah aset orang tuanya di masa depan," jawwb Evander.


Grrtttt... Maria mengengalkan kedua tangannya. Kyara sudah tidak ada lagi di sini. Tapi kenapa ia masih belum bisa memperoleh kasih sayang tulus dari orang di sekelilingnya?


"Sudahlah... Minggu depan akan ada tes passing grade di kampus. Papa harap kau bisa masuk, setidaknya ke dua puluh besar. Itu akan menentukan kelasmu di semester mendatang," kata Evander.


"Jika mau gagal, maka siap-siap seluruh aset milikmu akan dicabut dan dibekukan," ancam pria yang berprofesi sebagao dokter bedah tersebut.


"Papa! Itu nggak adil buatku?" teriak Maria kesal.


...🌺🌺🌺...


"Beneran cuma diantar sampai sini?" tanya Restu dengan suara sangat lembut.


"Iya. Sampai di sini saja, Kak," ucap Kalisa sambil mengalihkan pandangan. Ia muak melihat wajah pria yang pura-pura baik tersebut.


"Sudah dekat, kok. Tinggal masuk ke dalam gang, lalu sampai. Tapi jalannya sempit banget, mobil tidak bisa masuk," sahut Kalisa.


"Ah... Begitu..." Restu memperhatikan jalanan yang diterangi oleh cahaya lampu tersebut.


"Nggak usah khawatir, karena jam segini suasana masih ramai. Masih banyak yang jualan dan duduk di depan rumah," kata Kalisa, menghindari Restu untuk mengunjungi rumahnya.


"Justru kakak seharusnya mengkhawatirkan perempuan yang datang ke kantor tadi. Apa da pacar kakak? Dia sampai mengikuti kita ke dalam restoran," ucap Kalisa memasang ekspresi takut di wajahnya.


"Maksudmu Maria?" tanya Restu.


Kalisa mengangguk, seraya menunjukkan foto Maria yang duduk di salah satu sudut Restoran.


"Dasar wanita itu!" gerutu Restu.

__ADS_1


"Aku nggak tahu apa masalah kalian, tetapi hal ini cukup menguntungkanku," ucap Kalisa dalam hati.


...🌺🌺🌺...


"Ah... Rasanya senang banget, bisa membalaskan dendam sama mereka. Tapi aku nggak boleh puas dulu. Ini baru permulaan," batin Kalisa.


Wanita pemilik tinggi badan 170 cm dan berat badan 54 kg itu melalui beberapa pedagang makanan kaki lima.


"Duh, harum banget martabak manisnya. Aku jadi pengen makan," ucap gadis itu dalam hati.


Langkah kakinya semakin melambat, ketika mendekati gerobak martabak.


"Beli nggak, ya? Pengen beli, tapi kata dokter Albert aku nggak boleh makan makanan manis, sampai semua bekas operasi ini menghilang," kesal Kalisa..


"Mau beli martabak, Dek? Ada banyak varian baru, nih," tegur pedangang tersebut.


"Makan satu potong aja gak apa-apa kali, ya? Sisanya bisa untuk dokter Al dan Rara," ucap Kalisa menetapkan pilihan.


Beberapa saat kemudian...


"Dokter... Aku pulang. Ini ada martabak," seru Kalisa dengan riang.


Gubrak! Gubrak!


Terdengar suara ribut dari dalam ruang kerja dokter Albert. Kalisa mendekatinya, lalu membuka pintu.


"Astaga! Dokter?"


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2