
Sudah tiga bulan berlalu, sejak Kyara menghilangkan jejak. Tidak seorang pun yang mengetahui keberadaannya, kecuali dokter Albert.
Kyara berulang kali memasuki masa observasi, sebelum akhirnya siap menggunakan formula hasil dari penelitian.
"Dokter, gawat! Nona sedang dalam masa kritis. Ginjal yang tidak menampung semua obat-obat kimia itu," seru para peneliti.
"Apa kalian bilang? Bukannya kemarin pada saat observasi semuanya lulus uji?" ucap Albert panik.
Dia tidak ingin ucapan dari Mila menjadi kenyataan. Sebelumnya, sudah ada tiga orang yang menjadi korban malpraktek, dan salah dua di antaranya meninggal dunia.
Jika hal itu terjadi lagi, maka lisensi laboratorium ini akan dicabut. Memang, penelelitian mereka sangat berat, karena mengobservasi penyakit-penyakit langka, yang hingga kini belum ada obatnya.
"Aku akan melakukan pertolongan pertama. Kalian coba carilah jurnal yang selama ini ditulis oleh Kyara," perintah Albert.
"Ktara, sadarlah! Kau harus bangkit, dan membalaskan dendam kepada mereka semua," bisik Albert di telinga wanita itu.
Tanda-tanda vital wanita muda itu semakin menurun. Semua tim melakukan segala cara, untuk mempertahankan nyawanya.
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
"Jasad seorang wanita, ditemukan tewas mengenaskan di tengah perkebunan. Diduga, ia menjadi korban perampokan atau pembunuhan. Di sekujur tubuhnya ditemukan luka bekas sayatan."
"Tidak seorangpun warga yang mengenali wanita yang memiliki cacat fisik tersebut. Hasil tes DNA pun tidak sesuai dengan keluarga yang melaporkan kehilangan kerabat mereka."
"Zaman sekarang, kejahatan itu semakin mengerikan, ya. Gampang banget ngambil nyawa orang," celetuk salah seorang pria.
"Eh, iya serem banget," gumam Restu yang juga mendengar berita tersebut.
Entah kenapa pria itu justru berharap, jasad wanita yang ditemukan itu adalah Kyara. "Atau jangan-jangan dia sudah mati sejak lama," ucapnya.
"Restu, kau dipanggil oleh Pak Direktur. Katanya sekretaris baru untukmu telah datang," ucap salah seorang rekan kerja.
"Ah, Restu. Kenalkan, ini sekretaris baru untukmu," kata direktur ketika Restu memasuki ruangan.
Seorang wanita cantik berkulit putih seperti manekin, duduk di hadapan sang direktur. Tubuhnya langsing dan tinggi. Rambutnya yang panjang terurai indah. Wajahnya terlihat masih sangat muda. Lebih pantas jika dikatakan sebagai mahasiswa baru.
"Perkenalkan, nama saya Kalisa Chandra Putri," ucap wanita itu sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Kalisa?" pikiran Restu langsung melayang kepada mantan kekasih pura-puranya.
__ADS_1
"Ah, mana mungkin. Wanita bernama Kalisa kan, tidak hanya satu orang. Lagipula wanita cantik dan muda begini, tidak bisa disamakan dengan wanita buruk rupa itu." Restu mengalami perang batin.
"Pak?"
"Restu?"
Sekretaris baru dan sang direktur, dengan kompak menyadarkan restu dari lamunannya.
"Maaf, saya tidak menyangka jika sekretaris-ku masih sangat muda begini," ucap kepala bagian marketing di retail perusahaan frozen food tersebut.
"Oh iya, saya lupa memberi tahumu. Kalisa ini masih berusia sembilan belas tahun. Walaupun dia hanya lulusan Diploma 1 (D-1) Sekretaris, tetapi kemampuannya tidak perlu diragukan," jelas sang direktur.
"Baiklah, saya percaya, direktur," ucap Restu. "Dan Kalisa, mulai hari ini kamu bekerja denganku," ucap Restu.
"Baik, Pak," ucap Kalisa.
"Jangan panggil Bapak. Usia saya baru dua puluh empat tahun," kata Restu. "Panggil kakak saja," lanjut pria itu.
"Cih, baru kenal aja udah genit. Lihat saja nanti, aku akan membuatmu tergila-gila, sebelum ku hancurkan hidupmu," pikir wanita itu.
__ADS_1
(Bersambung)