
"Apa kau tahu? Dia itu monster. Monster yang mengerikan."
"Tidak ada yang bisa dilakukan, selain berkebun dan membaca."
"Dia juga sangat menjijikkan, dengan kulit kusam seperti sisik ikan."
Setiap ucapan Restu pada kakak kembarnya itu, selalu berputar di telinga Kyara, yang telah resmi berganti nama menjadi Kalisa.
"Kalisa, jadi itu saja yang perlu kau kerjakan hari ini," kata Restu.
Kalisa hanya bengong. Sambil menatap pria berkulit sawo matang itu.
"Kalisa kenapa melamun?" tanya Restu.
"Eh, iya Pak. Maksud saya Kak Restu. Nanti akan saya kerjakan," ucap Kalisa.
"Apa kamu sudah paham semua?" tanya Restu lagi.
"Sudah. Nanti jika ada yang bingung, akan saya tanyakan lagi," kata Kalisa.
"Cieee... Restu. Dapat rezeki nomplok, nih. Dapat sekretaris baru yang bening dan mulus kayak toples kaca," goda rekan-rekan kerjanya di ruangan sebelah.
"Hush, kalian apaan, sih? Nanti dia jadi canggung," kata Restu.
"Halah, paling nanti Lu embat juga. Lumayan, kan? Untuk gantinya Maria," ucap mereka lagi.
"Oh, jadi Restu dan Kak Maria udah pisah? Cepat juga mereka pecah kongsi?" batin Kalisa yang mendengar semua obrolan itu dari ruangannya.
"Apa mungkin sebenarnya aku nggak perlu ikut campur, untuk menghancurkan hidup mereka?" ucap Kalisa dalam hati.
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
Satu minggu sebelum resmi kerja di kantor.
"Selamat ya, Kyara. Operasimu berhasil. Jurnal penelitian yang kamu buat, sangat membantu sekali," ucap Albert.
"Terima kasih, dokter. Jurnal tanpa kerja sama tim yang baik juga akan sia-sia," ucap Kyara.
"Ini identitas baru-mu."
"Kalisa Candra Putri?" ucap Kyara ketika membaca dokumen yang diberikan Albert barusan. "Kok kita jadi kayak kakak adek?"
"Kakak adek?" Albert mengerutkan keningnya.
"Iya. Albert Candra Putra, Kalisa Candra Putri," jelas Kyara sambil tertawa.
"Ehem! Maaf, sebenarnya aku tidak bisa memikirkan banyak nama yang bagus untukmu. Seharusnya aku bertanya pendapatmu dulu ya, sebelum membuat dokumen," sesal Albert.
"Ini juga bagus, kok. Terima kasih, dokter," Kyara tersenyum riang.
"Siap, dokter."
"Ah, satu lagi. Mungkin ini terdengar menggurui. Tapi aku ingin, kamu tetaplah jadi orang yang sama seperti dulu. Peduli dengan lingkunganmu, dan jadi orang rendah hati," pesan Albert pada wanita cantik di hadapannya.
"Karena yang pantas di sebut monster hanyalah orang-orang yang tidak memiliki hati nurani, bukan yang memiliki kekurangan fisik," lanjut dokter muda tersebut.
"Baik, dokter. Akan aku ingat pesanmu," kata Kalisa.
"Nah sekarang, apa benar tujuanmu adalah perusahaan itu? Kenapa tidak bekerja di perusahaan besar lainnya saja? Kamu cantik dan berbakat," ujar Albert.
"Terima kasih karena sudah menyebutku cantik. Tapi aku memiliki misi penting di sana. Dokter pasti bisa menebaknya," ucap Kalisa dengan mata berapi-api.
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
"Kak, ini semua surat sudah saya pisahkan sesuai prioritas kepentingannya. Dan ini jadwal kita minggu ini," kata Kalisa memberikan laporan pada atasannya.
"Wah, sudah selesai semua? Cepet banget?" sahut Restu sambil mengecek hasil kerja sekretaris barunya.
"Ternyata rapi banget hasil kerjanya. Dia cewek cerdas," kata Restu dalam hati
"Nanti setelah makan siang, kamu siap-siap ikut meeting di luar, ya," ajak Restu.
"Meeting? Saya ikut juga, Kak?"
"Iya. Nanti kita pergi dengan beberapa tim lainnya. Jadi siapkan dirimu," ucap Restu. "Oh iya, kamu makan siang di mana? Mau bareng?"
"Maaf, Kak. Hari ini saya bawa bekal. Karena masih belum tahu situasi kantor seperti apa," tolak Kalisa dengan halus.
"Hmm... Baiklah. Kita bertemu lagi pukul satu," ucap Restu.
Pukul satu siang, tim marketing dan tim perencanaan, sedang bersiap untuk pergi meeting di luar.
"Restu, kamu mau ke mana? Bisa kita ngobrol sebentar?"
"Nggak bisa, Maria. Aku harus pergi meeting penting," tolak Restu.
"Itu alasanmu saja, kan? Setiap aku datang, kamu selalu sibuk meeting," omel Maria.
"Aku nggak bohong. Ini sudah mau pergi," sahut Restu. "Kalisa, ayo kita pergi. Mobil sudah siap, kan?"
Maria terbelalak melihat wanita cantik yang muncul dari dalam ruang mantan kekasihnya.
"Dia siapa?"
(Bersambung)
__ADS_1