Mengubah Takdir: Monster Girl

Mengubah Takdir: Monster Girl
Bab 48 - Palsu


__ADS_3

"Duh, aku mau tidur di mana malam ini? Kenapa papa mengambil semua asetku, sih? Padahal aku sudah susah payah merebutnya dari monster itu," ujar Maria.


Wanita bermata biru itu duduk termenung di bawah sebuah pohon di taman kota. Ini adalah tempat yang sangat jarang ia datangi, bahkan hampir nggak pernah.


Tetapi kali ini berbeda. Dia sudah berkeliling ke tempat semua saudaranya, tetapi tidak ada yang mau menampungnya.


"Gila! Aku nggak mau jadi gelandangan," pikir Maria.


Tuuut...


"Ha.."


"Halo, Pa. Papa beneran mau bikin aku terlantar kayak gini? Kalau aku diganggu orang jahat gimana? Papa juga yang rugi," ucap Maria.


"Papa masih memberimu kesempatan untuk memperoleh asetmu kembali. Perbaikilah nilaimu di ujian tengah semester nanti," kata Evander tegas.


"Tapi itu kan masih tiga bulan lagi? Gimana aku bisa bertahan selama tiga bulan itu?" kata Maria berupaya membujuk sang ayah.


"Papa sudah mengirimkan uang lima puluh juta untuk biaya hidupmu selama tiga bulan. Nanti Raffles akan mengantar buku rekening dan kartu atmnya padamu," kata Evander lagi.


"Lima puluh juta? Yang benar aja? Aku mau makan apa selama tiga bulan dengan uang itu? Lalu rumah untuk tempat tinggalku? Make up dan transportasiku?" protes Maria.


"Papa rasa itu cukup. Banyak orang di luar sana yang hanya memiliki gaji di bawah standar upah minimum, dan kebutuhannya tetap terpenuhi." Evander tidak berubah pikiran untuk menambah uang saku sang anak.


"Kamu hanya perlu mengatur keuangan itu sebaik mungkin," lanjut dokter ahli bedah tersebut.

__ADS_1


"Pa, aku..."


Tluk! Evander menutup teleponnya.


"Arrghhh... bisa gila aku!" jerit Maria frustrasi, membuat para pengunjung di taman itu menoleh kepadanya.


...***...


"Kalisa, gaji pertamamu sudah ditransfer oleh tim keuangan, ya. Kamu yakin mau resign?" ucap Restu ketika mereka selesai rapat bulanan.


"Iya, Kak. Aku mau fokus sekolah kedokteran," ucap Kalisa.


"Wah, bagus deh. Kalau aku sakit, besok bisa berobat sama kamu aja. Dokter cantik gini pasti pasiennya rame," canda Restu.


Gedubrak! Pintu ruang tim marketing itu dibuka seseorang dengan kasar.


"Yakin alasan kamu mau keluar dari sini karena sekolah kedokteran? Bukan karena ijazah kamu itu palsu?" Maria yang baru saja datang, langsung melabrak Kalisa.


"Maria! Jangan seenaknya kamu masuk ke sini. Ini bukan kantor kamu! Memangnya kamu nggak punya etika?" tegur Restu.


Beberapa petugas keamanan juga turut datang untuk mengamankan situasi.


"Biarin aja. Toh aku ke sini cuma mau membantu kantor ini aja. Aku sudah selidiki semuanya. Ijazah Diploma Satu sekretaris dia itu palsu. Nggak ada satu pun mahasiswi seangkatan yang mengenalnya." Maria membeberkan semua kedok Kalisa.


"Jangan-jangan dia masuk kedokteran juga cuma menggunakan ijazah palsu. Apa kecantikannya juga palsu?" lanjut Maria masih penuh emosi.

__ADS_1


Kalisa yang mendengarkan itu semua, hanya duduk santai sambil tersenyum tipis. Dia tidak terpengaruh sama sekali.


"Kenapa kamu sampai menyelidiki latar belakang dia? Terus apa masalahnya kalau ijazah dia palsu? Toh hasil kerja dia selama ini bagus. Performa perusahaan kami juga meningkat pesat sejak ada dia. Artinya dia bekerja dengan sangat baik."


Tidak disangka, Restu justru membela Kalisa.


"Aku dengar kau hampir dipecat gara-gara salah makan, dan membuat OCD direktur perusahaan lain kambuh." Mantan kekasih Restu itu terus saja berbicara meski sudah dilarang.


"Sampai sekarang pelaku dari yang menentukan menu itu masih belum ketahuan, kan? Apa kamu nggak curiga? Tapi kenapa kamu terus membelanya?" Maria terus mengkonfrontasi Restu agar mencurigai Kalisa.


Kalisa yang mendengarkan semua itu menyeringai tipis. Tanpa campur tangan darinya, pasangan toksik itu terus bertengkar. Kalisa tak perlu susah payah mengeluarkan keringat lagi untuk mengancurkan hubungan mereka berdua


"Memangnya kamu punya bukti siapa yang melakukannya? Bikin malu aja!" bentak Restu.


"Oh, gimana rasa kue a pem miliknya? Enak?" sindir Maria sambil melirik tajam ke arah Kalisa.


"Jangan sembarangan kamu! Meskipun aku tertarik padanya, aku tidak akan sembarangan menyentuhnya. Aku nggak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti pada dirimu ketika kelulusan SMA dulu," bisik Restu.


Deg! Jantung Kalisa berdebar kencang.


"Mereka sudah 'melakukannya' ketika kelulusan SMA? Itu kan saat Restu memintaku untuk jadi pacarnya?"


Kalisa bisa merasakan nyeri yang luar di jantungnya. Ia tidak menyangka, jika Maria dan Restu sudah mengkhianatinya begitu lama.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2