
"Dokter, bolehkah aku meminjam sebuah sarung?" pinta Kalisa kemudian.
"Ah, maaf. Rupanya aku nggak peka," kata Albert menepuk jidatnya.
Pria itu buru-buru keluar dari ruang kerjanya dan mencari sesuatu untuk Kalisa.
Delapan menit kemudian...
"Aku nggak menemukan sarung, selain sarung sholatku. Jadi kau gunakan ini saja, ya," kata Albert sembari memberikan selembar kain putih.
"Ini sprei atau selimut?" pikir Kalisa. Tapi wanita itu nggak banyak protes. Dia segera berpindah ruangan, lalu membuka gaun dan menggantinya dengan lembaran kain tersebut.
"Apa kau ada keluhan saat buang air kecil atau berjalan jauh?" tanya Albert sambil menjalankan sebuah sensor di sepanjang tulang punggung pasien spesialnya.
"Nggak ada. Semuanya normal. Bahkan lebih baik dibandingkan aku memiliki satu ginjal dulu," kata Kalisa.
"Baguslah. Jarang sekali ada yang menerima transplantasi ginjal, setelah mengeluarkannya. Aku cemas akan menimbulkan komplikasi," kata Albert.
"Baiklah, dokter."
"Lalu, kau nggak lupa minum obat penekan sindrom, kan?" tanya Albert lagi.
"Anda tahu, kan? Aku orang paling rajin melakukan hal itu. Termasuk membuat laporannya dalam bentuk jurnal," kata Kalisa.
"Benar juga. Aku nggak pernah telat menerima jurnal harian darimu. Itu sangat membantu untuk penelitian kita," kata Albert. "Tetapi kita besok harus tetap memeriksanya menggunakan city scan di lab," lanjutnya.
"Tapi kenapa sindrommu tiba-tiba muncul lagi, ya? Seakan-akan ada komponen biokimia yang berubah di dalam tubuhmu," ucap sang dokter.
__ADS_1
"Aku juga penasaran. Rasanya aku sudah menjauh dari semua pantangan yang dokter bilang," kata Kalisa. "Lalu, bagaimana dengan implan tulangku?"
Wanita itu memang menerima implan tulang di beberapa bagian tubuhnya, untuk memperbaiki struktur tulangnya yang cacat sejak bayi, dan menambah tinggi badan.
"Dari hasil sementara, tidak ada masalah. Melihatmu bebas berjalan tanpa ada keluhan, artinya semuanya lancar," kata Albert seraya menelusuri punggung gadis itu dengan jemarinya.
"Syukurlah," gumam Kyara sedikit menggeliat.
"Tetapi aku penasaran, gimana dengan hasil tes kedokteran itu?" tanya Albert.
Kali ini dokter muda itu mengoleskan obat ke bekas luka operasi yang hampir ada di sekujur tubuh gadis cantik itu. Menjadi cantik memang tidak instan. Semuanya butuh proses.
"Sempurna," sahut Kalisa bangga. "Aku berhasil lolos ujian masuk universitas, dan menempati posisi pertama sebagai kandidat peserta seminar internasional. Aku mendapatkan beasiswa penuh," lanjutnya.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Albert turut senang.
Grep! Albert menggenggang erat helaian kain putih tersebut. Giginya bergemeretak.
"Kalisa, aku sudah lihat banyak monster si hadapanku. Mulai dari ibuku, dokter Mila, para perawat di klinik dan lainnya," ucap Albert lirih.
"Aku nggak mau, kamu kamu juga seperti itu. Cukup tampilan fisikmu saja yang berubah. Hatimu jangan," pinta lelaki itu.
Kalisa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Hati kecilnya juga memiliki pendapat yang sama seperti sang dokter.
Tetapi rasa sakit karena dikhianatinya begitu besar, Kalisa menutup mata hatinya untuk membuka pintu maaf. Mereka harus merasakan sakit yang setimpal, seperti yang mereka buat padanya dulu.
"Kenapa dokter terus melarangku? Padahal itu satu-satunya hal yang membuatku senang," bisik Kalisa.
__ADS_1
"Aku menyukai sifatmu yang penyayang dan penolong itu."
Deg! Jawaban Albert mampu membuat jantung Kalisa berdentang-dentung, bagai bedug buka puasa.
"Maksud dokter?"
"Kalisa, aku nggak melarangmu menggapai impian. Menuntaskan pendidikanmu di bidang yang kau sukai. Bahkan aku sangat mendukung hal itu," kata Albert.
"Tapi apakah kamu harus membalaskan dendam pada mereka seperti yang mau rencanakan? Itu akan menjadi bumerang bagimu nanti," lanjut pria itu.
"Tapi dokter, Anda tahu kan gimana rasanya sakit hati dikhianati oleh keluarga itu?" ucap Kalisa.
"Aku tahu. Tapi dengan menunjukkan prestasimu saja sudah cukup, kan? Aku juga akan membantu mengungkap kematian Kalisa yang asli," ujar Albert.
"Maaf dokter, aku nggak bisa memenuhi ekspektasimu," ucap Kalisa dengan tegas.
Albert terdiam cukup lama. Suasana kembali hening.
"Baiklah jika itu keputusanmu. Jika kamu kesulitan, jangan ragu berlari kepadaku," ucap Albert kemudian.
"Terima kasih.
"Pakailah gaunmu kembali. Aku tak tahan melihatnya," kata Albert lagi.
"Ha? Aku nggak salah dengar?" batin Kalisa dengan perasaan bercampur aduk.
(Bersambung)
__ADS_1