Mengubah Takdir: Monster Girl

Mengubah Takdir: Monster Girl
Bab 40 - Kedokteran


__ADS_3

Cring!


"Selamat pa..." Kalisa menghentikan kalimatnya ketika melihat siapa yang datang. "Oh, Bu Maria. Apa Anda ingin menemui Kak Restu?" ucap sekretaris muda itu.


"Ibu? Siapa yang kau panggil Ibu? Apa aku terlihat sangat tua?" suara wanita bergaun biru itu terdengar sangat tinggi.


"Maaf... Kak," ralat Kalisa.


"Saya ke sini memang mencari Restu."


"Kak Restu lagi di ruang direktur. Anda bisa menunggu di sini sebentar," sahut Kalisa dengan sabar. Ia baru mengetahui sifat asli sang kakak, yang selama ini disembunyikan di balik kecantikannya.


"Tapi aku juga mencarimu. Kalisa, siapa kamu sebenarnya?" selidik Maria.


Kalisa tertegun mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia tidak mudah terpancing.


"Saya Kalisa Candra Putri. Sekretaris baru di sini," ucap Kalisa sambil tersenyum manis.


"Nah, itu maksudku. Kamu kan cuma sekretaris. Tapi ini apa?" Maria menunjukkan tangkapan layar di HPnya. Kalisa pun membacanya.


"Kamu mau ngelawak? Ngapain mendaftar di jurusan kedokteran? Memangnya otak kamu mampu?" ucap Maria tanpa memfilter kalimatnya.


"Kayaknya dari hasil tes itu, Anda sudah tahu, deh. Gimana kemampuan saya," balas Kalisa.


"Apa? Mulutmu itu gak bisa bicara sopan, ya?" Maria merasa tersinggung. Hembusan napasnya terasa berat dan terdengar jelas.


"Siapa yang kau bayar dengan tubuhmu ini, sampai mereka memberikan posisi yang bagus untukmu?" tuduh putri sulung Evander Andhakara tersebut.

__ADS_1


"Aku pernah membaca di suatu tempat. Jika ada yang menuduh di luar pemikiran kita, artinya dia yang lebih dulu berbuat seperti itu," kata Kalisa.


"Maksudmu apa?"


"Anda bisa melihatnya nanti. Apakah aku lulus karena bantuan orang dalam? Atau murni kemampuanku sendiri," ucap Kalisa.


"Kau...! Siapa sih orang tuamu? Kenapa mereka nggak bisa mendidikmu dengan baik? Pasti mereka miskin nggak sekolah, ya?" sindir Maria.


Kalisa tersenyum tipis, "Orang tuaku, orang tuamu juga," batinnya.


"Kamu siapa, berani mengomentari orang tuaku?" balas Kalisa kemudian. "Apa Anda pikir, sikap Anda sudah sopan? Sejak kita bertemu, Anda selalu bersuara tinggi pada saya," ucap Kalisa.


"Anak ini...!" Maria melayangkan tangannya ke pipi Kalisa.


Grep! "Hentikan, Maria. Kau semakin lama terlihat seperti monster," seru Restu sambil menahan lengan Maria. Kalisa pun selamat dari tamparan wanita itu.


"Oh, jadi aku cantik?" gumam Kalisa sambil tersenyum. Maria mendelik ke arahnya.


"Maria, bukan begitu maksudmu. Tapi suaramu sudah menarik perhatian seisi kantor ini. Apa kau nggak malu?" ucap Restu sambil menunjuk ke balik bilik kerjanya.


Beberapa pasang mata menatap ke arah mereka sambil berbisik.


"Apa kau tahu masalah yang dibikin anak ini? Dia itu sudah membuatku terusir dari rumah," kata Maria. "Sekretaris rendahan saja sok-sokan mau kuliah kedokteran?" cibir gadis kaya raya tersebut.


"Kuliah kedokteran?" gumam Restu seraya memutar bola matanya ke arah Kalisa.


"Kak Maria di usir dari rumah?" pikir Kalisa pula.

__ADS_1


...🌺🌺🌺...


Pagi hari, beberapa jam sebelum Maria ke kantor Restu.


"Anak sialan! Kau pikir Papamu ini bercanda tentang ancaman itu? Apa saja yang sudah kau lakukam selama ini? Otakmu benar-benar kosong!" marah Evander.


Maria bingung, "Apa yang terjadi?" pikirnya.


"Coba buka website itu. Lalu kemasi barangmu dan angkat kaki dari rumah," ucap Evander tak main-main.


Maria yang kebingungan pun mengikuti permintaan ayahnya, membuka laman internet yang ia maksud.


"Kenapa urutan ke sembilan belas diisi oleh Hanum Saheera dari Aceh? Lalu di mana namaku?" batin Maria dengan tangan gemetar.


Gadis itu menemukan namanya di posisi ke dua puluh satu.


"Hanum Sialan! Aku pasti akan menemukan bocah itu dan menghabisinya," gerutu Kalisa.


Tapi wanita cantik itu masih penasaran. Kalau hanya karena Hanum, seharusnya ia masih menduduki posisi dua puluh. Lalu siapa penyebab utamanya?


Maria menggigit bibir, ketika melihat nama Kalisa Candra Putri di posisi nomor satu. Dan yang lebih menyakitkan lagi, ia masih menyandang gelar calon mahasiswa kedokteran. Bukan mahasiswa tingkat dua atau tiga seperti yang lainnya.


"Kalisa? Kenapa belakangan ini aku terus menerus mendengar nama ini, sih?" gerutu Maria membanting HP mahalnya.


"Maria, dengarkan Papa. Kau harus segera angkat kaki dari rumah hari ini juga. Para pelayan sudah memberekan semua barang-barangmu. Lalu rekeningmu juga Papa tutup," ucap dokter ahli bedah tersebut pada sang putri.


"Nggak! Ini rumahku. Aku bersusah payah mendapatkannya, sampai harus menyingkirkan bocah monster itu!" pekik Maria tak terkendali.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2