
"Kalisa Candra Putri. Kalau kata pihak universitas tempat dia belajar, dia lulus tahun lalu dengan predikat baik."
"Tetapi saat bertanya pada teman-teman satu angkatannya, kenapa tidak ada yang mengenalnya, ya?"
"Ini aneh. Memangnya selama kuliah dia mengikuti kelas online terus?"
Maria yang berusaha mencari latar belakang Kalisa menjadi pusing sendiri. Niatnya ingin menyingkirkan gadis itu, sepertinya harus tertunda untuk beberapa waktu.
"Hei!" Seseorang menepuk pundak Maria dengan cukup keras.
"Anggi? Ya ampun, bikin kaget aja," seru Maria, sambil mengusap dadanya yang berdetak kencang.
"Dari tadi kupanggil, pikiranmu ke mana, sih?" ujar Anggi sambil memanyunkan bibirnya.
"Ah, nggak ada, kok."
"Masa, sih? Nggak kayak kamu biasanya. Btw mobil kamu di parkir di mana? Kok nggak kelihatan di parkiran?" Anggi menghujani Maria dengan rentetan pertanyaan.
"Mo-mobilku?" Raut wajah Maria langsung berubah. "Aku tadi di antar supir, karena mobil mau di servis," lanjutnya.
Anggi mencibirkan bibirnya, sambil membuang muka. Ia tahu Maria berbohong. Berita tentang aset Maria yang disita sang ayah, sudah tersebar di kalangan mahasiswa kedokteran.
__ADS_1
Meski demikian, mereka masih pura-pura tidak tahu. Ini kesempatan mereka untuk menjatuhkan Maria, yang tingkat kesombongannya menembus langit ke tujuh.
"Anggi, nanti malam aku boleh nginap di rumahmu, nggak? Aku bosen sendirian terus, sejak mama papa pergi," kata Maria mencoba peruntungan.
Gadis manja itu nggak mau tidur di sebuah kos yang sempit dan murah lagi seperti tadi malam.
"Aku senang banget kamu menginap di tempatku," sahut Anggi. Mata Maria berbinar mendengar jawabannya.
"Tapi sayang banget, pacarku lagi ada di sini. Dia tinggal bersamaku selama beberapa minggu," lanjut putri gubernur itu lagi.
"Pacar? Sejak kapan Anggi diizinkan tinggal bareng pacar?" pikir Maria kesal. " Eh, bukan. Anggi kan sudah putus dengan pacarnya?"
Seketika jarak batin antara kedua sahabat itu kian menjauh, meski pun keduanya jalan berdampingan.
"Nyonya Rhea, kenapa Anda meneleponku? Ini masih jam kerjaku."
"Dokter Juandi, kenapa nilai anakku bisa jatuh total? Dan kenapa ia tergeser dari forum seminar internasional?" tanya Rhea tanpa basa basi.
"Soal itu? Tanpa kuberi tahu, seharusnya Anda lebih dulu oaham, kan? Anak Anda tidak memiliki kemampuan di bidang ini. Aku lelah terus menerus mem-backup-nya," jawab Dokter Juandi dengan santai.
"Tapi selama ini lancar-lancar saja. Kenapa sekarang tiba-tiba begini? Berapa yang Anda butuhkan?" ucap Rhea terus mendesak.
__ADS_1
"Ini bukan hanya masalah nominal, Nyonya. Tetapi juga masalah sosial. Sebagai psikolog, Anda pasti lebih paham hal ini, kan?" sahut Dokter Juandi terus mengelak.
"Aku tidak..."
"Sebagian besar dosen dan dokter sudah tahu bagaimana reputasi anak Anda. Apa yang akan terjadi jika masalah ini terus berlanjut?" Dokter Juandi membalikkan pertanyaan pada ibunda Maria tersebut.
"Kalau pun Anda bisa menyuap semua orang tersebut, gimana nantinya ketika ia sudah menjadi dokter beneran? Apa Anda juga bisa menutup mulut jika terjadi malpraktek?" lanjut dokter itu lagi.
"Ternyata seperti sikapmu, setelah menerima puluhan hektar tanah dan empat wanita simpanan, ya?" kata Rhea dengan nada kesal.
"Huh, yang Anda berikan itu masih belum ada apa-apanya, jika dibandingkan dengan resiko pekerjaan yang aku lakukan. Di sini juga sempat ada tikus kecil, yang mencoba buka dokumenku," kata Dokter Juandi sembari mengecek jadwal berikutnya.
"Aku nggak akan tinggal diam, jika Anda terus begini, dokter," ujar Rhe mulai mengancam.
"Apa yang bisa Anda lakukan Nyonya Psikolog? Jika Anda membongkar semuanya, sama dengan menggali kuburan Anda sendiri. Benar, kan?"
Klap! Tuuuut... Tuuut...
Rhea memutuskan sambungan telepon tanpa aba-aba.
"Huh, dia pikir bisa selalu mengatur-ngatur hidupku?" gumam dokter Juandi sambil tertawa kecil. "Dia tidak tahu, jika sang putri saat ini menjadi 'badut' di kalangan mahasiswa kedokteran."
__ADS_1
"Tapi aku menjadi penasaran, ke mana perginya office girl monster yang waktu itu, ya? Aku yakin sekali dia memperhatikan dokumen kematian milik Kalisa. Hanya orang tertentu yang memahami makna di balik dokumen itu," pikir dokter Juandi.
(Bersambung)