
Di sini nama yang menandatangi tanda jual belinya... Kya... Kyara Zevania Andhakara?" jerit Maria ketika mengetahui kenyataannya.
Semula ia tidak membaca kuitansi jual beli tersebut. Hatinya langsung emosi ketika melihat seluruh asetnya telah menjadi milik orang lain.
Evander menyeringai tajam. Matanya menatap ganas perempuan muda di balik dinding kaca tersebut.
"Boleh saya lihat kartu identitasmu?" ucap Evan setelah selesai menelepon sang putri.
"Baik." Tanpa gentar, Kyara pun mengikuti perintah pria tersebut.
Seluruh tubuh Evan bergetar, ketika melihat identitas yang tertera di sana, "Kamu siapa?" ujarnya.
"Menurut Anda, dokter?" Kyara masih memasang ekspresi datar tanpa rasa bersalah.
"Kenapa kau bisa muncul di sini? Kau palsu. Siapa kau sebenarnya?" kata Evan.
"Papa pikir aku sudah mati? Atau menjadi orang gila di luar sana?" ucap Kyara dengan mata menyala.
Beberapa orang di ruangan tersebut tersentak kaget. Mereka tidak ada yang menyangka, jika Evan memiliki anak selain Maria.
"K-kau? Penipu! Putriku sudah mati. Keamanan, tangkap dia," seru Evan.
"Papa lupa, kalau profesi Papa adalah dokter? Mau menangkapku dan mengirimku ke penjara karena penipuan, itu nggak akan bisa. Karena buktinya ada pada diriku sendiri."
"Maksudmu apa?"
"Papa nggak akan melenyapkanku untuk kedua kalinya, kan? Aku anak papa dan mama yang telah dibuang Aku adalah perempuan monster yang sedari dulu kalian benci," Kyara mengungkapkan segalanya di ruangan itu.
"Aku memiliki bukti penting, yang menujukkan kalau aku adalah Kyara Zevania Andhakara. Aku memiliki DNA darimu, Pa," kata Kyara.
Tentu saja Evan sangat terpukul dengan pengakuan Kyara tersebut. Terlebih, wanita itu melakukannya di hadapan banyak orang.
Tapi yang paling membuatnya khawatir adalah, kemunculan putri kecilnya tersebut, sama dengan menggali kejahatan yang telah lama dikuburnya.
Bruk! Evan terduduk di tengah-tengah ruangan itu. Napasnya terengah-engah. Kyara sempat merasakan iba melihatnya. Pertama kali bertemu sang ayah setelah sekian tahun, ia justru melihat pria itu merintih kesakitan.
Tetapi mengingat kembali kejahatan yang dilakukan seluruh keluarga padanya, rasa ibanya kembali luntur. Mereka semua harus mendapatkan balasan yang setimpal.
"Kyara, kita bisa selesaikan semua ini secara kekeluargaan, kan?" bisik Evander dengan suara tersendat-sendat. Rasa malunya sudah tidak tertahankan lagi.
"Bisa saja. Tetapi sayangnya semua sudah terlambat." Bulir air mata membasahi pipi wanita cantik tersebut.
"Tapi, Nak. Papa akan perbaiki semuanya. Papa janji," bujuk Evan.
"Apa yang mau Papa perbaiki? Hidupku?" ujar Kyara dengan lantang. "Hidupku sudah jauh lebih baik sekarang. Aku berjuang seorang diri tanpa keluarga, untuk mencapai posisi ini," lanjutnya.
Wajah Evander sangat muram. Ia tak tahu bagaimana kehidupan sang putri bungsu, setelah mereka membuangnya dahulu.
Telepon pintar Evander kembali berbunyi. Kali ini panggilan masuk dari Rhea.
"Ya, sayang?"
__ADS_1
"Evan, makam Kyara dibongkar. Dokter Juandi dan Dokter Loui telah ditangkap," seru Rhea dari seberang sana.
Evan hanya menarik napas panjang. Jantungnya berdetak semakin lambat. Ketajaman penglihatannya kian menurun.
"Siapa yang berani melakukannya? Kita harus segera melaporkan hal ini, sayang. Aku udah hubungi pengacara kita," ujar Rhea lagi.
"Biarkan saja. Pelakunya sudah ada di depan mataku saat ini," sahut Evan lemah.
"Apa? Kamu sudah mengetahuinya? Itu lebih bagus lagi. Kita harus.."
"Diam!!! Jangan lanjutkan lagi kejahatan berantai itu! Aku sudah lelah mengikuti keinginan kalian," teriak Evan. Ia pasrah. Mungkin ini adalah akhir dari karirnya. Atau malah akhir dari hidupnya?
"A-apa maksudmu? Kamu kenapa, sayang?" Rhea merendahkan suaranya.
"Datang ke rumah sakit sekarang juga. Jangan angkat telepon dari siapa pun, termasuk Maria," perintah Evan.
"Baiklah," sahut wanita itu.
Lima belas menit kemudian, Rhea telah sampai di rumah sakit tempat suaminya bekerja. Pemandangan yang ia lihat sungguh mengejutkan.
Kedua lengan Evander Andhakara diborgol. Beberapa polisi setempat telah mengamankannya.
"Sayang, kenapa begini?" jerit Rhea.
"Ucapkan salam dulu pada anak kita. Dia pasti sangat merindukanmu," ucap Evan dengan wajah tertunduk.
"Anak kita?" Rhea memutar bola matanya. Ia tidak mendapati Maria di sana. Lalu apa maksud suaminya.
"Apa?" Perempuan cantik setengah baya tersebut, tentu tidak percaya begitu saja.
"Ketika aku kelas empat SD, Mama mengunciku di dalam lemari dengan alasan tidak tahu kalau aku di dalam. Padahal Mama sengaja, agar aku tidak mengganggu acara arisan, kan?"
Rhea terhenyak mendengar pengakuan gadis manis yang memiliki tubuh ideal dan wajah rupawan tersebut.
"Nggak. Ini bohong." Rhea membantahnya mentah-mentah.
"Nggak apa kalau Mama nggak percaya, nanti kita tes DNA saja. Aku yang menyiapkan dananya," ucap Kyara kemudian.
"Huh?"
Pandangan Rhea kabur. Tubuhnya melemah. Bersamaan dengan itu, asisten pribadinya pun memberi kabar, bahwa Maria telah ditangkap.
Makam Kyara yang berisikan jasad Kalisa pun telah dibongkar oleh pihak berwajib. Seluruh beritanya tersebar ke seluruh negeri.
Evander, Rhea, Maria dan semua orang yang telah menolongnya, terancam hukuman penjara seumur hidup, atau hukuman mati.
"Nak, kamu rela melakukan ini pada orang tua dan kakakmu sendiri?" tangis Rhea bersujud di kaki sang putri. Beberapa kali polisi ingin memasang borgol, tetapi ia terus meronta.
"Terus? Yang kalian lakukan dulu padaku apa?" ucap Kyara. Rhea terbungkam mendengar kalimat tersebut.
"Mereka sudah bisa diamankan, Pak," ujar Kyara.
__ADS_1
Sebenarnya beberapa waktu lalu, sebelum datang ke Kanada menemui sang ayah, Kyara telah memaafkan kedua orang tuanya. Ia hanya ingin menunjukkan, bahwa si bungsu dari keluarga Andhakara ini mampu hidup mandiri.
Tetapi kemudian niat itu ia urungkan, demi membalaskan pengorbanan Kalisa. Kalisa yang tidak bersalah, harus mendapatkan keadilan. Meski Kyara tak pernah mengenali Kalisa, tetapi jiwa gadis malang itu sudah bersama Kyara.
"Papa akan terima apa pun keputusan pengadilan, ucap Evan pasrah, sebelum ia naik ke mobil tahanan.
"Sayang!" seru Rhea tak terima.
"Apalagi yang mau lakukan untuk membela diri? Kejahatan kita sudah begitu besar. Hanya dengan cara ini kita bisa menebusnya." Mata dokter itu tampak berkaca-kaca.
Rhea masih terus memberontak. Ia merasa bahwa Kyara adalah anak pembawa sial, meski kini penampilannya telah jauh berubah.
Sayangnya, wanita itu tetap tidak bisa melawan hukum yang berlaku. Mereka harus segera pulang ke Indonesia, untuk mempertanggungjawabkan semuanya.
"Dokter Albert, Arslan, Rara, terima kasih atas bantuan kalian. Tanpa keberadaan kalian, aku tidak akan bisa melalui masalah ini," ucap Kyara dalam hati.
...***...
"Kasus pembunuhan berencana yang melibatkan keluarga Dokter Evander Andhakara, beserta istri dan sang anak, Rhea Alenka Andhakara dan Maria Zephyra Andhakara, telah mencapai akhir kisahnya."
"Setelah masa sidang yang menghabiskan waktu dua tahun, para pelaku yang telah menewaskan Kalisa, akhirnya dijatuhi hukuman."
"Restu dan Maria yang terbukti merencanakan pembunuhan tersebut, dihukum dua puluh tahun penjara."
"Sementara dokter Evander dan Rhea, serta dokter Juandi yang telah menukar jenazah Kalisa dsn memalsukan dokumen, dihukum selama.dua belas tahun penjara."
"Dokter Loui yang..."
"Suster, televisinya dimatikan saja. Saya lagi banyak kerjaan," pinta Kyara.
"Baik, dokter," ujar suster yang mengantarkan daftar pasien.
Kyara mengambil selembar tisu, dan mengusap pipinya yang basah.
Ddrrttt...
"Dokter Albert? Tumben menelepon di jam segini," gumam Kyara.
"Hei, kamu pasti lagi nangis, kan?" ujar Albert.
"Nggak, kok," bantah Kyara.
"Udah, nggak usah bohong. Kami tahu, kok."
"Arslan, Rara, kok ada kalian juga?"
"Karena hari ini kami mau mengajakmu datang ke panti asuhan. Ada yang baru aja naik jabatan,nih," seru Rara sambil menunjuk Arslan.
Arslan mengukir senyum di bibirnya. Ketiga sahabatnya tersebut juga mengembalikan panti asuhan yang telah diobrak-abrik oleh Restu. Bahkan menjadi donatur tetap.
(Tamat)
__ADS_1